
“Tuan, ini kotak obat yang Anda minta.” Steve yang baru saja masuk ke dalam ruangan CEO itu berhenti di depan meja kerja Gwen.
“Taruh saja di situ,” titah Danzel menunjuk depan komputer sekretarisnya.
Steve menarik dua sudut bibirnya. Dia seperti memiliki ide gila untuk membalas menjahili atasannya yang tadi sudah mengerjainya di pagi hari.
“Cie ... sekarang sudah mulai berani pegang-pegang tangan,” goda Steve seraya meletakkan kotak obat ke depan komputer.
Ucapan Steve itu membuat Gwen menarik tangannya karena sungkan.
Dan asisten CEO Patt Group itu mendapatkan lirikan tajam dari Danzel.
“Steve, tugasmu sudah beres. Keluarlah, dan selesaikan pekerjaanmu!” titah Danzel. Asistennya benar-benar pengganggu suasana saja. Sungguh tak pengertian dengan usahanya yang sedang mendekati Gwen.
“Baik, Tuan.” Steve melangkahkan kakinya tak terlalu lebar agar tak cepat sampai ke pintu.
Steve menatap atasannya yang sudah kembali fokus pada luka di tangan Gwen. Ia perlahan mendekati Tuan Danzel yang berjongkok memunggunginya.
Dengan gerakan cepat, Steve meraih tangan atasannya. “Jangan hanya tangan saja yang berani dipegang, tapi ini juga,” kelakarnya saat menempelkan bagian tubuh Danzel pada satu gunung milik Gwen.
Baik Gwen maupun Danzel, keduanya sama-sama melotot karena terkejut. Tapi sedetik kemudian ...
Plak!
__ADS_1
Telapak tangan Gwen yang tak sakit pun melayangkan sebuah tamparan di pipi Danzel. Dia reflek melakukan hal tersebut karena bagian tubuhnya yang sensitif dijamah oleh orang lain.
Danzel juga bukannya langsung menjauhkan tangannya, justru menikmati sensasi saat memegang sesuatu yang kenyal di balik kemeja berwarna tosca itu.
“Maaf,” ucap Danzel, menarik tangannya setelah tersadar dan mendapatkan salam dari telapak tangan Gwen. “Aku tak berniat melecehkanmu. Ini ulah Steve, tolong jangan benci aku.” Ia mencoba menjelaskan agar Gwen tak menjaga jarak dengannya.
“Aku juga minta maaf karena sudah menamparmu. Aku begitu terkejut.” Gwen pun ikut merasa bersalah sudah melukai atasannya.
Sedangkan Steve, dalang di balik insiden itu justru sedang terkikik geli. “Kalian sungguh lucu,” selorohnya.
Danzel langsung berdiri. “Biar aku yang mengurus asistenku. Dia kurang ajar sekali,” ujarnya pada Gwen agar terkesan dia tak menikmati sentuhan tadi.
“Tidak pe—” Gwen hendak mencegah Danzel agar tak perlu memperbesar masalah tersebut. Lagi pula bukan salah atasannya juga. Tapi CEO muda itu sudah berlari mengejar Steve keluar.
“Ya, Tuan?” balas Steve masih bertenaga untuk mengecoh atasannya.
“Berhenti, kau! Jika tidak, akan ku potong gajimu seratus persen!” ancam Danzel yang tak kunjung berhasil menangkap Steve.
Dan Steve pun menghentikan langkahnya. Dipotong seratus persen sama saja dia tak gajian.
Pletak!
Danzel langsung menyentil kening asistennya sangat kencang. “Bercandamu keterlaluan, Steve!” tegurnya.
__ADS_1
Steve mengusap jidatnya yang mulai memerah. “Aku hanya membantumu untuk mendekatinya saja, Tuan. Bukankah katamu, tugasku adalah mendukungmu? Itu salah satu bentuk dukunganku,” alasannya.
“Tapi tidak dengan melecehkannya juga, Steve!” Danzel berbicara dengan sedikit frustasi. “Bagaimana jika dia justru ilfeel atau membenciku? Kau bukannya membuat aku semakin dekat, tapi bisa saja tambah jauh,” imbuhnya.
“Tidak mungkin, Tuan. Memangnya Anda tak lihat responnya tadi? Dia saja meminta maaf karena tak sengaja melukaimu,” terang Steve. Memberikan tepukan di pundak atasannya agar tak resah.
“Benar juga katamu. Tapi aku tak enak dengannya,” keluh Danzel menghembuskan napasnya kasar.
“Sungkan tapi Anda menikmatinya, kan?” Lagi-lagi Steve menggoda atasannya. Selagi ada pawangnya, dia berani saja melakukan hal tersebut.
...*****...
Danzel: Thor, kok dibikin dia nampar pipiku, sih. Sakit.
Author: Hilih, sakit-sakit menikmati juga, lu! Ayo, sungkem, berterima kasih dulu sama gue yang udah kasih kesempatan buat pegang icip-icip dikit.
Danzel: Iya, makasih author yang baeknya setengah-setengah. Kurang lama tadi.
Author: Ngelunjak ye, lu!
Danzel: Ampun ... jangan ngambek. Tar ku palakin readers buat kirim kopi sama bunga buat kamu deh.
...*****...
__ADS_1
...From Danzel to Readers: Jangan cengar cengit aja kalian. Ajakin authornya ngopi di taman bunga gih...