
Danzel menggendong Aldrich untuk diajak ke kantin perusahaan. Dia tak jadi membawa sekretarisnya makan di luar karena Gwen menolak dan memilih untuk makan di Patt Group.
Sorot mata karyawan yang sedang makan siang di kantin pun terpusat pada Danzel yang terlihat seperti keluarga kecil bahagia. Mereka saling berbisik bertanya-tanya siapakah gerangan wanita dan anak kecil yang datang bersama CEO Patt Group itu.
Danzel tak memperdulikan karyawannya yang pasti sangat ingin tahu tentang Gwen. Ia mengajak sekretaris barunya untuk duduk di kursi paling tengah karena hanya itu yang kosong.
“Sudah, tak perlu perhatikan mereka,” tegur Danzel yang melihat mimik wajah Gwen seperti kurang nyaman menjadi sorotan publik. “Kau mau request makanan?” tawarnya untuk mengalihkan pandangan Gwen agar fokus dengannya.
“Aku ambil jatah karyawan saja,” jawab Gwen. Ia hendak berdiri untuk ikut mengantri dengan pegawai di sana.
“Biar aku yang ambilkan.” Danzel sudah mencekal Gwen agar kembali duduk. “Aldrich di sini dulu sama mama, ya? Uncle ambilkan makan, kau mau apa?” Ia bertanya dengan lembut seraya mengelus rambut halus bocah kecil itu.
“Mie,” pinta Aldrich.
“Maksud dia spaghetti,” ralat Gwen meluruskan ucapan anak tirinya yang masih belum jelas.
“Oke, makanan akan segera datang.” Danzel berlalu meninggalkan meja yang memanjang tersebut. Dia tak mengantri seperti karyawannya. Langsung saja masuk ke dalam dapur untuk meminta semua pesanan.
__ADS_1
Lima menit kemudian Danzel keluar dari dapur tanpa membawa apa pun.
“Uncle, mana makanannya?” tanya Aldrich yang sudah merasa sangat lapar.
“Itu.” Danzel menunjuk tiga orang yang datang ke arah mejanya. Lalu ia duduk di samping Aldrich.
“Pesanannya, Tuan.” Tiga orang yang mengantarkan makanan pun menyajikan satu piring dan dua food tray.
“Aku kira kau akan membawa semua ini sendirian,” tutur Gwen setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan tadi.
“Kenapa kau tak memanfaatkan aku seperti mereka juga?”
“Karena kau bukan karyawan biasa.”
Balasan Danzel membuat mulut Gwen terkunci rapat. Dia melahap makanan yang ada di hadapannya. Dan ketiganya makan sendiri-sendiri termasuk Aldrich yang terbiasa tak pernah disuapi.
Setelah menandaskan makan siang mereka, Gwen menyusun alat makan yang sudah kosong. Dia membawa bekas makannya untuk diletakkan pada tempat khusus cucian kotor. Sedangkan Danzel menuntun Aldrich yang tak mau di gendong untuk mengekori Gwen.
__ADS_1
“Kita ke divisi keuangan dulu, sekalian buat rekeningmu untuk gaji bulanan,” ajak Danzel saat mereka berhenti di depan lift.
“Aku ikut saja.” Gwen menurut.
Saat hendak masuk ke dalam lift, suara seorang wanita yang begitu Danzel benci menggema di telinganya. Saking tak sukanya, dia sampai menandai suara dan gerak gerik orang itu agar bisa menghindar sebelum bertemu.
“Danzel ...,” teriak Alcie Glee menunjuk tubuh tegap CEO Patt Group dari pintu masuk lobby perusahaan yang jaraknya kurang lebih seratus meter.
Tanpa menoleh sedikit pun, Danzel menggendong Aldrich dan menarik tubuh Gwen untuk masuk ke dalam lift karyawan dan berdesakan bersama yang lainnya. Ia ingin menghindari Alcie dan tak ingin Gwen melihat wanita siluman itu.
“Tunggu ...!” seru Alcie saat pintu lift tertutup.
Danzel bisa bernapas lega sekarang setelah dadanya senam jantung takut Alcie mengacaukan pendekatannya dengan Gwen.
...*****...
...Oke, sekian update hari ini. Jangan lupa kopi atau bunganya buat amunisi update besok....
__ADS_1