
Gwen membawa anak-anaknya berjemur di taman yang ada di bagian depan mansion keluarga Pattinson. Dia menggendong satu bayi dan dua lainnya digendong oleh babysitter untuk menghangatkan tubuh bocah mungil berumur satu bulan tersebut.
“Mama, aku mau lari-lari ke sana.” Aldrich meminta izin terlebih dahulu pada Gwen seraya menunjuk area tanaman yang ditumbuhi pepohonan besar juga.
“Boleh, tapi jangan keluar gerbang, oke?” peringat Gwen dengan halus.
“Oke, mama.” Aldrich pun menarik lengan kakak tirinya. “Kakak, ayo kita bermain petak umpet,” ajaknya.
Selena mengangguk menyetujui. “Kau yang bersembunyi, aku akan menghitung.”
Aldrich dan Selena berjalan menuju area tumbuhan hijau yang lumayan tinggi hingga membuat tubuh yang kecil itu tak terlihat oleh jangkauan Gwen.
“Tolong bantu amati anak-anakku,” pinta Gwen pada salah satu babysitter yang tak menggendong bayinya.
“Baik.” Babysitter itu mengikuti ke mana perginya Selena dan Aldrich.
__ADS_1
Aldrich sedang bersembunyi di balik pohon yang berada di dekat gerbang. “Kakak Selena lama sekali menemukan aku,” gumamnya. Dia sampai duduk selonjoran karena kakinya mulai pegal berdiri.
“Aldrich,” panggil seseorang yang ada di balik gerbang tinggi yang tak bisa dibuka tutup.
Aldrich yang merasa dipanggil itu pun mengalihkan pandangan mencari sumber suara. Dan saat melihat orang yang memanggil, dia menangis sekeras-kerasnya. “Mama ... monster, ada monster!” teriaknya.
Saking paniknya, Aldrich hanya bisa menangis dan menutup mata saja. “Tolong, mama, kakak Selena, papa.” Dia memanggil semua orang.
Gwen yang mendengar tangisan anak tirinya pun segera berjalan cepat mencari Aldrich. Tak butuh waktu lama, cukup mengikuti letak sumber suara sudah membawanya di hadapan sang anak.
“Ada monster.” Aldrich menunjuk luar gerbang tapi tetap tak berani melihat.
Gwen memutar tubuhnya untuk melihat monster yang dimaksud Aldrich. Memang benar ada seseorang yang sedang berdiri di balik gerbang dengan wajah yang hancur. “Kau siapa? Kenapa menakuti anakku?” tanyanya secara halus.
“Gwen, maafkan aku, aku hanya ingin bertemu anakku sebentar,” ucap orang tersebut.
__ADS_1
Gwen menaikkan sebelah alisnya, kenal betul dengan pemilik suara itu. “Alcie Glee?” panggilnya.
Orang yang dipanggil pun menganggukkan kepala. “Benar.”
Gwen membulatkan mata seolah tak percaya jika orang berwajah hancur itu adalah Alcie Glee. “Apa yang terjadi dengan wajahmu?” tanyanya.
“Operasi plastikku yang terakhir gagal, dan membuat wajahku menjadi bengkak semua dan tak berbentuk lagi,” keluh Alcie. Dia tak seangkuh saat masih cantik.
“Astaga ... kau operasi plastik lagi?” tanya Gwen tak habis pikir dengan Alcie. Seolah tak puas mendapatkan kecantikan alami dan terus menerus merubah bentuk yang sudah diberikan oleh sang pencipta.
Alcie mengangguk. “Iya, aku tak percaya diri dengan wajahku. Karena kau bisa mendapatkan Danzel dengan cepat membuatku ingin merubah wajah seperti dirimu tapi berakhir hancur seperti saat ini,” jelas Alcie menceritakan kenapa dia melakukan operasi plastik lagi. “Izinkan aku bertemu dengan anakku, Gwen. Ku mohon,” pintanya dengan tulus.
“Tunggu sebentar.” Gwen merendahkan tubuhnya, dia mencoba memberikan pengertian pada Aldrich. “Sayang, dia adalah mommymu, kau tak boleh takut, oke? Temui mommymu, ya?” bujuknya.
“Tidak mau, mommy jahat, Aldrich takut,” tolak bocah itu.
__ADS_1
Gwen menghembuskan napasnya lemah seraya mengelus rambut Aldrich. “Mama temani. Mommymu rindu dan berjanji tak akan marah-marah dengan Aldrich lagi,” jelasnya.