
“Sepertinya makanannya sudah datang,” ujar Danzel. Setelah memesan, dia kembali lagi duduk bersama Gwen dan Selena. “Aku buka pintu dulu,” pamitnya.
“Uncle, ikut.” Aldrich merentangkan tangannya minta digendong. Bocah itu baru beberapa hari kenal Danzel sudah lengket saja.
“Oke, boy.” Danzel langsung mengangkat tubuh mungil seberat empat belas kilogram. Ia membuka pintu dan mengambil alih empat papperbag yang dibawa oleh pria penghantar makanannya. Tak lupa memberikan tip juga untuk orang tersebut dengan selembar uang lima puluh euro.
“Ayo kita makan ...!” seru Danzel seraya kakinya menuju arah meja makan. Tetap menggendong Aldrich, dia seperti bapak-bapak yang sudah mahir merawat anak dengan membawa barang bawaan banyak.
Gwen yang melihat Danzel membawa tentangan pun berinisiatif untuk berdiri mendekati pria itu. “Biar aku bantu,” tawarnya.
“Tidak perlu, kau duduk manis aja,” tolak Danzel. Tangannya mencoba menghindar saat Gwen hendak meraih papperbag.
Gwen tak gentar, tak ingin seperti istri majikan yang tinggal menunggu lalu semuanya sudah beres. Ia tetap meraih barang yang dibawa Danzel saat sampai di meja makan. “Kau itu kerepotan membawa dan menyusunnya, masih saja menolak bantuanku.”
“Aku hanya ingin memperlakukan orang spesial seperti ratu di rumahku,” balas Danzel.
Pria itu beranjak meninggalkan Gwen sebentar untuk mendudukkan Aldrich di samping Selena sembari menunggu makanan terhidang di meja. Ia lalu kembali menghampiri wanita pujaan hatinya yang sedang asyik mengeluarkan makanan dari dalam papperbag. ikut menyusun hidangan lezat yang baunya menggugah selera makan.
“Mau ku hangatkan?” tawar Gwen setelah membereskan papperbag yang sudah kosong. Ia melihat makanan sudah banyak yang dingin.
__ADS_1
“Boleh, dipeluk saja sudah cukup hangat tubuhku,” bisik Danzel di telinga Gwen.
Dan pria itu mendapatkan cubitan di lengan. “Makanannya maksudku yang dihangatkan.” Gwen mencoba meluruskan ucapannya yang tadi terdengar ambigu.
Danzel hanya mengusap satu kali lengannya. Tak terasa sakit karena Gwen seperti bukan mencubit. “Hangatkan yang lain juga boleh.” Tetap saja pria itu terus menggoda wanitanya.
“Kalau begitu, aku pinjam microwavemu agar makanannya tetap hangat.” Gwen memilih untuk membawa hidangan tersebut ke pemanas daripada meladeni Danzel yang setiap saat membuatnya berdebar seperti anak muda yang merasakan jatuh cinta.
Danzel menyandarkan tubuhnya di meja makan, menatap punggung Gwen yang begitu lihai berkutat di dapur.
“Uncle, kenapa lama?” Aldrich yang sudah kelaparan dan tak sabar pun berlari menghampiri Danzel.
“Sudah selesai.” Gwen membawa loyang stainless menggunakan sarung tangan.
“Hore ....” Aldrich langsung duduk di salah satu kursi.
Makanan sudah tersaji banyak di meja makan Danzel. Ada pizza, burger, croissant, dan masih banyak lagi hidangan lainnya yang berjumlah dua belas macam. Padahal orangnya saja hanya ada empat.
Danzel duduk di samping Gwen. Aldrich dan Selena bersebelahan di hadapannya.
__ADS_1
Mereka pun mulai mengisi perut masing-masing. Dua bocah kecil itu terlihat sangat lahap.
Danzel juga tak selama ketika makan di apartemen Gwen saat itu. Ia mengunyah dengan normal tanpa diperlambat sedikit pun.
“Mama ... mau pipis,” rengek Aldrich yang tak tahan ingin mengeluarkan urinenya.
“Biar aku saja.” Danzel hendak berdiri, tapi Selena sudah menyela.
“Tidak perlu, uncle. Aku saja.” Selena menuntun adik tirinya untuk turun dan menuju toilet.
Selepas kepergian kedua anak itu, suasanya menjadi sunyi. Dan rasa canggung menyelimuti Gwen, tapi tidak dengan Danzel yang biasa saja.
“Apakah makanan sebanyak ini tak berlebihan untuk kami?” lirih Gwen di sela kunyahannya. Ia mencoba mengobrol dengan Danzel untuk memecah keheningan di sana.
“Tidak, bisa untuk sarapan besok juga jika tak habis,” balas Danzel. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap rakus sosok cantik yang sangat dia ingin miliki. Sudut bibir kanannya terangkat saat melihat ada saus yang tersisa di salah satu bagian wajah Gwen.
...*****...
...Gwen, yakin deh kamu kalo gamau sama Danzel tuh bilang aja. Udah banyak yang antri tuh mau gantiin kamu wkwkwk....
__ADS_1