My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 38


__ADS_3

Danzel dan Gwen meninggalkan Aldrich tidur sendirian. Pintunya tak ditutup agar bocah kecil itu saat menangis bisa terdengar sampai keluar.


Gwen sudah duduk di kursi kerjanya, siap untuk menerima pengarahan dari Danzel tentang bagaimana dia harus bekerja di sana.


“Jadi, tugasmu sangat mudah. Kau harus mengatur jadwalku, menerima semua panggilan dari rekan bisnisku hanya di jam kantor saja. Tapi kau tak boleh memberikan nomor ponselmu kepada mereka, komunikasi hanya dilakukan melalui telepon kantor—” Danzel menjelaskan seluruh detail job description sekretaris pribadinya. Ia berdiri di belakang Gwen persis. “Paham?” tanyanya.


“Aku mengerti.” Gwen mengangguk, matanya terus fokus ke arah komputer berlayar lebar dengan logo buah apel yang digigit.


“Good girl.” Danzel mengacak-acak rambut Gwen lagi. Menunggu wanita itu memberikan sebuah respon. Jika tangannya ditepis, maka dia tak akan melakukan hal itu lagi. Namun kalau dibiarkan, maka dia akan menyentuh rambut Gwen lagi.


Ternyata Gwen membiarkan Danzel bermain dengan rambut halus itu. Lagi pula hanya sebagaian kecil dari bagian tubuhnya. Bahkan bukan sesuatu yang sensitif, sehingga dia tak masalah. Itu juga bukan sesuatu yang kurang ajar menurutnya. Justru dia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti hatinya akibat kelembutan pria itu.


“Lalu, apakah aku harus membuat laporan juga?” tanya Gwen untuk memecah rasa canggungnya.

__ADS_1


“Ada. Coba kau pegang mousenya,” pinta Danzel.


“Baik.” Gwen menuruti perintah atasannya itu. “File mana yang harus aku buka?”


“Aku akan tunjukkan.” Danzel mencondongkan tubuhnya agak ke depan, kepalanya menjadi bersebelahan dengan Gwen. Tangannya menyentuh permukaan kulit wanita pujaan hatinya yang tengah memegang mouse. Dia menggerakkan benda itu untuk membuka berbagi macam file.


Jarak Danzel yang begitu dekat, membuat Gwen sampai menahan napasnya. Astaga ... sudah lama dia tak merasakan debaran seperti ini. “Tuan, sebenarnya kau tahu letak filenya atau tidak?” tanyanya yang semakin merasa canggung, tapi Danzel sedari tadi justru membuka dan menutup file terus. Padahal sudah lima belas menit berlalu.


“Maaf, aku sedikit lupa letaknya.” Danzel hanya beralasan saja. Sejujurnya dia tahu betul di mana lokasi file yang akan dia perlihatkan, tapi ya namanya juga sedang modus. Jadi dia perlama saja memegang tangan Gwen yang lembut itu.


Danzel yang melihat mimik wajah Gwen pun melepaskan tangannya. “Apakah sakit? Aku minta maaf, tak bermaksud melukaimu.”


Danzel langsung meraih anggota tubuh Gwen yang tadi sempat sedikit dia tekan. Melihat telapak tangan wanita itu.

__ADS_1


“Tidak, aku tak apa.” Gwen menarik tangannya agar lukanya tak bisa dilihat oleh Danzel.


Tapi sayang, CEO muda itu sudah terlebih dahulu mengetahui ada dua plester yang tertempel di telapak mulus Gwen. Ia tak membiarkan sekretarisnya menarik tangan.


“Apa kau terluka?” tanya Danzel. Ia memberikan usapan lembut di atas plester berwarna putih.


“Sudah sembuh, hanya kecelakaan kecil yang terjadi saat aku bekerja di tempat lama,” jelas Gwen.


Tanpa izin Gwen, Danzel membuka plester tersebut dan terlihat luka yang lumayan besar juga. “Apa kau terkena sesuatu benda panas?” Matanya menatap khawatir wajah cantik Gwen.


Gwen tak menjawab dengan ucapan. Dia membalas dengan sebuah anggukan kepala.


Danzel tak melepaskan tangan kirinya yang memegangi bagian tubuh wanita pujaan hatinya. Ia menggunakan yang sebelah kanan untuk menelepon asistennya. “Bawakan kotak obat ke ruanganku, sekarang!” titahnya.

__ADS_1


...*****...


...Baek kan aku, udah boom up. Tapi bonusnya harus kasih kopi nih. Aku mode malak ini wkwkwk. Yang banyak kopinya, sampe bikin aku kembung pokoknya....


__ADS_2