My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 154


__ADS_3

Pantas saja Gwen merasakan ada yang berbeda dari perlakuan Danzel padanya yang mendadak hilang selama satu minggu tanpa kabar. Bahkan suara prianya semalam terdengar sangat sedih dan frustasi. Ternyata kepergian pria itu karena sudah mengetahui status aslinya. Dan pikiran demi pikiran tak mengenakkan pun membuat Gwen merasakan kram di perutnya. Rasa takut kehilangan Danzel dan kerisauan jika tidak mendapatkan pertanggung jawaban membuatnya sakit.


Dan Gwen meringkuk di atas kasur seraya memegangi perutnya. “Aku mencintaimu, Danzel. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak,” gumamnya.


Rasa sakit di perut Gwen semakin parah. Dia ingat pesan dokter untuk tak banyak pikiran agar meminimalisir terjadinya keguguran karena kandungannya masih berada di tri semester awal. “Kendalikan pikiranmu Gwen, jangan sampai kehilangan anak-anakmu.” Dia mencoba untuk menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan.


Tapi perutnya tetap terasa sakit dan Gwen pun memilih untuk berjalan keluar dengan memegangi perutnya. Dia ingin mencari bantuan untuk mengantarkan ke rumah sakit. “Aku harus memastikan janinku baik-baik saja, mungkin dia bisa membantu aku dan Danzel untuk kembali seperti dulu lagi,” gumamnya. Dia tak mau kehilangan bukti cintanya dengan Danzel sehingga mengusahakan untuk memberikan penanganan yang terbaik sebelum terlambat.


Gwen menuruni anak tangga sangat hati-hati. Dan dari lantai satu Mommy Megan pun melihat bagaimana cara berjalan Gwen yang terus memegangi perut.


“Gwen, kau kenapa?” Mommy Megan buru-buru berlari menghampiri menantunya. Dia membantu Gwen untuk turun ke bawah.


“Perutku kram, tolong antarkan aku ke rumah sakit,” pinta Gwen disertai dengan sedikit rintihan.


“Astaga ... kenapa bisa seperti itu.” Mommy Megan pun berteriak memanggil suaminya untuk membantu menggendong Gwen sampai ke dalam mobil.

__ADS_1


Kendaraan roda empat yang dikendarai oleh Daddy Marlin itu melesat sangat cepat karena tak ingin terlambat mengambil sebuah tindakan. Tuan Pattinson membopong lagi tubuh menantunya untuk dibawa ke ruang dokter kandungan. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun karena tak tahu juga urusan wanita, cukup membantu saja.


“Kau tunggu di luar saja, Dad. Biar aku yang menemaninya,” pinta Mommy Megan.


“Oke.” Daddy Marlin menurut, yang terpenting calon cucunya dan menantunya baik-baik saja.


Di dalam ruangan, dokter mengecek kondisi kandungan Gwen setelah diberi tahu jika mengalami kram. Mommy Megan hanya menatap layar monitor untuk USG, padahal dia tak paham bagaimana kondisi calon cucunya.


“Kurangi pikiran Anda, Nona. Beruntung janinnya masih kuat bertahan, jika terus menerus tak mengontrol pikiran dan sampai stres, bisa terjadi keguguran,” nasihat dokter Mallory.


“Tidak perlu, Nyonya. Saya resepkan obat dan vitamin saja.”


Mommy Megan mengangguk mengerti. Setelah menebus resep dari dokter, mereka pun kembali ke mansion.


...........

__ADS_1


Tiga hari berlalu, Mommy Megan selalu menemani Gwen di dalam kamar seraya mengelus perut yang masih datar milik menantunya. “Apa yang membuatmu banyak pikiran, Gwen? Karena menganggur? Atau bosan? Atau ada hal lain?” Dia mulai menginterogasi demi kebaikan kedepannya, tentu saja untuk mengantisipasi agar Gwen tak memikirkan beban berat lagi.


“Semalam aku mendapatkan telepon dari nomor baru,” ungkap Gwen.


“Lalu?”


“Ternyata itu adalah Danzel.”


“Bagus dong kalau dia sudah menghubungimu.” Mommy Megan membelai rambut menantunya layaknya seorang ibu.


“Tapi sekarang nomornya tak aktif lagi,” keluh Gwen, wajahnya terlihat sedih.


“Mungkin dia sudah berangkat kerja.” Mommy Megan mencoba menenangkan Gwen agar tak berpikiran negatif.


...*****...

__ADS_1


...Giveaway berakhir hari ini pukul 20:00 WIB ya, jangan sampe kelewatan....


__ADS_2