
Merasa dirinya terpojokkan karena kedua anaknya berpihak pada Danzel semua, Gwen memilih untuk menyusun alat makan kotor yang baru saja digunakan. Ia menggeser kursi penuh kelembutan hingga tak menimbulkan suara decitan keras.
“Aku cuci piring dulu,” pamit Gwen.
“Tak perlu, nanti ku panggilkan cleaning service apartemen untuk membersihkannya,” cegah Danzel agar Gwen tidak menempatkan diri seperti pembantunya.
Tapi Gwen tak mengindahkan ucapan Danzel. Dia tetap mengangkat alat makan kotor itu. “Tunggu mama sebentar, ya? Setelah ini kita pulang.” Ia pun meninggalkan meja makan menuju tempat cuci piring.
Danzel menghembuskan napasnya pelan, sulit sekali mengatur wanita yang sudah pernah melahirkan anak itu.
“Ayo kita tunggu mamamu di sana,” ajak Danzel menunjuk sofa ruang tamunya.
Selena dan Aldrich pun mengikuti Danzel yang menggandeng keduanya. Mereka duduk di sana sembari menatap punggung Gwen.
__ADS_1
Danzel yang tak tega melihat Gwen membersihkan alat makannya pun menghubungi nomor cleaning service melalui telepon nirkabel yang memang tersedia di apartemen itu. Ia meminta satu orang untuk datang ke tempatnya dan membersihkan hunian sederhananya.
Setelah beberapa hari mengenal Gwen, dia jadi sedikit paham dengan wanita itu. Pasti bukan hanya piring saja yang dibersihkan, tapi semua tempat tinggalnya yang seharian penuh digunakan untuk bermain sampai seperti kapal pecah, bahkan bedak tabur pun berhamburan di lantai dan karpetnya.
Pria itu kembali menghampiri Selena dan Aldrich. “Kalian mengantuk?” tanya Danzel saat melihat anak-anak Gwen menguap.
Kedua bocah itu mengangguk. Matanya juga sudah tak bisa berbohong jika ingin terpejam.
Selena dan Aldrich langsung merebahkan tubuh di kasur berukuran besar yang empuk dengan sprei yang lembut. Mereka sampai melupakan untuk sikat gigi.
“Uncle, mau di puk-puk,” pinta Aldrich. Suaranya terdengar lemah diiringi mulutnya yang menguap.
Danzel ikut tidur di samping Aldrich. Menepuk pantat mungil itu tanpa bersuara. Tak terasa dia juga ikut tertidur bersama anak-anak Gwen di sana.
__ADS_1
Sementara itu, Gwen baru saja meniriskan piring terakhir. Ia melepas sarung tangan berbahan karet yang melindungi kulitnya dari air cucian. Wanita cantik itu hendak lanjut membersihkan ruang tamu yang kotor dan berantakan. Tapi suara bel yang berbunyi sebanyak tiga kali membuatnya mengurungkan niat dan memilih untuk membuka pintu.
Ternyata petugas cleaning service yang dipanggil oleh Danzel yang datang. “Maaf terlambat, Nona,” tuturnya dengan menundukkan kepala.
“Kau siapa?” tanya Gwen bingung. “Apakah tamu atau kerabat Danzel?”
“Saya petugas cleaning service yang dipanggil oleh pemilik unit apartemen nomor dua ribu enam ratus delapan untuk membersihkan tempat ini,” jelas wanita berpakaian serba biru dongker itu.
“Oh, tunggu sebentar.” Gwen tak berani langsung memberikan izin masuk ke dalam karena ini bukan tempat tinggalnya. Ia ingin memastikan terlebih dahulu pada Danzel.
“Aku tutup dulu pintunya, ya? Sebab pemiliknya ada di dalam kamarnya,” izin Gwen sangat sopan. Dia tak mau mengambil risiko jika membiarkan terbuka lalu ada orang jahat masuk.
Gwen masuk ke dalam kamar pribadi milik Danzel. Sebelumnya dia mengucap permisi dan meminta izin masuk tapi tak ada sahutan, sehingga memberanikan diri untuk membuka kayu bercat putih yang masih terlihat baru tersebut.
__ADS_1