My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 176


__ADS_3

Danzel langsung menggendong istrinya saat sampai ke rumah sakit. Sebelumnya dia sudah membuat janji melalui telepon dengan dokter Mallory yang sudah dia jadikan sebagai dokter pribadi khusus saat istrinya hamil.


Tubuh Gwen sudah di rebahkan ke atas brankar setelah memasuki ruangan dokter kandungan tersebut. Dan dokter Mallory segera menghampiri pasiennya.


“Saya periksa terlebih dahulu, Tuan.” Dokter Mallory meminta Danzel untuk berpindah posisi di tempat duduk yang ada di sebelah kiri Gwen.


Danzel menurut saja semua yang diperintahkan oleh dokter. Dia melihat bagaimana istrinya dicek oleh wanita berjas putih. Dia bisa melihat tiga anaknya yang berada di dalam kandungan Gwen.


“Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan anak-anak kita di dunia,” ujar Danzel seraya tangannya mengelus kulit istrinya.


Dokter menurunkan lagi pakaian Gwen hingga menutupi perut buncit. “Posisi anak sudah siap di jalan lahirnya. Tapi saya tidak menyarankan untuk melahirkan bayi kembar tiga secara normal. Apakah Anda bersedia untuk operasi caesar?” tawarnya meminta persetujuan pasien terlebih dahulu.


“Lakukan saja jika itu yang terbaik, dok.” Danzel langsung menyetujui tanpa pikir panjang ataupun berdiskusi dengan istrinya. Jika dokter sudah menyarankan pasti itu yang lebih baik daripada opsi lainnya. Apa lagi dia tak terlalu ahli dibidang kesehatan sehingga tak mau sok tahu dan membangkang saran dari dokter.

__ADS_1


“Baik, saya siapkan ruang operasinya terlebih dahulu.” Dokter Mallory kembali ke tempat duduknya, menelepon pihak administrasi untuk mempersiapkan ruangan untuk pasiennya.


Karena Danzel adalah member VVIP di rumah sakit itu, mereka tak perlu menunggu waktu lama. Brankar yang ditiduri oleh Gwen didorong oleh perawat menuju ruang operasi khusus anggota VVIP.


Danzel setia menunggu persalinan di samping sang istri. Mengelus kening Gwen dan tak pernah melepaskan genggaman tangan keduanya.


Dokter mulai menyuntikkan bius lokal dan mencoba mencubit bagian yang akan disayat. “Apakah Anda merasakan sakit?”


“Pegang dadaku,” pinta Gwen mengarahkan tangan suaminya menyentuh dadanya. “Kenapa aku berdebar saat melahirkan untuk kedua kalinya?” gumamnya.


“Tenang, Sayang. Mungkin kau sudah tak sabar ingin melihat anak-anak kita,” jawab Danzel.


Danzel mengelus dada Gwen agar pasangannya lebih relax. Dia banyak memberikan sentuhan pada sang istri yang baru pertama kali melakukan operasi.

__ADS_1


Perut Gwen disayat oleh dokter. Bayi pertama mulai dikeluarkan dari dalam perut. Dokter memperlihatkan pada Danzel dan Gwen tubuh mungil yang langsung menangis itu. “Anak pertama Anda laki-laki,” ujarnya.


Setelah Danzel dan Gwen melihat wajah tampan yang mirip dengan sang papa, dokter memberikan bayi tersebut kepada perawat untuk ditempelkan pada dada pasien.


Gwen berkaca-kaca melihat putranya yang langsung diam tak menangis lagi saat mendapatkan sentuhan darinya.


Perawat itu mengambil lagi bayinya untuk diukur dan dibersihkan.


Bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan menyusul lahir ke dunia selang satu menit. Dan dilakukan prosesi sama dengan yang pertama.


“Selamat, Anak ketiga juga perempuan.” Dokter menyerahkan bayi kepada perawat lagi dan segera menutup bekas sayatan yang tadi dia buat sebagai jalan lahir.


Danzel dan Gwen tak bisa membendung air mata haru keduanya. Awalnya berpikir hanya akan memiliki dua bayi saja saat melakukan program hamil. Ternyata keajaiban datang dan memberi mereka kebahagiaan sekaligus tiga.

__ADS_1


__ADS_2