My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 147


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Gwen sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dan tinggal menunggu jadwal persidangan saja. Selama kurun waktu itu juga dia tak mendapatkan kabar apa pun dari Danzel. Tak ada pesan atau telepon masuk dari sang pria. Bahkan nomor ayah dari bayi yang sedang dia kandung itu pun tak aktif sampai sekarang.


Hal itu membuat pikiran Gwen melayang kemana-mana. “Kau di mana Danzel? Kenapa tak mengabariku? Apa kau sehat? Aku merindukanmu,” gumamnya. Mata yang indah itu menatap nanar ke arah luar jendela, salju sedang turun lebih sedikit dari pada kemarin. “Apa kau kedinginan di sana?” Dia tak bisa sehari pun tidak memikirkan pria yang sudah memenuhi hatinya.


Ketukan pintu kamar membuat Gwen berhenti menatap salju, mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang sangat perhatian padanya.


“Danzel pasti baik-baik saja, kau tak perlu memikirkannya terus. Jika pekerjaannya sudah selesai, pasti dia akan pulang,” ucap Mommy Megan. Bukan sekali atau dua kali dia mendapati menantunya melamun seperti itu, ini sudah yang kesekian kalinya. Bahkan dalam waktu satu hari pun Gwen bisa menatap ke luar dalam waktu yang lama.


Gwen memaksakan diri untuk mengulas senyum. Bagaimana bisa dia diam saja tanpa merasakan khawatir saat orang yang dicintai seperti hilang begitu saja bahkan tak ada kata perpisahan apa pun sebelumnya. Tak ada pamit yang terucap dari bibir manis prianya. “Aku ingin tahu bagaimana kondisinya, Mom. Hatiku terasa seperti ada yang mengganjal jika seperti ini terus. Danzel tak biasa pergi tanpa kabar selama ini,” balasnya.

__ADS_1


Mommy Megan duduk di sofa seraya meletakkan gelas berisi cairan berwarna putih khusus untuk ibu hamil. “Minum susumu dulu, Gwen. Kau tetap harus sehat, jangan menghabiskan tenagamu untuk memikirkan putraku terus,” pintanya. Dia akan memastikan menantunya tak stres dan nutrisi calon cucunya terpenuhi.


Gwen mengulas senyum seraya mengangguk. Kakinya mengayun untuk mendekati mertuanya. “Mom, aku harap ini yang terakhir kali kau mengurus aku seperti ini. Aku bisa membuat susu sendiri. Justru seharusnya aku yang merawatmu,” pintanya. Dia merasa tak elok jika mertuanya yang melakukan banyak hal untuk dirinya, sedangkan dia hanya tinggal menerima bersih saja.


“Tak apa, aku senang melakukan ini karena cucuku ada di dalam sini. Aku tak ingin kau lelah,” balas Mommy Megan. Tangannya mengelus lembut perut menantunya.


Gwen seharusnya merasa bahagia tetap mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Tapi nyatanya tetap tidak bisa. Hati dan pikirannya terus terisi dengan Danzel.


“Kau istirahatlah, aku akan mencoba mencari Steve untuk menanyakan kapan Danzel pulang,” titah Mommy Megan seraya mengelus rambut Gwen yang halus.

__ADS_1


“Boleh aku ikut? Aku juga ingin tahu,” pinta Gwen.


“Di luar sangat dingin, Gwen. Aku akan ke perusahaan Patt Group,” tolak Mommy Megan dengan halus.


“Tak apa, asalkan aku mendapatkan informasi tentang Danzel.” Gwen tetap keras kepala membuat mertuanya mengalah dan mengajaknya untuk ke perusahaan.


...........


“Steve,” panggil Mommy Megan pada pria yang sedang menelepon seseorang dan duduk di meja kerja.

__ADS_1


Steve buru-buru mematikan ponselnya saat ada orang yang memanggil. “Ya, Nyonya?” Tubuhnya segera berdiri untuk memberikan hormat.


“Apakah Danzel yang baru saja meneleponmu?” tebak Mommy Megan.


__ADS_2