
Daripada ribut di dalam ruangannya, lebih baik Danzel mengajak dua manusia pengganggu acara modusnya untuk keluar. Ternyata mereka hanya ingin menginformasikan kalau sudah selesai membuat rekening baru.
“Sial! Kalian menggangguku hanya untuk sebuah informasi tak penting itu,” rutuk Danzel. Namanya juga sedang dimabuk cinta, diganggu sedikit sudah meraung seperti singa.
“Itu penting, Tuan. Karena kalian belum melunasi lima ribu euro padaku,” ujar Chimera dengan sorot matanya yang tajam.
Danzel mengeluarkan ponselnya, meminta nomor rekening kedua orang itu. Detik itu juga dia mentransfer uang. “Sudah! Jadi, siapa namamu?” Dia tak mau rugi juga, sudah membayar mahal tapi tak mendapatkan apa pun.
“Chimera.” Bukan orang yang bersangkutan yang menjawab, tapi Steve.
Asisten CEO Patt Group itu langsung mendapatkan pelototan dari Danzel. “Steve!”
“Ya, Tuan?”
“Jadi kau sudah tahu namanya?”
“Benar, Tuan.”
Danzel meremas tangannya di depan wajah Steve. “Kenapa kau tak memberitahukan padaku sejak tadi.” Gemas sekali rasanya CEO muda itu.
Steve menyengir kuda. “Agar Anda merasakan bagaimana sensasinya berdebat dengannya.”
__ADS_1
“Haish ... dasar asisten laknat,” umpat Danzel. Sorot matanya beralih menatap Chimera, dia tak ingin memperbesar masalah sepele itu. “Kau.”
“Ya?”
“Mulai detik ini juga kau sudah harus bekerja menjaga wanitaku dan anak-anaknya selama dua puluh empat jam,” titah Danzel.
“Berarti aku harus mengawasinya ketika dia tidur, mandi, buang air, berganti pakaian juga?” tanya Chimera dengan nada bicara dan wajah yang datar.
“Tidak, kecuali itu.” Danzel benar-benar dibuat bergeleng kepala dengan wanita satu ini. Ternyata sama mengesalkan seperti Steve. Tapi orang-orang seperti itu justru setia dengannya.
“Tadi kau mengatakan aku harus menjaga dua puluh empat jam. Itu artinya tak ada satu detik pun waktuku untuk istirahat,” timpal Chimera. Berani sekali dia melawan CEO muda itu. Tapi memang ada benarnya juga apa yang dikatakan olehnya.
“Bukan itu maksudku. Kau harus siaga menjaganya dua puluh empat jam, boleh istirahat tapi ketika tidur pun kau harus waspada dengan lingkungan sekitar wanitaku.” Danzel yang posesif itu pun meluruskan perintahnya.
“Hei! Aku saja yang sudah bekerja selama lima tahun di sini gaji satu bulan sama denganmu yang baru saja masuk, masih meminta naik,” protes Steve tak terima. “Aku juga menuntut naik gaji kalau dia dinaikkan,” pintanya pada Danzel.
Danzel berkacak pinggang melihat kedua orang itu yang sedang bertengkar. Membuatnya pusing. “Oke, kalian berdua ku naikkan gajinya. Tiga puluh ribu euro untuk Chimera dan tiga puluh lima ribu euro untuk Steve,” finalnya. Karena memang pekerjaan mereka lebih banyak daripada karyawannya yang lain.
“What? Kenapa ada selisih lima ribu? Aku ingin sama,” protes Chimera.
“Kau baru akan mulai bekerja, jadi gaji sebanyak itu sudah lumayan. Lagi pula aku belum melihat kinerjamu,” jelas Danzel.
__ADS_1
“Oke, aku terima.”
“Ingat, jangan menggangguku lagi. Telepon aku jika ada yang penting,” peringat Danzel. “Dan kau, Steve.” Ia menunjuk asistennya.
“Ya?”
“Jangan memasang bel rumah di ruanganku! Bisa-bisa membuat Gwen menganggapku aneh,” titah Danzel sebelum asistennya berbuat sesuatu hal yang merugikan citranya di mata sekretarisnya.
“Baik, Tuan.”
Danzel pun meninggalkan Steve dan Chimera. Dia kembali ke dalam ruangannya.
Dan setelah CEO muda itu menghilang, Steve dan Chimera bersamaan menyunggingkan senyum.
“Kita berhasil,” ujar Steve.
“Ternyata kau benar, CEO satu itu sudah dimabuk cinta dan rela memberikan segalanya termasuk uang,” balas Chimera.
Ternyata, mereka berdua memang sengaja berakting untuk bertengkar masalah gaji yang sedikit agar dinaikkan. Dan berhasil, Danzel sungguh memberikan kenaikan gaji pada mereka berdua.
...*****...
__ADS_1
...Steve udah punya istri ya, jangan dijodohin sama Chimera wkwkwk...