My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 133


__ADS_3

“Pergilah, jaga Gwen baik-baik dan jangan membuatnya kelelahan.” Mommy Megan mendorong tubuh putranya agar segera keluar dari mansion.


“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, Mom,” pinta Danzel sebelum meninggalkan orang tuanya.


“Iya, kau jangan memberikan Gwen pekerjaan dulu, biarkan dia istirahat di apartemen.” Mommy Megan menasehati putranya, dia sudah berharap kram perut calon menantunya itu karena tanda-tanda awal kehamilan. Tapi besok akan memastikan secara langsung agar tak salah berasumsi seperti putranya yang langsung menilai Gwen adalah seorang janda tanpa mencari tahu terlebih dahulu.


Danzel mengecup kening mommynya sebelum masuk ke dalam mobil. “Jaga kesehatanmu agar bisa menyaksikan aku menikah dan menggendong cucumu,” harapnya.


“Iya.” Mommy Megan membukakan pintu mobil putranya dan segera mendorong Danzel masuk hingga duduk di kursi kemudi.


Setelah kepergian putranya, Mommy Megan segera masuk ke dalam dan mengambil ponselnya. Dia ingin memastikan sesuatu pada Gwen.


“Dad,” panggil Mommy Megan membangunkan suaminya.


“Hm?” Daddy Marlin menarik tangan istrinya hingga terjatuh ke pelukannya.


“Kau melihat di mana ponselku?” tanya Mommy Megan seraya melonggarkan tangan sang suami agar melepaskannya.


Daddy Marlin enggan membuka matanya. Dia mengedikkan bahu dan membawa kepala sang istri agar bersemayam di dada bidangnya. “Lebih baik kita tidur saja. Untuk apa mencari ponselmu,” ajaknya.


Mommy Megan mencubit kecil dada suaminya yang tak memakai sehelai benang pun. “Aku ingin memastikan Gwen sungguh memiliki tanda-tanda kehamilan atau tidak,” ungkapnya.

__ADS_1


Dan Daddy Marlin pun baru melepaskan istrinya. “Ada di dalam laci kerjaku.” Dia yang tadi malas membuka mata, kini justru mengekor di belakang Mommy Megan untuk menguping pembicaraan antar wanita melalui sambungan telepon.


Mommy Megan yang sudah mendapatkan ponselnya pun langsung menghubungi calon menantunya.


“Keraskan suaranya, aku juga ingin dengar,” pinta Daddy Marlin.


Mommy Megan pun melakukan seperti perintah yang diinginkan suaminya. Masih terdengar suara sambungan telepon, belum diangkat sampai terputus sendiri.


“Mungkin dia sedang istirahat,” ujar Mommy Megan mencoba berpikiran baik.


“Coba sekali lagi, mungkin dia baru saja ke toilet.”


“Ada apa aunty? Maaf aku baru saja ke toilet,” sapa Gwen.


“Gwen, apa benar kau beberapa kali merasakan kram perut?” tanya Mommy Megan.


“Iya, apa Danzel yang mengatakan padamu?”


“Ya. Apa kau mengalami sedikit bercak seperti akan haid?”


“Iya beberapa hari yang lalu.”

__ADS_1


“Kau sudah haid bulan ini?”


“Belum.”


“Kau mual?”


“Tidak.”


“Pusing?”


“Tidak, aku baik-baik saja.”


“Oke, besok aku akan ke apartemenmu. Kau minta saja libur pada Danzel.”


“Kenapa?” Gwen justru bingung mengapa calon mertuanya tiba-tiba bertanya banyak hal dan memintanya libur kerja. Sebab, tanda-tanda yang dia rasakan mirip seperti saat menjelang haid dan ketika kehamilan Selena pun dia merasakan pusing dan mual. Sehingga kali ini dia tak berpikiran bahwa bibit kehidupan dari Danzel mulai berkembang di rahimnya.


“Besok kau juga akan tau. Ku tutup dulu, Danzel sedang perjalanan ke sana.” Mommy Megan pun menyudahi interogasi kecil-kecilannya. Dan menatap suaminya dengan wajahnya yang senang. “Sepertinya kita akan segera memiliki cucu. Kalau program hamil anak kembarnya berhasil, kita langsung memiliki dua.”


“Apa Gwen hamil?”


“Kurasa begitu, tapi dia tak menyadarinya.” Mommy Megan pun mengajak suaminya kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2