My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 94


__ADS_3

Kursi berjumlah enam sudah tertata melingkari sebuah meja bundar. Danzel menarikkan satu untuk Gwen duduk. Lalu dirinya mendaratkan pantat di tempat kosong sebelah wanita pujaan hatinya.


Selena dan Aldrich duduk sendiri di samping Gwen. Sedangkan Steve dan Chimera ada di sudut ruangan. Tenang, kedua orang yang bayarannya sangat mahal itu tak dibiarkan berdiri, Danzel juga masih memiliki hati untuk mempersilahkan asisten dan bodyguard wanitanya bersantai di atas kursi.


“Wow, makanannya banyak. Aku mau semuanya,” celoteh Aldrich. Ia sudah lapar sekali melihat hidangan yang memenuhi meja berdiameter dua meter tersebut. Tangannya sudah terulur ingin meraih pizza tapi tak sampai. Ia memilih berdiri di kursi menginjakkan sepatu di sana.


“Aldrich, nanti dulu, kita belom diberi izin untuk makan,” tegur Selena agar adik tirinya duduk manis kembali.


“Aku lapar,” tolak Aldrich tak mengindahkan peringatan kakaknya.


“Mama, Aldrich tidak sopan.” Selena pun mengadukan pada Gwen yang sedang berbincang dengan Danzel.


Membuat dua orang dewasa itu menatap ke arah dua bocah mungil. Danzel menaikkan sebelah alisnya, tak sopan apanya? Dia sendiri bingung.


“Ada apa, Selena?” tanya Danzel meminta penjelasan.

__ADS_1


“Aldrich mau mengambil makanan padahal belum diizinkan untuk makan,” adu Selena.


Danzel terkekeh lucu dengan tingkah anak-anak Gwen. Yang satu sangat menjunjung tinggi sopan santun, satunya masih bocah belum tahu apa pun. “Makanlah jika kalian sudah lapar, memang ini ku pesan untuk dihabiskan. Bahkan kalau kurang pun akan uncle tambah lagi,” ujarnya.


“Benarkah?” tanya Selena. Dan dijawab anggukan kepala oleh Danzel.


Selena pun mengulas senyumnya. Sedari tadi memang lapar tapi dia tahan karena merasa tak sopan jika mendahului yang lebih tua.


“Mama, ambilkan. Kalian mau yang mana?” tawar Gwen. Dia mengangkat satu piring kosong milik Aldrich.


“Pizza—” Aldrich pun menjawab dan menunjuk makanan yang dia inginkan.


Kedua bocah itu sungguh tak merasa grogi, bahkan tak tahu jika akan dikenalkan pada keluarga Pattinson. Mereka tak berdebar seperti Gwen. Selena dan Aldrich justru melahap makanan dengan tenang.


Tapi Gwen tetap belum bisa bernapas lega. Ia meraih tangan Danzel dan menatap lekat wajah tampan atasannya. “Jantungku terus berdebar, Danzel. Bahkan ini lebih gila daripada saat jatuh cinta,” adunya memberitahu bagaimana perasaannya saat ini.

__ADS_1


Danzel menggeleng karena melihat wajah Gwen yang sangat tegang. “Kau cantik, pasti orang tuaku terkesima melihatmu.” Dia terus melontarkan kalimat pujian.


Klek!


Suara pintu yang terbuka pun membuat Gwen melepaskan genggamannya dari Danzel. Dia menatap ke arah sumber suara.


Tuan dan Nyonya Pattinson baru saja datang. Mereka mengayunkan kaki ke dalam dengan wajah yang datar dan pandangan lurus ke depan.


Gwen sudah semakin takut melihat dua orang paruh baya itu. Tak ada senyum ramah yang menyambut dirinya. Padahal ia sudah menarik dua sudut bibir sesopan mungkin.


Orang tua Danzel bersamaan duduk di kursi, berhadapan dengan Gwen. Mereka belum mengucapkan sepatah kata pun karena masih mengamati situasi di ruangan itu.


Mommy Megan mengernyit saat melihat ada dua anak kecil ikut makan malam bersama mereka, tapi dia enggan untuk bertanya. Dan terakhir, tatapan datarnya berhenti pada Gwen.


“Mom, jaga sikapmu. Aku sudah menanam bibit kehidupanku di tempatnya,” tegur Danzel.

__ADS_1


...*****...


...Pokoknya aku minta sogokan pake bunga sekebon sama kopi segentong. Titik wkwkwk. Kalo enggak, besok enggak update nih. Ku gantung pas tegang-tegangnya. Penasaran kan kalian....


__ADS_2