
Mendengar jika Danzel sedang menjemput anak dari calon istri CEO Patt Group, membuat Alcie mengalah. Dia tak bersikeras menyelonong ke atas. Jika langsung ke ruangan CEO, bisa jadi dia tak bisa menemui Danzel seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Maka keputusannya adalah duduk di ruang tunggu, menanti kedatangan Danzel dan rasa penasarannya lebih ke orang yang dijemput oleh keturunan keluarga Pattinson itu.
Tak berselang lama, Danzel pun menginjakkan kakinya di lobby perusahaan. Tangan kanannya menggendong Aldrich sedangkan sebelah kiri menggandeng Selena.
“Tuan, ada seorang wanita mencari Anda,” ujar resepsionis saat Danzel berjalan melewatinya.
Danzel menghentikan langkahnya dan berbalik menatap karyawannya. “Siapa?”
“Wanita yang terakhir kali datang ke sini dan mengaku calon istri Anda,” ungkap resepsionis itu.
__ADS_1
Danzel langsung paham siapa orang tersebut. Sebab, satu-satunya yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi dan menggangu kehidupannya terus hanyalah Alcie Glee. “Sekarang dia ada di mana?” tanyanya. Dia justru saat ini sedang khawatir kalau wanita menyebalkan itu tanpa permisi masuk ke ruang kerjanya lagi dan mengganggu Gwen.
“Duduk di sa—” Resepsionis menunjuk sofa yang tadi di duduki oleh Alcie. “Tadi ada di sana, Tuan. Tapi sepertinya sudah pergi.” Dia sendiri bingung, padahal beberapa saat lalu masih melihat Alcie di ruang tunggu.
Danzel bisa menghembuskan napasnya lega karena wanita menyebalkan itu tak menyelonong masuk ke ruang kerjanya. “Kalau sewaktu-waktu dia datang ke sini lagi, langsung telepon polisi saja jika diusir dengan cara baik-baik tak mempan,” titahnya.
“Baik, Tuan.”
Ternyata, Alcie bukan pergi, tapi bersembunyi di balik pilar tinggi. Matanya melotot seolah tak terima melihat kenyataan yang baru saja dia saksikan secara langsung. “Jangan bilang jika calon istri Danzel adalah Gwen,” gumamnya.
__ADS_1
Tangan Alcie mengepal erat dan giginya saling bergemelatuk. Kilatan iri, dengki, semua yang jelek-jelek terpancar di wajah tak orisinil yang penuh tipuan itu.
“Aku harus memastikan lagi,” gumam Alcie. Dia keluar dari gedung yang tinggi itu dan duduk di cafe yang lokasinya tak jauh dari Patt Group. Rencananya ingin meyakinkan satu kali lagi bahwa pemikirannya memang benar. Dia memilih tempat yang dekat dengan jendela kaca agar bisa melihat luar.
Cukup lama Alcie berdiam di sana, matanya tak pernah beralih kemanapun. Terus terfokus pada mobil milik Danzel yang terparkir di depan pintu lobby perusahaan. Hingga empat jam tepat dia seperti patung. “Sial! Lama sekali mereka keluar, memangnya apa yang dilakukan di dalam sana!” umpatnya. Pantatnya terasa kebas karena terlalu lama duduk di kursi berbahan kayu.
“Lebih baik aku tanyakan langsung saja pada Gwen daripada membuang waktu di sini selama seharian.” Alcie memutuskan untuk menyerah. Tak kuat jika harus semakin lama berada di sana. Cuacanya sangat dingin, rasanya mati rasa sekujur tubuhnya walaupun sudah memakai baju tebal.
Disaat Alcie keluar dari cafe, bertepatan dengan Danzel yang keluar menggendong Aldrich sedangkan tangan satu lagi melingkar di pinggul Gwen dan Selena digandeng oleh wanita yang saat ini terlihat ceria.
__ADS_1
Alcie membulatkan matanya. Tangannya kembali mengepal lebih kuat hingga kuku palsunya patah. “Ini tak bisa dibiarkan, aunty Megan harus tahu jika Danzel dekat dengan wanita yang sudah memiliki anak dan suami.”