
Kendaraan roda empat milik Danzel sudah berhenti tepat di depan pintu masuk lobby Patt Group. CEO perusahaan itu keluar dari mobil saat salah satu satpam membukakan pintu dan menyapanya dengan ramah.
“Bukakan pintu sebelah juga,” titah Danzel agar karyawannya itu memperlakukan Gwen seperti dirinya.
“Baik.” Satpam tersebut hendak melakukan perintah sang atasan. Tapi Gwen sudah terlebih dahulu keluar secara mandiri.
“Tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukan sendiri,” ucap Gwen. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke belakang untuk membukakan pintu anak tirinya.
Dan ketiganya masuk ke dalam bersamaan. Aldrich berjalan di tengah-tengah Danzel dan Gwen. Mereka menjadi sorotan oleh karyawan di sana. Sebab tak biasanya CEO Patt Group membawa pasangan ke kantor.
“Sejak kapan Anda memiliki istri, Tuan?” tanya salah satu karyawan pria yang sedang menunggu lift.
Danzel mengangkat kedua sudut bibirnya untuk menyapa. Mencondongkan kepalanya untuk berbisik di telinga orang tersebut. “Calon, doakan saja, semoga dia mau menikah denganku.”
Karyawan Patt Group itu juga ikut berbisik di telinga Danzel. “Lalu, itu anak siapa?”
“Anaknya, tapi kalau dia menikah denganku, jadi anakku juga.”
__ADS_1
“Oh ... semoga Anda berhasil.”
Kedua pria itu berkomunikasi secara bisik-bisik agar tak dapat didengar oleh Gwen.
“Aku duluan.” Danzel menepuk pundak karyawan yang mengajaknya mengobrol sebelum masuk ke dalam lift khusus CEO. Padahal dia tak mengantri seperti yang lainnya, tapi karena ada yang mengajaknya bicara, jadi dia berhenti sebentar untuk menanggapi.
“Ayo, masuk.” Danzel mengulurkan tangannya kepada Gwen dan Aldrich yang masih berhenti di depan lift.
“Tidak, Tuan. Aku pakai lift karyawan saja,” tolak Gwen. Tak enak jika mengikuti CEO perusahaan sedangkan dia hanya karyawan biasa di sana.
“Sudah, masuklah.” Danzel menuntun Aldrich agar ke dalam. Otomatis Gwen juga ikut.
“Mama ... gendong.” Suara Aldrich memecahkan keheningan di sana.
“Capek, ya?” tanya Gwen dan dijawab anggukan kepala oleh anak tirinya. Dia merendahkan badannya, meraih tubuh mungil itu untuk dia gendong.
“Sama uncle saja, yuk.” Danzel merentangkan tangannya ingin mengambil alih. “Nanti mamamu lelah jika menggendongmu terus,” imbuhnya.
__ADS_1
Aldrich menggelengkan kepala pertanda dia tak mau digendong Danzel.
Pria itu mengulas senyumnya dan mengacak-acak rambut pendek dan halus milik Aldrich. Ia melihat pantulan Gwen dari cermin yang ada di dalam lift. Terlihat wanita itu sangat penyayang. Membuatnya sangat ingin memiliki janda tersebut. Padahal dia hanya salah sangka jika Gwen sudah tak memiliki suami.
“Lift ini bukan khusus CEO saja, tapi semua karyawan yang bekerja di sampingku. Seperti asisten dan sekretarisku. Jadi, jangan sungkan lagi seperti tadi, oke?” Danzel mencoba membuka pembicaraan dengan Gwen agar tak terlalu sunyi dan canggung di sana. Menuju lantai dua puluh ternyata sangat lama, padahal biasanya cepat sekali sebelum ada Gwen dalam hidupnya.
“Ku kira hanya untuk CEO, jadi aku tak enak dengan yang lain,” balas Gwen.
“Tenang, karyawanku semuanya ramah dan baik. Mereka juga sering memakai lift ini jika keadaan darurat,” jelas Danzel.
Gwen hanya menjawab dengan ulasan senyumnya disertai anggukan kepala tanda dia paham.
Ting!
Akhirnya lift berhenti juga di lantai tujuan. Danzel mempersilahkan Gwen keluar terlebih dahulu.
“Mama, mau poop,” rengek Aldrich yang merasakan perutnya mulas. Ternyata dia tak mau digendong oleh Danzel karena ingin membuang kotoran.
__ADS_1
“Tuan Danzel, di mana letak toiletnya? Anakku ingin buang air besar,” tanya Gwen membuat Danzel berhenti melangkah.