My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 89


__ADS_3

Setelah mendapatkan pakaian untuk makan malam, Danzel membawa Gwen beserta dua bocah kecil yang menggemaskan itu ke sebuah salon ternama di sana. CEO muda itu ingin mengajak mereka merawat badan dan berdandan agar terlihat lebih segar.


“Danzel, apakah ini tak berlebihan? Bukankah kita hanya akan makan malam bersama keluargamu?” tanya Gwen saat diajak masuk ke dalam sebuah ruangan spa.


“Tidak, Gwen. Aku ingin membuat kalian sebaik mungkin di mata orang tuaku,” jawab Danzel seraya memberikan elusan lembut di lengan yang saat ini sedang dia rangkul.


“Aku tak ingin orang tuamu terlalu berkespektasi tinggi tentangku. Jika dandananku seperti orang kelas atas, nanti dia kaget saat tahu diriku hanya seorang sekretaris biasa,” terang Gwen. Dia merasa membohongi keluarga Pattinson jika tak menunjukkan jati diri sebenarnya.


Danzel menuntun Gwen untuk duduk di sebuah kasur khusus spa. Menggenggam kedua tangan halus itu agar sang wanitanya tak berpikiran terlalu jauh. “Mereka sudah tahu jika kau sekretarisku. Kau tak perlu merisaukannya, yang penting hatimu bersih,” tuturnya menunjuk dada wanita pujaan hatinya.


“Bagaimana jika orang tuamu tak menerimaku karena aku memiliki anak?” tanya Gwen lagi. Entah kenapa menjalin hubungan disaat sudah memiliki keturunan membuatnya lebih takut dibandingkan saat lajang.


Danzel mengelus lembut pipi wanitanya. “Tenang, aku akan mengatasinya. Kau cukup percaya padaku,” ujarnya. “Lebih baik sekarang kita merilekskan diri saja,” imbuhnya.

__ADS_1


Danzel memberikan kode pada dua orang yang akan memijat dirinya dan Gwen. Akhirnya sekretaris CEO itu menurut juga. Mereka menikmati aroma menenangkan ditambah pijatan yang mengendurkan otot-otot tegang terasa sangat enak.


Steve dan Chimera tak berada di ruangan yang sama dengan Danzel. Mereka bertugas menjaga Selena dan Aldrich di ruangan berbeda di mana khusus untuk anak-anak.


“Aldrich, jangan lari-lari. Ayo pijat dulu tubuhmu. Nanti aku bisa diomeli oleh Tuan Danzel,” teriak Chimera, ia sedang mencoba menangkap bocah kecil yang terus memutari ruangan itu seolah ingin melarikan diri.


“Mama, mama. Aku mau ke mama,” pinta Aldrich merengek dengan wajah sendunya.


“Mamamu sedang bersenang-senang dengan calon papamu, jangan mengganggu mereka,” jelas Steve. Jika dia membuat acara berduaan sang atasan kacau lagi, bisa-bisa gajinya kena potong.


Melihat dua orang dewasa tak bisa mengatasi sang adik tiri, Selena pun turun tangan. Dia tak jadi merebahkan tubuh seperti arahan pegawai di tempat itu. Kakinya justru mengayun mendekati Aldrich.


“Aldrich, apa kau ingin uncle menjadi papa kita?” bisik Selena.

__ADS_1


Aldrich mengangguk. “Mau.”


Tangan mungil milik bocah sepuluh tahun itu mengelus rambut sang adik. “Kalau begitu, biarkan mama dan uncle Danzel berdua. Kita di sini akan mendapatkan perlindungan dari uncle Steve dan aunty Chimera. Jadi, kita tidak boleh mengganggu mama, oke?” bujuk Selena.


“Baiklah.”


Chimera pun langsung menggendong Aldrich dan merebahkan ke atas tempat tidur khusus spa anak.


Diikuti Selena yang berada di sebelah sang adik tiri. Mereka berdua menikmati pijatan yang enak.


Sedangkan Steve dan Chimera hanya bisa menatap mereka.


Dua setengah jam berlalu, mereka berempat pun sudah selesai. Juga telah wangi karena setelah spa langsung diarahkan untuk berendam air hangat. Kini mereka bertemu di tempat yang sama yaitu ruang rias.

__ADS_1


“Nona, ingin dirias seperti apa?” tawar seorang wanita berparas cantik yang berprofesi sebagai MUA di sana.


__ADS_2