
Danzel mulai kuwalahan menghadapi Aldrich yang terus bertanya padanya. Seolah tak puas mendapatkan sebuah jawaban. Terus saja diserang sampai dia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa agar anak Gwen mengerti dengan bahasanya.
“Um ... Aldrich, nanti uncle belikan cokelat, ya?” tawar Danzel mencoba mencari topik pembicaraan lain karena dia sudah menyerah dengan penjelasan terkait autopilot yang ditanyakan oleh bocah kecil itu.
“Mau ....” Aldrich juga seketika langsung lupa dengan pertanyaannya tadi.
Membuat Danzel bisa bernapas lega karena tak dicecar lagi. “Anakmu, Gwen. Dia terlalu pintar atau aku yang tak bisa menjelaskan dengan benar padanya,” ujarnya pada sang sekretaris. Ia menatap lawan bicaranya dan suara yang terlontar juga sengaja dilirihkan agar tak terdengar ke bocah kecil yang duduk di belakang. Bisa-bisa dia mendapatkan pertanyaan lagi kalau ada kosa kata yang Aldrich tak tahu.
Gwen terkekeh lucu dengan atasannya. “Ternyata seorang CEO muda yang pandai mengelola perusahaan belum tentu bisa menjawab pertanyaan anak kecil,” selorohnya. Ia sampai mengulum senyum karena masih terbayang wajah Danzel yang kebingungan saat menghadapi anak tirinya.
“Gwen, kenapa kau menertawakanku? Aku jadi malu karena terlihat bodoh di matamu,” protes Danzel.
__ADS_1
Gwen mengusap lembut lengan atasannya.” Kau tetap pria yang pintar dan tulus di mataku,” jelasnya.
Sial! Wajah wanitanya semakin menggoda ditambah kalimat pujian yang membuat Danzel merasa mulai diperhatikan oleh Gwen. Jika di belakang tak ada anak kecil, sepertinya dia akan menyerang sekretarisnya saat ini juga.
“Ku pastikan kau tak akan keluar dari kamar jika kita sedang berdua, Gwen,” bisik Danzel. Mengerlingkan sebelah matanya dengan genit bermaksud menggoda wanitanya.
Gwen mencubit gemas perut Danzel. Tadi saja sudah gagal naik ke puncak, entah apa lagi yang akan terjadi jika mereka hendak melakukan hubungan mantap-mantap.
Kendaraan roda empat itu pun berhenti di depan hotel tempat tujuan mereka. Danzel menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat mobil orang tuanya. Ternyata belum terlihat, sepertinya Tuan dan Nyonya Pattinson belum sampai.
Sebelum turun, Gwen meraih tangan Danzel. Menyentuhkan telapak tangannya di kulit berbulu prianya. “Aku grogi dan takut, sampai keluar keringat dingin,” ujarnya.
__ADS_1
Danzel justru membalikkan tangan Gwen dan dia beri kecupan di permukaan kulit mulus itu. “Kita hadapi bersama, Sayang,” balasnya mencoba memberi ketenangan.
“Tuan, kenapa lama sekali,” tegur Steve yang sudah berdiri di samping pintu bagian belakang.
Danzel mendengus dengan tingkah asistennya. Bisa-bisanya menegur dia disaat adegan romantis. “Bantu jaga Selena dan Aldrich!” CEO muda itu justru memberikan perintah pada Steve dan langsung keluar menggandeng Gwen.
Selena dan Aldrich berjalan di belakang pasangan itu, dijaga oleh Steve dan Chimera yang memang sengaja diajak untuk berjaga-jaga. Misal kalau ada keributan bersama orang tuanya bisa langsung diungsikan keluar. Tentu saja agar tak melihat pertengkaran jika Gwen direndahkan oleh orang tuanya.
Danzel pun langsung diarahkan ke salah satu ruang VIP tertutup. Di sepanjang perjalanan, Gwen mencengkram erat tangan CEO Patt Group itu. Menghela napasnya perlahan untuk menetralkan ketakutannya.
“Silahkan, Tuan.”
__ADS_1
Pintu pun terbuka dan ternyata di dalam sana masih kosong belum ada siapa pun.
“Orang tuamu belum datang?” tanya Gwen. Entah dia harus lega atau justru semakin takut tak diterima di keluarga Pattinson.