My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 120


__ADS_3

Seringnya bertemu dan perhatian yang dicurahkan Danzel pada anak-anak Gwen tak terasa membuat Aldrich dan Selena menjadi terbiasa dan sangat menyayangi CEO Patt Group itu. Bahkan saat ini dua bocah itu sedang menempel dengan Danzel seraya menonton televisi di apartemen setelah pulang kantor.


“Mama dilupakan?” tanya Gwen ikut menimbrung. Dia berpura-pura merajuk karena tak diajak berpelukan di atas ranjang empuk milik Danzel.


“Sini, aku peluk juga.” Danzel merentangkan tangannya agar Gwen menghambur kepadanya.


Tapi Gwen justru berbaring di samping Selena. “Aku mau memeluk anakku saja,” ujarnya.


“Aku mau memeluk kalian saja.” Danzel kian mengikis jarak hingga keempat orang itu berdempetan semua. Tangannya yang panjang pun memeluk tiga orang yang tak lama lagi akan resmi menjadi anggota keluarganya jika Gwen sudah hamil.


“Papa Danzel, sesak.” Aldrich meronta meminta dilepaskan dari rengkuhan yang sangat erat itu.


“Sorry, boy.” Danzel pun melepaskan tangannya dari Gwen dan memeluk bocah dua tahun itu saja.


Kegiatan menjelang malam hari yang begitu hangat padahal cuaca sedang dingin itu pun terganggu saat sebuah ponsel berdering lumayan keras di kamar tersebut.


“Gwen, sepertinya ponselmu,” ujar Danzel. Sebab dering miliknya berbeda.


Gwen segera mencari ponselnya. Ternyata ada di balik bantal. Ia melihat layar berukuran enam koma satu inch. Alarm pengingat yang memberitahukan bahwa besok adalah waktu menjenguk Sanchez di penjara.

__ADS_1


“Siapa yang menghubungimu?” tanya Danzel.


Membuat Gwen buru-buru mematikan alarm tersebut. “Tidak ada, hanya pengingat untuk makan obat seperti biasa,” bohongnya.


Danzel pun tak mengajukan pertanyaan lagi. Dia fokus menjelaskan kepada Aldrich tentang beberapa tokoh film anak-anak di televisi.


“Aku keluar sebentar, mau menelepon mommymu.” Gwen izin meninggalkan kamar dan Danzel pun mempersilahkan. CEO Patt Group itu justru senang jika Gwen dan Mommy Megan semakin dekat.


Gwen pergi ke dapur, sebetulnya ingin berbincang dengan calon mertuanya di balkon tapi salju masih turun sehingga dia memilih mencari kehangatan dari tungku api. Dia memang ingin menelepon Mommy Megan.


“Halo. Ada apa Gwen?” sapa Mommy Megan.


“Apa?”


“Besok waktunya aku menjenguk suamiku, rencananya ingin memberi tahu dia kalau aku ingin mengajukan gugatan cerai. Apa kau bisa menolongku untuk pergi tanpa dicurigai oleh Danzel?”


“Bisa, besok aku akan menjemputmu di apartemen.” Mommy Megan memang calon mertua yang sangat langka bahkan rela membantu proses perceraian Gwen demi melihat sang anak terus bahagia.


...........

__ADS_1


Hari yang ditunggu pun tiba, kebetulan saat ini weekend dan semua orang masih berada di apartemen enggan keluar saat cuaca sedang sangat dingin.


Mommy Megan benar-benar menepati ucapannya. Pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu tempat tinggal Danzel karena sudah diberi tahu kalau Gwen menginap di sana.


“Mommy, kenapa datang ke sini tak memberi tahu aku?” tanya Danzel. Dia sedikit terkejut tiba-tiba orang tuanya berdiri di hadapannya.


“Aku sudah janji ingin keluar dengan Gwen.”


“Ke mana?”


“Rahasia, ini urusan wanita.” Mommy Megan menyelonong masuk saja di apartemen anaknya.


Danzel menutup pintu dengan hati-hati dan mengikuti mommynya yang sudah duduk santai di sofa. “Aku tak diajak lagi?”


“Tidak, aku sedang pendekatan dengan calon menantuku. Kau di sini saja menjaga dua calon cucuku!” Mommy Megan menolak dengan tegas.


...*****...


...Kepo amat si Danzel, pengen ikut mulu wkwkwk....

__ADS_1


__ADS_2