My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 86


__ADS_3

...Anget-anget dikit, tapi tetep yang dibawah 21 tahun harap undur diri ya. Terima kasih...


...*****...


Atmosfer di ruangan itu terasa panas, bukan karena udara di luar. Tapi karena suhu tubuh Danzel rasanya seperti mendidih. Tangan kekar itu perlahan menaikkan ritsleting, tapi jemarinya memang nakal menyentuh punggung mulus Gwen.


“Danzel, tolong hentikan, geli,” pinta Gwen. Dia merasa ada sesuatu yang mengeras menyentuh pantatnya. Umur yang sudah tua ditambah pernah memiliki anak membuatnya tak polos lagi dengan hal tersebut. Sedari tadi tubuhnya menggeliat melawan sensasi yang pastinya akan menghidupkan keinginannya akan bercinta.


Danzel tak mengindahkan permintaan wanitanya. Dia justru menyibakkan rambut yang setengah menutupi pinggung Gwen. Memberikan kecupan di kulit yang mulus itu dan sedikit meninggalkan sensasi geli menggunakan lidahnya.


Pria itu sengaja bernapas sedekat mungkin, menyapu kulit leher wanitanya hingga meremang. Melingkarkan kedua tangannya di pinggul agar Gwen tak beranjak darinya.


“Gwen, maukah kau menerima bibit-bibit kehidupan dariku?” tanya Danzel dengan berbisik di telinga sekretarisnya. Suaranya terdengar serak dan seksi, napasnya bahkan sangat panas. Ia sedang menginginkan sesuatu dari sang wanita.


“Ma—maksudmu?” tanya Gwen dengan terbata-bata. Sial! Tubuhnya begitu tegang saat ini, ingin mendapatkan pelepasan.


Danzel membalikkan tubuh Gwen, namun tetap tak mau memberi jarak antara geoducknya dengan milik sang wanita. Tangan kanannya meraih dagu sekretarisnya, mengarahkan sorot keduanya agar saling bertubrukan.

__ADS_1


“Mengandunglah anakku, Gwen.” Danzel tak meminta persetujuan, namun dia memohon pada wanita itu. Ini adalah cara dia mengatasi agar orang tuanya menerima Gwen.


“Hubungan kita terlalu singkat, Danzel. Aku takut kita menyesal suatu saat nanti jika salah satu merasa tak cocok,” balas Gwen. Bukannya dia tak ingin, tapi hatinya belum sepenuhnya menerima atasannya itu.


“Tidak akan. Jika sudah melabuhkan pilihan hati, aku tak pernah berubah.” Danzel terus meyakinkan Gwen. Sorot matanya sungguh mengiba.


“Kita—” Bibir Gwen sudah dibungkam oleh Danzel dengan sebuah ciuman panas.


Danzel tak mengizinkan wanitanya menolak. Tangan berototnya membopong sang wanita untuk keluar ruangan yang sempit jika digunakan untuk bercinta itu.


Tanpa melepaskan ciumannya, Danzel menggendong Gwen menuju sofa yang empuk dan bergaya elegan.


Danzel mulai menyesap bagian leher Gwen, memainkan lidahnya di sekitar daerah sensitif hingga wanita itu mendesah.


“Danzel ...,” panggil Gwen yang sudah tak kuasa lagi menolak prianya.


“Sht ....” Danzel menempatkan telunjuknya di bibir Gwen agar diam. Dia pikir wanitanya akan mengeluarkan sebuah kalimat untuk menolak.

__ADS_1


“Aku akan bermain dengan lembut, Sayang.” Perlahan Danzel menurunkan lagi ritsleting yang tadi dia naikkan, membuat area atas wanitanya terpampang nyata di hadapannya.


Mata Danzel tak berkedip melihat sebuah belahan yang begitu menggoda. “Gwen, berapa ukuranmu?” tanyanya. Jemarinya mengelus lembut benda kenyal itu.


“Tiga puluh enam C,” jawab Gwen tanpa rasa malu.


“So big, and i love it.” Danzel memuji milik Gwen besar dan dia menyukai itu. Bibirnya mengecup belahan wanitanya.


Perlahan Danzel merebahkan tubuh Gwen di sofa, dan melucuti gaun. Membiarkan pakaian mahal itu di lantai.


Danzel mencium bibir, perlahan turun ke leher dan terakhir pada area sensitif daerah bawah yang sangat lembut.


Danzel ingin melepas kain terakhir yang menutupi di daerah itu. Namun tangan Gwen mencegah.


“Danzel, aku malu, belum cukur.” Gwen menggelengkan kepalanya agar prianya tak melanjutkan ritual mengenakkan itu.


...*****...

__ADS_1


...Padahal aku rajin up, tapi yang kasih hadiah dikit huaaaa ... apakah aku harus pelit update kaya yang lain biar disogok pake kopi segentong yang banyak biar cepet up. Hiks ... hiks ......


__ADS_2