My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 74


__ADS_3

Baiklah, Steve lebih baik tak tahu nama wanita itu daripada mendapatkan respon sinis lagi. “Tuanku ingin menjaminmu keluar. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi bodyguard wanita yang dicintainya.”


Diluar dugaan Steve. Wanita bertato itu justru tertawa terbahak-bahak tapi terlihat dipaksakan.


“Aku tak butuh dijamin oleh siapa pun! Lagi pula untuk apa juga aku mau menerima tawaranmu,” tolak wanita itu.


Membuat Steve harus bekerja keras memikirkan cara lain membujuk wanita tersebut. “Tenang saja, kau akan digaji.”


Wanita itu menaikkan sebelah alisnya. “Berapa banyak kau berani menggajiku?”


“Sepuluh ribu euro, bagaimana?” Steve hanya asal saja memberikan nominal itu. Ah tak apa, urusan tuannya dipikir belakangan, lagi pula CEO Patt Group memiliki uang banyak dan pastinya mampu membayar bodyguard itu. Yang penting saat ini dia harus berhasil membujuk wanita tersebut agar bersedia menerima tawarannya.

__ADS_1


Mendengar nominal gajinya, membuatnya cukup tertarik. Tapi ia justru tersenyum sinis dan menolak lagi. “Hanya sepuluh ribu euro? Lebih baik aku mendekam di penjara daripada bekerja dengan tuanmu.”


Steve bergeleng kepala. Sepuluh ribu euro diremehkan. Bahkan sebanyak itu bisa dia gunakan untuk keperluan dua bulan. “Jadi, berapa gaji yang kau inginkan?” Ia mencoba untuk tawar menawar harga, sudah seperti di pasar saja mereka.


“Dua kali lipat dari nominal yang kau tawarkan padaku.”


Steve tak berani langsung mengiyakan. Sama saja dengan gajinya yang sudah bertahun-tahun kerja dengan Danzel. Ia memilih untuk menelepon atasannya, meminta persetujuan dengan orang yang akan menggaji wanita tersebut. Dan CEO muda yang sedang dimabuk cinta itu langsung menyetujui.


Wanita itu hendak membalas jabatan tangan Steve, tapi diurungkan karena asisten CEO Patt Group itu mengucapkan sesuatu yang membuat akal liciknya kembali bekerja. Namanya juga sedang butuh uang sampai dia memilih mendekam di penjara dibandingkan hidup bebas di luar sana. “Namaku seharga lima ribu euro. Jika kau ingin mengetahuinya, maka bayar sebanyak itu.”


“What? Kau meminta gajinya dinaikkan lagi?” pekik Steve sangat terkejut. Bahkan melebihi uang sebulannya.

__ADS_1


Wanita itu berdecak meremehkan Steve. “Memangnya aku mengatakan itu termasuk ke dalam gajiku? Itu harga jika kau ingin tahu namaku! Kau paham, tidak?!” Ia mengulangi dengan sedikit menjelaskan maksudnya tapi diiringi sebuah ejekan karena Steve tak bisa langsung menangkap arti dari ucapannya.


“Apa kau sedang memerasku?” celetuk Steve. Hanya secuil informasi nama saja harus membayar, bahkan lumayan banyak.


Wanita itu mengedikkan bahunya seolah tak peduli dia akan dianggap memeras atau yang lainnya. “Waktuku tak banyak. Jika kau sepakat, maka aku akan menyebutkan nama dan memperlihatkan identitas asliku. Tapi kalau tidak, selamanya aku akan membungkam mulut.”


“Oke, akan ku bayar lima ribu euro untuk informasi namamu dan gajimu tetap dua puluh ribu euro.” Steve tak bertanya pada Danzel sebelum mengambil keputusan. Lagi pula atasannya pasti mau membayar nominal itu.


“Bagus, mana uangnya.” Wanita itu menengadahkan tangan meminta bayaran di awal.


“What?” pekik Steve. “Kau saja belum mulai bekerja, sudah meminta uang saja,” tolaknya.

__ADS_1


“Bayaran informasi namaku!” Wanita itu meluruskan maksudnya. “Uang di muka sebagai jaminan kau tak akan kabur setelah tahu identitas asliku.”


__ADS_2