
Danzel memilih untuk tak mengangkat telepon dari mommynya. Ia sudah tahu jika wanita yang seharusnya menjadi teman kencannya pasti mengadu pada orang tuanya kalau dia pergi begitu saja.
Pria itu mematikan ponselnya agar tak dihubungi terus oleh sang mommy. Dan lebih baik malam ini tidur di apartemennya saja dibandingkan pulang ke mansion orang tuanya yang sudah pasti akan mendapatkan ceramah selama dua jam seperti biasanya ketika dia mencampakkan partner kencannya.
“Sorry mom, bukannya aku mau kurang ajar, tapi aku sudah menemukan wanita yang aku inginkan,” gumam Danzel sebelum dia larut dalam mimpi indahnya.
Pagi harinya, Danzel terlihat begitu sagar dan lebih berseri dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bahkan dia yang jarang sekali bersenandung kini tengah bersiul seraya kakinya mengayun menuju ruang kerjanya.
“Pagi.” Danzel menyapa setiap karyawan yang berpapasan dengannya.
Dan dari kejauhan terlihat Steve tengah berdiri di samping pintu ruang CEO. Memandangi atasannya tanpa berkedip.
“Apakah Anda baru saja memenangkan casino?” tanya Steve terheran. Sebab ini adalah hal yang langka selama hampir dua tahun atasannya tak terlihat sebahagia ini.
“Ck! Sejak kapan aku bermain casino? Lebih baik uangnya ku gunakan untuk donasi ke orang yang membutuhkan,” balas Danzel. Tangannya hendak meraih handle pintu, tapi sudah dibukakan oleh asistennya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Lalu, kenapa Anda terlihat sangat bahagia?” tanya Steve yang masih penasaran. Ia ikut masuk ke dalam mengekori atasannya.
“Menurutmu karena apa?” Danzel menghempaskan tubuhnya di kursi kerja dan memandang asistennya dengan sorot mata yang berbinar.
Steve terdiam sejenak untuk berpikir. Terakhir atasannya berbunga-bunga seperti itu ketika pertama kali kenal dengan mantan kekasih pria itu. “Jangan bilang kalau Anda sedang jatuh cinta?” tebaknya.
Danzel menaikkan kedua alisnya dan tersenyum secara bersamaan. “Sepertinya iya.”
Tangan Steve menarik kursi di hadapan meja atasannya dan duduk di sana. Dia justru semakin dibuat penasaran dengan sosok wanita yang mampu merobohkan benteng pertahanan hati seorang Danzel Pattinson.
“Gwen Eisten, seorang janda beranak dua, baik hati, sabar, dan keibuan. Pokoknya definisi wanita yang cocok menjadi ibu untuk anak-anakku.” Danzel menjelaskan semua sifat wanita yang memikat hatinya dengan bangga.
Steve melongo mendengar penjelasan atasannya. “Janda? Apa kau yakin dia sudah tak memiliki suami?”
Danzel mengangguk serius. “Tentu saja, semalam aku di rumahnya, dan tak ada lelaki dewasa di sana. Bahkan aku juga sudah menanyakan tentang suaminya.”
__ADS_1
“Lalu, jawaban dia apa?”
“Intinya, aku menyimpulkan dia sudah janda dan seratus persen yakin tak memiliki suami.”
“Bisa jadi Anda salah mengambil kesimpulan,” celetuk Steve. Dan mendapatkan pelototan dari atasannya.
“Steve ... kau meragukan instingku?” tegur Danzel dengan nadanya yang tegas.
“Tidak, Tuan.”
“Good, lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu saja.” Danzel mengusir asistennya. Sebab Steve sudah seperti wartawan saja sedari tadi bertanya seolah tak ada puasnya.
“Baik.” Steve pun meninggalkan atasannya. Ia bergeleng kepala setelah menutup pintu. “Apakah aku harus mencari informasi tentang wanita yang disukai oleh Tuan Danzel?” gumamnya. Dan dia memutuskan untuk mengorek informasi terkait Gwen Eisten. Ia tak ingin atasannya mendapatkan pasangan yang mungkin hanya memanfaatkan kekayaan dan kemampuan pria muda penuh kharisma tersebut.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Danzel. Ia menopang dagu dan tengah memikirkan sebuah rencana. “Aku mencari alasan apa untuk bertemu dengan Gwen hari ini, ya?”
__ADS_1