My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 173


__ADS_3

Selama perjalanan menuju kantor, Danzel tak berbicara sedikit pun membuat Gwen merasa aneh karena biasanya CEO Patt Group itu sering mengajaknya mengobrol walaupun hal-hal tak penting. Dan saat sampai di ruang kerja pun sang pria lebih banyak melamun seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran pria itu.


“Apakah ada yang sedang kau pikirkan?” Akhirnya Gwen pun memiliki inisiatif untuk bertanya. Dia duduk manja di pangkuan Danzel, membelai dagu yang kini sudah dipangkas rambutnya.


Sejak ketahuan hamil, Gwen sudah tak dipekerjakan sebagai sekretaris Danzel. CEO Patt Group sudah mendapatkan pengganti yang tak lain berjenis kelamin laki-laki dan tempat duduk Gwen juga dipindah ke luar.


“Ada,” jawab Danzel jujur. Tangannya mengelus rambut sang wanita dengan lembut.


“Apa? Ceritakan padaku,” pinta Gwen.


“Ini sesuatu yang sensitif untukmu, apakah kau tak masalah mendengarkannya?”


Gwen mengangguk. “Sampaikan saja.”

__ADS_1


“Aku tak ingin mengundang mamamu saat pernikahan kita untuk mengantisipasi jika orang tuamu akan membuat onar di sana,” jelas Danzel. “Maaf.” Kecupan pun dilabuhkan pada kening Gwen.


Gwen mengulas senyumnya. “Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Jika memang keiinginanmu seperti itu, maka lakukan saja. Aku akan mengikuti keputusanmu.” Dia pun menyetujui pendapat Danzel karena memang orang tuanya tak jauh berbeda dengan mantan suaminya dan juga mantan mertuanya. Beruntung sekali ia mewarisi sifat dari mendiang papanya.


“Terima kasih, calon istriku.” Danzel mendaratkan kecupan di bibir manis Gwen. Tempat itu menjadi yang paling favorit setelah bagian dada.


...........


Musim dingin pun berakhir, berganti dengan pepohonan dan tanaman yang mulai tumbuh kembali. Dan hari bahagia Danzel serta Gwen akan berlangsung pada hari ini.


Undangan juga sudah tersebar ke seluruh karyawan Patt Group dan juga keluarga mantan kekasih keduanya—Davis dan Diora.


Upacara pernikahan dilangsungkan outdoor. Keluarga Pattinson menyewa sebuah tempat bernama Tenalji von Fersen di daerah Suomenlinna. Ada danau yang cukup luas sebagai pemandangan indah ditambah dekorasi yang simple namun terkesan elegant membuat suasana di lokasi tersebut sangat nyaman dilihat.

__ADS_1


Danzel sudah siap berdiri di hadapan salah satu petugas utusan dari pengadilan negeri yang diberi mandat untuk membimbing jalannya pernikahan.


Setetes air mata haru melintasi pipi Danzel saat melihat calon istrinya berjalan menuju ke arahnya dan kedua anak sambungnya berjalan di depan Gwen seraya menaburkan bunga-bunga.


Selana dan Aldrich meraih tangan Danzel saat sampai di hadapan calon papanya. Dan otomatis CEO Patt Group itu merendahkan tubuh agar kedua bocah itu tak sakit karena mendongak.


“Papa, aku hanya disuruh oleh grandma untuk melakukan ini,” celetuk Aldrich, dia terlalu jujur saat diperintahkan untuk berakting.


Danzel mengangkat sebelah alisnya menunggu Aldrich berbicara tapi justru bocah itu menyengir.


“Aku lupa harus mengatakan apa,” seloroh Aldrich. Dia pun menggoyangkan tangan kakak tirinya untuk menggantikannya berbicara. “Kakak, kau saja,” pintanya.


Danzel terkekeh melihat tingkah Aldrich yang saat ini memakai setelan tuxedo berwarna putih. Mengacak-acak rambut anak sambungnya dengan gemas. Dan matanya berpindah ke Selena. “Apa yang akan kalian sampaikan?”

__ADS_1


“Papa Danzel, aku menyerahkan mamaku untuk menjadi pendamping hidupmu. Ku mohon selalu jaga dan bahagiakan dia,” ucap Selena sesuai arahan dari Mommy Megan.


Setelah mengucapkan itu, Selena menengok ke samping kanan di mana grandmanya berada. Dan mendapatkan acungan jempol dari Mommy Megan.


__ADS_2