
Setelah makan bersama para mantan, Danzel melanjutkan jalan-jalan membelikan Gwen, Selena, dan Aldrich pakaian baru yang lebih modis dan berkelas. CEO muda itu terus memaksa agar mau menerima pemberiannya saat ditolak oleh Gwen.
“Ini semua pemberian Mommyku, jangan menolaknya karena dia pasti akan murka,” ancam Danzel. Padahal hanya akal-akalannya saja.
“Tapi ini sangat berlebihan, satu pakaian saja bisa untuk biaya makanku selama satu bulan,” jelas Gwen merasa tak enak. Dia seperti wanita yang memanfaatkan keadaan jika seperti ini.
“Sht ....” Danzel meminta Gwen untuk diam. “Ini adalah keuntungan yang kau dapat karena dicintai oleh keturunan keluarga Pattinson,” tuturnya.
“Apakah barang ini jadi diambil, Tuan?” Salah satu karyawan yang bertugas di bagian kasir itu menyela perdebatan kecil Danzel dan Gwen. Sedari tadi dia dihadapkan oleh kemesraan yang membuat jiwa jomblonya meronta.
“Jang—” Mulut Gwen sudah dibekap oleh Danzel saat hendak mengatakan jangan. Dia bermaksud mengambil satu saja pakaian, dua puluh pasang kain berharga fantastis itu rasanya sangat berlebihan untuknya. Belum lagi dua anaknya sudah mendapatkan banyak pemberian juga.
“Jadi, scan semuanya,” titah Danzel dan langsung dilaksanakan oleh petugas kasir tersebut.
“Total semuanya seratus ribu euro.”
__ADS_1
Danzel mengeluarkan kartu saktinya yang bisa membeli barang apa pun. Nominal itu mencapai kurang lebih satu setengah miliar rupiah. Tentu saja Gwen melongo dan bergeleng kepala saat dibelikan pakaian semahal itu.
“Ini yang terakhir,” pinta Gwen. Dia tak mau lagi dibelikan barang-barang mahal.
“Aku tak janji. Karena permintaan mommyku terkadang sulit untuk ditolak.” Danzel mencoba memberikan alasan dengan membawa orang tuanya. Padahal murni ini adalah keinginannya.
Danzel dan Gwen pun menyusul ke tempat bermain di mana anak-anak Gwen berada di sana dijaga oleh Chimera.
Selama seharian penuh mereka menghabiskan waktu di mall. Bersuka cita seolah tak ada masalah apa pun yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
...........
Apa lagi sekarang sudah musim dingin, membuat Danzel rajin sekali mencari kehangatan dari olahraga di atas ranjang. Tapi ada yang lain juga bagi Gwen, waktu yang ditunggu oleh wanita itu sebentar lagi akan tiba. Menjenguk suaminya di penjara.
Salju di luar sana turun begitu lebat sampai jalanan sekitar tertutup oleh gundukan dingin berwarna putih.
__ADS_1
“Uncle, aku ingin bermain salju, boleh?” tanya Aldrich. Dia mengamati dari jendela, begitu kagum dengan setiap rintik putih yang turun ke bawah.
“Boleh. Ayo kita keluar,” ajak Danzel. Dia menggendong Aldrich dan mengajak Selena serta Gwen untuk ke bawah.
“Uncle, ini dingin sekali,” ujar Aldrich saat memegang salju. Dia seperti baru pertama kali diizinkan bermain itu.
“Tentu saja, boy. Ini memang seperti es. Bahkan kalau kau membuang air panas tak akan meleleh, justru airnya akan cepat berubah menjadi dingin,” jelas Danzel.
“Kau bermainlah seperti kakakmu,” perintah Danzel seraya menunjuk Selena yang saat ini sedang membuat bulatan.
“Uncle, ayo kita bermain lempar salju,” ajak Selena. Dia sudah bersiap melemparkan bulatan yang baru saja dibuat.
“Boleh, ayo.” Danzel pun membiarkan tubuhnya mendapatkan serangan terlebih dahulu dari calon anak sambungnya.
Melihat betapa asyik anak-anaknya dan Danzel bermain, membuat Gwen juga ingin bergabung. “Mama boleh ikut?”
__ADS_1
...*****...
...Gaboleh, ngowoh aja kamu Gwen liatin anakmu makin deket sama Danzel wkwkwk. Dah ah mau malak kopi sama kembang lagi aku....