My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 82


__ADS_3

“Iya, asalkan kau segera mengenalkannya padaku dan daddymu. Kalau tidak, aku sendiri yang akan melihatnya di kantormu!” jawab Mommy Megan. Dia tak sabar ingin melihat seperti apa wanita yang mampu meluluhkan hati putranya yang sudah menolak lima ratus wanita selama dua tahun.


“Oke, besok kita makan malam di hotel bintang lima, aku akan memperkenalkan wanitaku secara resmi pada kalian.” Danzel nampak berbinar wajahnya. Mommynya sudah janji tak akan melukai hati Gwen, jadi dia berani mempertemukan keluarganya dan calonnya. Walaupun sekretarisnya belum resmi membalas cintanya. Yang penting restu orang tuanya saja dulu dia dapatkan.


Danzel pun berjalan menuju kamarnya dengan bersiul. Mommy Megan yang melihat tingkah putra satu-satunya itu bergeleng kepala. “Dia sungguh sedang dimabuk cinta,” gumamnya. Semakin tak sabar menunggu hari esok bertemu calon menantunya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Danzel segera mengambil ponsel untuk menelepon wanitanya. Ingin memberitahukan kalau besok dia ingin mengajak makan malam bersama keluarganya.


Lama sekali panggilan tak diangkat bahkan sampai dia mengulangi menghubungi Gwen.


Sedangkan orang yang ditelepon justru masih berkutat di dapur. Gwen sedang mencuci piring kotor bekas mereka makan.

__ADS_1


Chimera yang melihat ponsel di atas meja terus bergetar pun melirik sekilas. “Nona, Tuan Danzel meneleponmu,” ujarnya sedikit menaikkan nada bicaranya agar keras dan terdengar sampai ke Gwen. Namanya juga biasa hidup di jalan, sehingga belum terbiasa hidup dengan aturan.


“Oke, sebentar.” Gwen menghentikan aktivitasnya sejenak, melepaskan sarung tangan berbahan karet yang melindunginya dari air cucian yang kotor. Mengambil ponselnya untuk segera mengangkat panggilan dari penelepon yang seperti tak sabaran.


“Ha—” Ucapan Gwen yang hendak menyapa Danzel pun terpotong karena orang di seberang telepon sana langsung mencecar dirinya.


“Gwen, kau sedang apa? Lama sekali menjawabnya. Apakah kau baik-baik saja?” Danzel langsung menyerang dengan sederet pertanyaan tanpa jeda.


“What? Mencuci piring?” pekik Danzel seolah tak terima jika wanitanya harus melakukan pekerjaan rumah itu.


“Iya, memangnya kenapa? Apakah ada yang salah? Kenapa kau sangat terkejut?” balas Gwen. Dia menjadi bingung dengan atasannya itu yang responnya sangat berlebihan hanya karena dia membersihkan bekas makan.

__ADS_1


“Di mana Chimera?” tanya Danzel.


“Ada di hadapanku, sedang bermain bersama Aldrich,” jelas Gwen yang pandangannya tertuju pada bodyguard barunya yang tengah bermain kuda-kudaan di mana anak tirinya naik di atas punggung wanita berwajah garang itu.


“Berikan ponselmu padanya!” titah Danzel dengan tegas.


Gwen menjauhkan alat komunikasi yang umurnya sudah tiga tahun itu, bergeleng kepala semakin bingung dengan Danzel. Tapi dia tetap menyodorkan ponsel pada Chimera. “Danzel ingin berbicara denganmu.”


Chimera meraih ponsel tersebut tanpa menurunkan anak kecil yang ada di atas punggungnya. Sebenarnya lututnya sangat lemas, merasa dikerjai oleh Aldrich yang tak mau berhenti bermain dengannya.


“Aldrich, ayo turun. Mainnya besok lagi, kasian aunty Chimera lelah,” bujuk Gwen mengulurkan tangannya untuk menggendong anak tirinya.

__ADS_1


“Yes, Mama.” Aldrich pun menurut. “Aunty, besok kita bermain singa-singaan lagi, ya?” ajaknya pada Chimera. Ternyata bagi bocah itu permainan tadi bukanlah kuda-kudaan, melainkan singa-singaan karena Chimera terus meraung seperti raja hutan yang membuatnya bukan takut tapi seperti dihibur walaupun wajah bodyguard Gwen cukup garang.


__ADS_2