My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 148


__ADS_3

“Bukan, Nyonya,” bohong Steve. Dia sekarang jadi sering mengucap dusta karena menutupi keberadaan atasannya.


Mommy Megan menarikkan kursi untuk menantunya duduk agar tak kelelahan berdiri. Dan justru dia memilih untuk tetap tegak.


“Mommy saja, aku masih kuat,” tolak Gwen.


Nyonya Pattinson itu memelototkan mata agar sang menantu tak menolak perintahnya. Dan akhirnya Gwen pun lebih memilih untuk mengalah.


Mommy Megan kembali fokus pada asisten anaknya. “Sejujurnya Danzel pergi ke mana? Kenapa dia lama sekali tak pulang dan sulit dihubungi?” cecarnya menyerang dengan sederet pertanyaan.


Steve diam terlebih dahulu tak langsung menjawab. Matanya berputar ke atas seolah sedang berpikir. “Tuan Danzel sangat sibuk, Nyonya. Ada projek dadakan yang sedang dia urus, sehingga belum sempat untuk menghubungi siapa saja termasuk aku.”


“Ke mana negara tujuannya?” Gwen ikut mengajukan pertanyaan juga. Setidaknya dia bisa menyusul jika rindu sudah tak bisa ditahan lagi.

__ADS_1


“Perancis, Norwegia, German, Selandia Baru, Italia, Barcelona, dan masih banyak lagi. Kira-kira ada sepuluh negara yang harus dia kunjungi,” jawab Steve. Dia mengucapkan semua negara itu secara asal.


“Sekarang dia ada di negara mana?” Gwen lanjut menyelesaikan rasa ingin tahunya.


“Barcelona,” jawab Steve sekenanya.


Mommy Megan langsung menatap tajam pada asisten putranya. Dia menelisik raut pria yang tak jelek tapi juga tak terlalu tampan itu. Seperti melihat ada sesuatu yang disembunyikan. “Itu kau bisa tahu tentang keberadaan Danzel. Tadi kau berkata anakku sangat sibuk sampai tak bisa menghubungi siapa saja termasuk kau.”


“Sesekali Tuan Danzel mengirimku pesan untuk memberitahukan tentang pekerjaan. Setelah itu dia tak bisa dihubungi lagi karena ingin fokus menyelesaikan projek dan sedang mengikuti pemilihan tender,” jelas Steve. Rasanya saat ini ingin menampar mulutnya sendiri yang sudah banyak mengeluarkan kebohongan. “Anda tahu sendiri bagaimana Tuan Danzel saat bekerja, fokus dan tak ingin diganggu oleh siapa pun,” imbuhnya.


Gwen menghela napasnya, dia memang belum lama mengenal Danzel sehingga belum banyak mengetahui sifat pasangannya. “Tolong sampaikan padanya jika menghubungimu lagi. Katakan kalau aku merindukannya, jangan lupa hubungi aku,” pintanya.


Mommy Megan mengelus punggung Gwen agar tak bersedih. “Kau tau kapan dia pulang?” tanyanya pada Steve.

__ADS_1


Steve menggeleng. “Tidak, Nyonya. Jika pekerjaan sudah selesai, pasti Tuan Danzel akan pulang.”


“Bagaimana kondisinya di sana? Apakah dia baik-baik saja?” Gwen jauh lebih penasaran dengan kesehatan pasangannya. Tak apa belum bisa pulang sekarang, asalkan tetap sehat maka dia tak akan merasa khawatir.


“Kondisinya baik, tenang saja. Tuan Danzel memang sudah terbiasa seperti ini sejak dahulu,” terang Steve. Matanya beralih menatap Mommy Megan. “Iyakan, Nyonya?” Dia menanyakan pendapat orang tua atasannya yang pasti lebih paham bagaimana karakter anak sendiri.


Mommy Megan mengangguk, memang Danzel saat sibuk bekerja pasti tak mau diganggu. Sampai dia lebih memilih bertanya pada Steve karena sesibuk apa pun putranya, pasti asisten satu itu tahu semuanya. “Ya. Oke, terima kasih, Steve. Kalau ada apa-apa dengan Danzel, tolong langsung hubungi aku,” ujarnya.


Mommy Megan pun mengajak menantunya untuk kembali. Setidaknya Gwen sudah mendengar bahwa Danzel baik-baik saja. Namun saat di dalam lift, dirinya menyempatkan diri untuk mengirim sebuah pesan pada Steve.


...*****...


...Aku nulis ini buat hiburan ya guys, jangan dicari di mana letak nilai yang bisa diambil apa dicontoh dari cerita ini. Aku sendiri gatau wkwkwk soalnya nulisnya emang gaada tujuan buat mengajarkan ke pembaca atau menggurui yang lainnya. Soalnya aku bukan guru hehehe...

__ADS_1


__ADS_2