
Kini di ruang VIP itu hanya tersisa Danzel, Gwen, Mommy Megan, dan Daddy Marlin. Kedua orang tua itu kembali datar menatap Gwen setelah tak ada lagi yang bisa ditertawakan karena Aldrich sudah keluar.
“Gwen, perkenalkan ini orang tuaku. Mommy Megan dan Daddy Marlin,” ujar Danzel seraya menunjuk pabrik pembuatannya secara bergantian.
Gwen tersenyum sopan pada kedua orang itu. “Senang bertemu dengan kalian,” tuturnya. Walaupun hatinya sedang berdebar tak karuan.
“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Kini Mommy Megan pun mengeluarkan suaranya. Kasian juga mengerjai wanita pilihan anaknya. “Kau tak perlu tegang, aku bukan calon mertua jahat yang akan menyuruhmu meninggalkan putraku,” terangnya. Dia memilih menyudahi aktingnya yang memasang wajah datar.
Gwen mulai bisa bernapas lega, suasana di ruangan itu kini mulai menghangat. “Maaf, baru pertama kali bertemu dengan kalian sehingga membuatku memiliki rasa takut yang berlebihan,” jelasnya.
“Untuk apa kau takut pada kami. Pertemuan ini bukan untuk menakutimu, kami hanya ingin mengenal bagaimana wanita yang dipilih oleh Danzel,” ungkap Daddy Marlin.
“Lebih baik kita makan terlebih dahulu, baru lanjutkan mengobrol. Aku sudah sangat lapar,” ajak Mommy Megan.
“Setuju,” sahut Danzel dan daddynya. Sedangkan Gwen masih merasa canggung.
__ADS_1
Mereka pun memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum sesi tanya jawab dimulai. Tujuan Mommy Megan memang ingin mencari tahu bagaimana latar belakang dan kepribadian wanita pilihan putranya.
Tiga puluh menit berlalu, mereka sudah menandaskan makanan walaupun tak semua hidangan di sana habis.
“Oke, Gwen. Boleh aku bertanya lebih jauh tentangmu?” Sebelum mengajukan pertanyaan, Mommy Megan meminta izin terlebih dahulu. Kini dia terdengar lebih bersahabat karena menjadi wanita dingin bukanlah kebiasaannya.
Gwen mengangguk. “Silahkan.”
“Siapa nama lengkapmu, Gwen?” tanya Mommy Megan.
“Gwen Eisten.”
“Kau dari keluarga Eisten? Apa hubunganmu dengan mereka?” Daddy Marlin yang tadinya ingin membiarkan sang istri mengulik tentang Gwen pun akhirnya memilih bereaksi.
“Me—” Gwen tak bisa menjawab pertanyaan itu, bukan karena dia tak ingin tapi Danzel sudah menyerobot.
__ADS_1
“Tidak ada, memangnya yang boleh menggunakan nama Eisten hanya satu keluarga saja?” Danzel menjawab pertanyaan orang tuanya dengan lantang, dia seolah sedang membela wanitanya. Padahal jika dirinya tak memotong pembicaraan Gwen, maka semua orang di sana akan mendengar sebuah kenyataan yang mungkin tak akan pernah bisa diterima oleh Danzel.
“Danzel ...,” bisik Gwen, tangannya yang berada di bawah meja mencoba meraih paha sang pria untuk dia beri kode agar tak menyelanya. “Biarkan aku yang menjawab.”
“Tidak, Gwen. Di sini aku akan membelamu. Aku tak mau kau terpojokkan dengan pertanyaan orang tuaku,” terang Danzel dengan lantang. Bahkan mommy dan daddynya sampai mendengar suaranya.
“Kami tak memojokkan dia, Danzel. Hanya ingin tahu tentangnya saja. Kau itu sudah berpikiran jelek dulu dengan mommy,” omel wanita yang melahirkan keturunan Patt Group itu. “Boleh aku melanjutkan mengajukan pertanyaan?”
“Boleh,” jawab Gwen.
“Apakah dua anak kecil tadi adalah putra dan putrimu?”
Gwen mengangguk. “Benar.”
“Selena dan Aldrich namanya. Aku sangat menyayangi mereka dan sudah ku anggap seperti anakku sendiri,” imbuh Danzel. Apa pun pertanyaannya, dia harus ikut menjawab. Dia ingin menunjukkan bahwa hatinya memang sungguh menginginkan Gwen. “Bukankah enak jika menyetujui hubunganku dengan Gwen? Kalian langsung mendapatkan dua cucu sekaligus,” tanyanya.
__ADS_1
...*****...
...Ayo tadi mana yang bilang mau kirim kopi sama bunga lagi kalo aku up. Udah aku up lagi ini, sekarang aku tagih hadiah kopi apa bunganya. *masih mode malak*...