
Orang tua Danzel tak mempermasalahkan jika Gwen sudah memiliki anak. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh putranya kalau mereka bisa langsung mendapatkan dua cucu walaupun bukan dari keturunannya. Yang terpenting adalah Danzel terlihat menyayangi dua bocah itu dan mereka sudah menampakkan kedekatan layaknya sebuah keluarga.
“Kau memang paling pandai merayu mommy,” ujar wanita yang melahirkan Danzel tersebut.
“Tentu saja,” balas Danzel. Di bawah meja dia sedang mengelus tangan Gwen, menyalurkan kepercayaan pada wanitanya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.
“Berapa umurmu, Gwen?” Mommy Megan melanjutkan menginterogasi calon menantunya.
“Tiga puluh enam.”
Mommy Megan melongo, dia seperti terkejut setelah mendengar usia calon menantunya. Jika dilihat dari penampilan tak terlalu tua, seperti masih seumuran anaknya. “Kau tahu jika kalian berdua beda sembilan tahun?” Pertanyaannya kini ditujukan pada Danzel dan Gwen.
“Tahu.”
Mommy Megan menghela napasnya, entah apa yang sedang dia pikirkan hanya dirinya yang tahu. Padahal Daddy Marlin nampak biasa saja dengan perbedaan sembilan tahun itu.
__ADS_1
“Berarti kau seorang janda? Sudah tak memiliki suami? Atau kau memiliki anak tanpa suami?” tanya Mommy Megan lagi. Dia masih belum puas mengulik latar belakang Gwen.
“Su—” Gwen ingin mengatakan kalau suaminya tak tinggal bersamanya, tapi lagi-lagi Danzel menyerobot.
“Tentu saja sudah janda, mom. Kalau dia masih memiliki suami, mana mungkin aku memilihnya,” jelas Danzel.
“Danzel, kenapa kau selalu saja memotong pembicaraan Gwen. Mommy ingin tahu jawaban dari dia, bukan darimu!” omel Mommy Megan. Ia bersungut-sungut karena ulah anaknya sendiri.
“Aku dan Gwen adalah satu. Jadi jawabanku sudah mewakili jawabannya,” terang Danzel dengan lantang. Dia ingin menegaskan kepada orang tuanya bahwa jiwanya sudah melekat pada sekretaris barunya itu.
Mommy Megan bergeleng kepala. Anaknya benar-benar sudah dimabuk cinta. “Gwen, lain kali kita jalan-jalan berdua, oke? Aku ingin lebih mengenalmu,” ajaknya dengan lembut. “Hanya berdua, aku tak ingin diganggu oleh bocah tengil itu,” tegasnya seraya menunjuk Danzel menggunakan telunjuk.
“Oke, sepertinya sudah cukup makan malam kita hari ini. Lain kali, berkunjunglah ke mansion keluargaku jika kau memang yakin dan bersungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari Pattinson.” Mommy Megan pun menyudahi pertemuan itu. Tak enak juga jika setiap pertanyaannya dijawab oleh Danzel bukan Gwen. Dia akan mencari waktu sendiri untuk mengobrol berdua sesama wanita.
Tuan dan Nyonya Pattinson berangsung bangkit dari duduk. “Danzel, malam ini pulanglah ke mansion, ada yang ingin mommy sampaikan padamu,” pintanya.
__ADS_1
“Oke, mom.” Danzel pun melambaikan tangan saat orang tuanya meninggalkan ruang VIP tersebut.
“Ku kira orang tuamu akan seperti kebanyakan mertua jahat di drama,” celetuk Gwen. Dia mengelus dada karena lega.
Danzel terkekeh gemas dengan wanitanya. “Sudah ku katakan, orang tuaku baik. Kau yang terlalu khawatir berlebihan.” Tangannya mengelus lembut pipi Gwen dengan segenap cintanya. “Mau ku antar pulang sekarang?” tawarnya.
Gwen mengangguk. “Kita cari anak-anak dulu,” pintanya.
“Tak perlu, nanti aku perintahkan Steve dan Chimera untuk mengantar ke apartemenmu.”
Baiklah, Gwen menurut saja. Mereka pun tak lupa membungkus makanan sisa karena sayang jika dibuang.
Di dalam mobil, Gwen kepikiran dengan sesuatu. Dia masih menyembunyikan status aslinya, padahal tadi sudah akan dia ungkap.
“Danzel, bagaimana jika sebenarnya aku masih memiliki suami?” tanya Gwen.
__ADS_1
...*****...
...Nahloh, ga enakkan di up lagi tapi gantung kaya jemuran. Makanya disogok lagi pake kembang sama kopi biar kek dukun lagi minta sesajen aku wkwkwk....