My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 71


__ADS_3

“Aku mana mungkin mencarikan calon istri Danzel yang kelakuannya buruk seperti dia.” Mommy Megan mencubit gemas perut suaminya. Padahal Daddy Marlin belum tahu rencananya, tapi sudah menghardik dengan sinis. “Dia memang wanita pilihanku, tapi bukan untuk menjadi menantuku,” imbuhnya.


Daddy Marlin menaikkan sebelah alisnya. “Lalu?” tanyanya meminta penjelasan lebih.


“Dengar, aku itu takut jika Danzel sudah tak menyukai wanita sejak kejadian dua tahun lalu. Ditambah anak kita selalu menolak wanita yang aku kenalkan. Makanya, aku sengaja memilih Alcie Glee yang kelakuannya memang sedikit kurang sopan untuk mengejar dan mengganggu Danzel terus agar anak kita buru-buru mencari wanita yang dia inginkan,” jelas Mommy Megan. Ternyata dia juga tak menyukai Alcie Glee si wanita ular itu. Dia juga tahu jika Alcie Glee bukanlah tipe yang disukai Danzel. Saat ia mengancam anaknya harus menikah dengan wanita pilihannya, itu hanyalah sebuah gertakan saja.


“Astaga ... aku sudah berpikiran buruk saja denganmu. Maafkan aku.” Daddy Marlin merasa bersalah karena tadi sudah memarahi istrinya. Dia menarik tangan Mommy Megan untuk dipeluk. “Kau juga tak membicarakan rencana itu denganku, jadinya aku tak tahu maksudmu menempatkan wanita yang bahkan akan ku tolak jika kau bersi keras menikahkannya dengan Danzel. Lain kali diskusikan denganku seperti biasanya,” protesnya.


“Maaf, rencanaku itu sudah lama tercetus tapi kau lama sekali di Paris dan sangat sibuk sampai hanya sedikit waktu kita untuk berbincang.” Mommy Megan kian menghanyutkan dirinya di dada bidang sang suami.


Dan sepasang suami istri itu sampai juga di mansion keluarga Pattinson. Mereka langsung istirahat di kamar sebelum nanti malam Mommy Megan siap untuk menagih janji anaknya.

__ADS_1


Sementara itu, di kantor Patt Group. Danzel sedang disibukkan dengan dokumen yang menumpuk dan Gwen juga tengah menyusun jadwal atasannya selama satu bulan. Sedangkan Aldrich yang selalu ikut bersama mereka tengah dijaga oleh Selena yang sudah dijemput pulang.


Steve mengetuk pintu ruang CEO yang sedari tadi belum memberikan sahutan. Karena terlalu lama menunggu, dia pun membuka saja tanpa izin si pemilik ruangan.


Steve bergeleng kepala saat melihat CEOnya begitu fokus mengecek dokumen sebelum membubuhi tanda tangan. “Pantas saja telinganya jadi tuli,” gumamnya. Kakinya pun mengayun ke depan dan berhenti tepat di hadapan Danzel. “Tuan,” panggilnya.


Danzel menatap tajam pada asistennya itu. “Steve ...!” tegurnya dengan suara lirih namun penuh penekanan. “Kenapa kau menyelonong masuk!” Untung saja dia sedang tak modus dengan Gwen jadi Steve tak mendapatkan amukan dari dirinya. Coba saja asisten Danzel ke dalam ketika CEO muda itu mencuri kesempatan, pasti sudah habis diamuk.


“Benarkah?”


“Ya, mungkin Anda harus menaruh bel rumah sekalian agar bisa terdengar,” cetus Steve memberikan ide gila.

__ADS_1


“Ide bagus, Steve. Sepertinya telingaku menjadi cepat tanggap jika mendengar suara Gwen dan anak-anaknya saja.” Danzel terdengar berbisik menyetujui ide konyol asistennya agar tak terdengar sampai ke sekretarisnya.


Dan Steve hanya bisa bergeleng kepala dengan tingkah CEO muda yang sedang dimabuk cinta itu.


“Ada apa kau mencariku?” tanya Danzel yang mengingat Steve belum mengutarakan tujuan masuk ke ruangannya.


“Nyonya Megan baru saja menelepon saya, Tuan,” ungkap Steve.


...*****...


...Hayo ... siapa yang udah berprasangka buruk sama Mommy Megan nih? Sungkem sana minta maaf karena udah fintes dia yang jelek-jelek wkwkwk...

__ADS_1


__ADS_2