
Gwen masih mengatupkan mulutnya. Ia sedang menimbang hatinya terlebih dahulu sebelum mengutarakan sebuah kalimat sesuai persyaratan yang diminta oleh Danzel.
Gwen tak ingin sembarangan mengutarakan sebuah kata yang sangat sakral untuk sebuah hubungan dan perasaan. Tapi jika tak mengatakan cinta, bisa-bisa dia membuka lebar kedua pahanya dengan suka rela akibat Danzel yang selalu menakhlukkan titik sensitifnya. Oh ... sungguh pilihan yang sangat sulit untuknya.
Cukup lama wanita itu berdiam dan melamun dalam posisi kepalanya masih berada di dada bidang Danzel. Namun tubuhnya terus merasakan sensasi geli akibat jemari pria itu yang nakal menyentuh kulit punggungnya. Tapi dia tak menolak sentuhan itu, yang memang sudah lama diinginkan sejak tak pernah dijamah oleh seorang pria.
‘Ayolah hati dan akal sehat, sejalanlah,’ Gwen berdoa dalam hati sebelum dia menjawab pertanyaan Danzel.
Jujur, hati Gwen memang merasakan sebuah getaran. Bohong jika tak tumbuh benih-benih cinta setelah mendapatkan perlakuan manis, perhatian, dan kelembutan Danzel. Lebih baik dia mengutarakan perasaannya daripada menyerahkan tubuhnya kepada pria yang baru dia kenal.
“Aku menc—” Gwen belum selesai mengucapkan kalimatnya, sebab ada suara yang langsung membuat Danzel melepaskan pelukan dan segera berjalan cepat menuju kamar.
__ADS_1
“Mama ...!” Teriakan Aldrich diiringi tangisan yang sangat memekakkan telingalah yang membuat Danzel sigap menghampiri bocah itu.
Gwen menghela napasnya lega karena terbebas dari rayuan maut seorang Danzel. “Bahkan dia lebih cekatan dalam mengurus anak daripada aku, padahal bukan anak kandung,” gumamnya. Ia pun ikut menghampiri anaknya di dalam kamar.
Gwen hanya menyaksikan bagaimana Danzel menenangkan Aldrich saat mimpi buruk. Ia cukup terkesan dengan pria itu yang jiwa bapak-bapaknya sudah muncul padahal belum pernah menikah ataupun memiliki anak.
...........
Dua hari berlalu, sepasang suami istri yang memasuki usia senja tengah menikmati romantisme di Kota Paris. Mereka adalah orang tua Danzel.
Ternyata wanita yang mendesak anaknya untuk cepat menikah itu sedang menyusul sang suami yang sedang mengurus pekerjaan di ibu kota negara Perancis.
__ADS_1
“Sekarang tanggal berapa, Dad?” tanya Mommy Megan. Setelah seharian penuh berjalan-jalan membeli berbagai fashion terkenal asal kota itu, ia baru saja masuk ke dalam hotel yang selama ini ditinggali oleh Daddy Marlin. Menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah namun bahagia itu ke atas kasur nyaman.
“Dua puluh tujuh,” jawab Daddy Marlin seraya melepaskan jas dan dasinya.
Mommy Megan yang memejamkan mata itu langsung melotot dan menatap suaminya. “Serius?” Ia memastikan sekali lagi, karena dia sudah menjadwalkan untuk tanggal dua puluh delapan harus menagih janji anaknya.
“Ya, memangnya ada apa? Kenapa kau sangat terkejut?” Daddy Marlin balik bertanya sembari mengayunkan kaki mendekati istrinya.
“Aku membuat perjanjian dengan Danzel,” ungkap Mommy Megan. Ia mengambil ponsel suaminya untuk segera memesan tiket ke Finlandia.
“Perjanjian apa?” Daddy Marlin tak tahu apa pun tentang perkembangan keluarganya terutama anaknya selama dia sibuk mengurus pekerjaan di Paris.
__ADS_1
“Ada, nanti kau juga akan tahu.” Mommy Megan tak mau menceritakan terlebih dahulu pada suaminya tentang rencana yang dia susun. Daripada dirusak oleh Daddy Marlin.
“Pekerjaanmu di sini sudah selesai, kan?” Mommy Megan bertanya beriringan dengan tangannya yang meletakkan ponsel di samping paha kirinya.