My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 139


__ADS_3

Danzel langsung berdiri dari tempat duduk yang tak ada nyaman-nyamannya. Dia sudah cukup mendengarkan jawaban dari Sanchez dan tak ingin mengulik lagi dari pria tersebut. Entahlah, hati dan pikirannya mendadak kacau.


Tanpa berucap sepatah kata pun, Danzel mengayunkan kakinya menuju pintu. Namun terhenti karena Sanchez mengajaknya berbicara lagi.


“Apa kau kekasih Gwen? Orang yang menyebabkan istriku ingin mengajukan gugatan cerai?” tebak Sanchez. Mana mungkin ada orang yang datang mencarinya tanpa ada maksud tertentu.


Danzel tetap diam, dia tak ingin menanggapi. Jika menjawab iya, pastilah dia menjadi perebut istri orang. Tapi jika mengatakan tidak, dia sudah berbohong. Lebih baik melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dan menetralisir adrenalin jantungnya yang mendadak berpacu setelah mendengarkan sebuah kenyataan pahit.


“Ingatlah wahai CEO Patt Group. Sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa memiliki istriku karena aku tak mau menceraikannya!” seru Sanchez. Dia yakin betul jika pria itu adalah kekasih istrinya. Tapi anehnya, kenapa tak memintanya untuk bercerai justru pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau memberikan ancaman padanya.


Danzel berjalan melewati Steve yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Keduanya kembali ke dalam mobil.


Brak!

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Steve melihat sang tuan menutup pintu mobil dengan keras hingga berbunyi. “Tuan, Anda baik-baik saja?” tanyanya saat melihat Tuan Danzel yang langsung memejamkan mata dan bersandar di kursi.


“Apa aku terlihat baik-baik saja?” Danzel menanggapi tanpa membuka matanya, justru semakin ditutupi menggunakan lengannya.


“Tidak. Apa Anda ingin pulang saja?” tawar Steve. Melihat mood tuannya yang kurang bagus, sepertinya lebih baik tak dipaksakan untuk bekerja daripada semua yang dilakukan karyawan akan dianggap salah.


“Kau ada salinan kartu identitas Gwen?” Danzel justru menanggapi dengan sebuah pertanyaan lain.


“Ke Badan Kependudukan sekarang, aku harus meyakinkan sekali lagi!” titah Danzel. Dia masih mencoba ingin berpikiran positif tentang wanitanya. Sebab, ucapan seseorang bisa saja dusta tapi jika sudah menyangkut data yang nyata maka baru bisa percaya seratus persen.


“Baik.” Steve pun mulai melajukan mobil menuju tempat yang diminta atasannya.


“Kirimkan salinan identitas Gwen ke emailku!” perintah Danzel sebelum dia turun dari mobil.

__ADS_1


Steve menurut saja, dia kembali memainkan jari di atas layar ponsel canggihnya. “Sudah, Tuan.”


“Terima kasih.” Danzel langsung turun begitu saja tanpa mengajak Steve. Dia ingin segera mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.


Tapi sebagai asisten, Steve tetap mengekor di belakang sang tuan.


Tak banyak antrian di sana, Danzel langsung mengutarakan maksudnya datang ke sana. “Aku ingin mendaftarkan pernikahan.”


“Boleh saya lihat kartu identitas Anda dan calon istri?” pinta salah satu petugas. Dia harus mengecek terlebih dahulu apakah pasangan yang akan menikah memenuhi syarat atau tidak.


Danzel menunjukkan dua foto kartu identitasnya dan Gwen. “Untuk salinan dokumen aslinya secara fisik aku berikan menyusul, saat ini calon istriku sedang pergi ke luar negeri dan memintaku untuk mendaftarkan terlebih dahulu.” Dia memejamkan mata setelah mengucapkan kebohongan. Rasanya seperti hina sekali mengucapkan sebuah dusta.


Petugas itu mengetik sesuatu di komputer. Dia tak mendaftarkan pernikahan seperti yang diminta oleh Danzel melainkan mengecek kedua nama yang diberikan padanya.

__ADS_1


__ADS_2