
Gwen berjalan sangat pelan hingga tak mengeluarkan suara. Bibir bawahnya masih digigit karena hatinya merasakan sakit, bukan karena patah hati ditinggalkan Danzel beberapa minggu ini tapi melihat kondisi sang pria yang ternyata jauh lebih frustasi dan terlihat menderita daripada dirinya. Tentu saja membuatnya merasa bersalah.
Gwen menutupi dari belakang tubuh atletis Danzel menggunakan jaket tebal dan duduk di samping pria tersebut. Tentu saja hal itu membuat CEO Patt Group yang sedang patah hati menatap ke arah orang yang baru saja datang.
“Aku berhalusinasi lagi,” gumam Danzel. Bukan sekali ini dia seperti melihat Gwen berada di sekitarnya sehingga tak tahu jika wanita yang sangat dicintai sudah berada di sampingnya.
Danzel memilih untuk mengabaikan Gwen karena menganggap hanya ilusinya saja. Matanya kembali menatap ke depan di mana hamparan salju yang menumpuk dan ada pepohonan tinggi.
Gwen tak kuat menahan air matanya. Danzel sampai menganggapnya tak ada padahal nyata wujudnya berada di sana. “Aku di sini, Danzel, kau tak berhalusinasi,” ucapnya. Dia memeluk lengan Danzel dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu.
__ADS_1
Danzel tertawa terbahak-bahak. “Sekarang halusinasiku sudah semakin liar, aku bisa mendengarkan suaranya.” Hembusan napas frustasi keluar lagi dari bibirnya. “Mungkin aku terlalu merindukannya,” gumamnya sangat lirih.
“Aku juga merindukanmu,” sahut Gwen. Sorot matanya kini terisi oleh wajah Danzel dari samping.
Gwen tak merasakan mual seperti tadi, padahal Danzel sangat bau alkohol. Mungkin karena dia merindukan aroma tubuh pria itu atau anak yang dia kandung memang menyukai apa pun yang ada pada tubuh ayah kandungnya.
“Ya, aku tau. Aku menerima semua pesanmu bahkan yang kau titipkan pada asistenku.” Danzel masih merasa dirinya berbicara sendiri. Efek mabuk akibat minum alkohol terlalu banyak sepertinya membuatnya tak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. “Pergilah! Jangan ganggu pikiranku lagi, kau hanya halusinasiku saja,” usirnya. Tapi Danzel tak mengibaskan tangannya yang masih merasakan ada seseorang yang sedang menyender di bahu dan memeluk lengannya.
Setelah kepergian Gwen, Danzel baru melihat ke sampingnya. Ia terkekeh lucu. “Bodoh sekali aku yang menganggapmu di sini, mana mungkin kau tahu keberadaanku. Kau memang hanya ilusi yang singgah sesaat, ketika ku usir pasti sudah pergi lagi. Apakah kenyataannya juga harus berakhir seperti itu?” gumamnya.
__ADS_1
“Aku nyata, Danzel. Kau tak berhalusinasi. Dan ku harap kita berdua tak berakhir seperti ilusimu jika kau memintaku untuk tetap tinggal.” Gwen kembali duduk di samping Danzel.
Keduanya pun saling pandang hingga tangan Danzel terulur untuk menyentuh wajah cantik Gwen. “Sekarang kau bisa ku sentuh, bukankah mabukku sudah semakin berat?” Sudah tahu mabuk tapi tetap saja dia meraih botol champagne dan meneguk di hadapan wanitanya.
Gwen mencegah tangan Danzel yang hendak menghabiskan cairan beralkohol itu. “Sudah tahu mabuk, tapi kau tetap saja minum,” omelnya.
“Hanya dengan cara seperti ini aku bisa terus melihatmu disaat kita terbentang jarak yang jauh.”
“Minumlah ini agar meredakan mabukmu.” Gwen membantu memasukkan obat ke mulut Danzel dan memberikan gelas berisi air mineral.
__ADS_1
“Kau pasti penjaga rumah ini, maafkan aku karena melihat wajahmu seperti wanita yang aku cintai.” Dia masih belum sadar jika orang di sampingnya adalah Gwen.