
Dingin menusuk kulit Danzel yang tak terbalut selimut. Membuat pria tampan itu perlahan membuka matanya. Ia terkekeh bahagia saat melihat kain tebal miliknya ternyata sudah dikuasai oleh Selena dan Aldrich.
Biasanya Danzel sendiri yang memakai selimut hangat itu. Tapi sekarang rasanya begitu indah saat ada orang lain yang masuk ke dalam kehidupannya. Tak datar lagi hari-harinya seperti dahulu.
Danzel menyapu pandangannya ke seluruh kamarnya. Mencari sosok wanita yang sangat ingin dia lihat berada di sana. “Apakah Gwen belum selesai juga? Atau cleaning service tak jadi datang?” gumamnya.
Danzel perlahan menurunkan kakinya dari ranjang agar tak mengganggu tidur kedua calon anak sambungnya. Melihat jam digital yang ada di atas nakas. “Sudah tengah malam,” lirihnya.
Kaki yang ditumbuhi bulu lebat itu mengayun keluar kamar. Dia langsung terhenti di ambang pintu saat melihat Gwen meringkuk di atas sofa.
“Kenapa kau tidur di sana? Ranjangku bahkan masih luas untuk tidur kita berempat,” gumam Danzel. Dia tak tega melihat wanitanya terlihat kedinginan tanpa selimut. Bahkan tubuh Gwen hanya dibalut dengan kaus dan celana santai panjang saja.
Danzel mengambil remot AC, menaikkan suhu di ruang tamunya. Kakinya pun menuntun dirinya untuk mendekati Gwen.
__ADS_1
Melihat ada sisi kosong di sofa, Danzel mendudukkan tubuhnya di sana. Menatap lekat wajah yang terpejam tanpa balutan make up sedikit pun.
Tangan kekar Danzel perlahan terulur untuk merapikan anak rambut yang menempel di kening wanitanya. “Bagaimana caranya agar kau bisa luluh denganku seperti anak-anakmu?” Ia bertanya dengan orang yang kini sedang berselancar di alam mimpi, tak peduli direspon atau tidak yang penting dia mengutarakan isi hatinya.
Dua sudut bibir Danzel terangkat sempurna saat tangannya mengusap lembut pipi yang begitu halus. Lalu berpindah ke bibir. “Rasanya ingin ku sesap dan tak pernah ku lepaskan.”
“Dingin ....” Suara Gwen sangat lirih terdengar di telinga Danzel. Tapi matanya masih terpejam, dia hanya mengigau saja.
“Dingin ....” Tanpa sadar, Gwen menarik tangan Danzel yang bersemayam di wajahnya untuk dia peluk, hingga tubuh kekar itu tertidur di balik punggungnya.
Sial, tangan Danzel yang didekap oleh Gwen berada tepat di belahan dada wanita itu. “Gwen ... ujianku kali ini sangat berat,” rutuknya.
Ingin sekali Danzel nakal memasukkan ke balik kaus Gwen. Tapi pasti dia menginginkan sesuatu yang lebih.
__ADS_1
“Dingin ....” Lagi-lagi Gwen mengigau. Suhu di ruangan itu tadi tak sedingin ini.
Ternyata Danzel salah memencet tombol, bukan menaikkan tapi justru membuat temperatur di sana kian menusuk kulit. Tapi dia tak sadar akan kelalaiannya itu. Namanya juga baru bangun tidur, nyawa belum sepenuhnya kembali.
Danzel yang mendengar Gwen terus merintih kedinginan pun kian menggeser tubuh wanitanya hingga mepet ke sandaran sofa. Dia menghilangkan pikiran nakal yang sempat menghantui otak mesumnya.
Danzel menarik perlahan tangan yang masih dipeluk Gwen. Ia menaikkan sedikit kepala wanitanya, menempatkan lengannya untuk dijadikan bantal.
“Aku akan menghangatkanmu, Gwen,” bisiknya. Hembusan napasnya bahkan menyapu di tengkuk wanita itu.
Jika Gwen bukan tengah tertidur, pasti dia sudah menggelinjang karena titik sensitifnya mendapatkan serangan. Tapi untungnya saat ini masih terlelap.
Danzel memeluk Gwen sangat erat, kakinya bahkan menindih kaki Gwen. Ia tak membiarkan dingin menyerang wanitanya.
__ADS_1