My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 30


__ADS_3

Tangan kanan Danzel menggendong Aldrich, sedangkan sebelah kirinya digunakan untuk menggandeng Selena. Ketiganya berjalan menuju lift, mendahului Gwen yang masih mematung di tempat.


Gwen mengunci apartemennya terlebih dahulu sebelum berangkat. Ia berjalan lamban di belakang. Memandangi punggung ketiga orang yang kian menjauh.


“Cepat sekali anak-anakku akrab dengannya,” gumam Gwen. Entah dia harus senang atau sedih saat ada sosok pria yang memperhatikan anaknya. Bahkan dibandingkan ayah kandung mereka pun Danzel jauh lebih terlihat menyayangi Selena dan Aldrich. Padahal tak memiliki ikatan darah apa pun.


Keempatnya sudah masuk ke dalam mobil mewah milik Danzel. Dan kendaraan roda empat itu mulai melaju menuju sekolah Selena.


“Uncle, itu bus sekolahku.” Selena yang duduk di kursi belakang itu memberitahukan transportasi berwarna kuning yang biasanya mengantar dan menjemputnya.


“Keren sekali sekolahmu ada fasilitas busnya,” puji Danzel. Ia melihat wajah Selena dari spion depan.


“Tapi kasian mama, dia harus membayar tambahan sekolahku karena aku naik bus itu,” adu Selena menundukkan kepalanya.


“Kakak, jangan bersedih.” Aldrich yang duduk di samping Selena itu memeluk saudara tirinya untuk menghibur.

__ADS_1


“Kau mau meringankan beban mamamu?” tanya Danzel dan dijawab anggukan kepala oleh Selena.


Danzel menarik dua sudut bibirnya. Ada lagi jalan untuk semakin dekat dengan anak-anak Gwen. “Kalau begitu, mulai besok uncle akan mengantar dan menjemputmu, gratis. Kau mau?” tawarnya. Dijawab anggukan oleh Selena.


Ketika mobilnya berhenti di lampu merah, Danzel menyempatkan sebentar untuk menengok ke arah kanan di mana Gwen duduk memperhatikan interaksinya dengan Selena.


Danzel melemparkan senyumnya pada wanita itu. Ia jadi murah sekali tersenyum ketika bersama Gwen. “Kita sama-sama membantu meringankan beban mamamu, oke?”


Yang diajak bicara Selena, tapi tatapan mata Danzel tetap tertuju pada Gwen.


“Yes ... aku mau, uncle.” Selena menjawab dengan lantang dan yakin.


“Maaf, mama.” Selena menundukkan kepalanya. “Tidak jadi, uncle. Aku akan naik bus sekolah saja,” ralatnya.


Danzel reflek meraih tangan Gwen dan mengelus permukaan kulit yang halus itu. Tapi secepat mungkin Gwen menarik anggota tubuhnya tersebut akibat terkejut dengan gerakan Danzel yang tiba-tiba. Dan Danzel hanya mampu menghembuskan napasnya.

__ADS_1


“Jangan melarangnya seperti itu, biarkan saja jika dia bahagia. Lagi pula aku ikhlas melakukannya,” bujuk Danzel. “Lihatlah ke belakang,” pintanya kemudian agar Gwen tahu kondisi Selena setelah ditegur.


Gwen melihat putrinya yang terus menundukkan kepala. “Baiklah, kau boleh diantar jemput oleh uncle Danzel,” finalnya.


Selena dan Danzel pun bersamaan mengepalkan tangan dan melambungkan ke udara. “Yes ....”


‘Nanti aku akan berbicara empat mata dengannya,’ gumam Gwen dalam hati. Dia berencana ingin membuat sebuah perjanjian agar tak merasa memiliki hutang budi dengan pria itu.


Kendaraan roda empat tersebut pun sampai juga di sekolahan Selena.


Danzel membukakan pintu di mana Selena duduk. Merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah itu. “Belajar yang giat, ya. Agar bisa menjadi orang hebat seperti apa yang kau cita-citakan,” nasihatnya seraya mengelus rambut Selena.


“Siap, uncle.” Selena memberikan hormat tangannya. Membuat Danzel terkekeh lucu.


“Pamit dulu dengan mamamu.” Danzel menunjuk Gwen yang berdiri di dekat pintu mobil yang satunya.

__ADS_1


Selena berjalan ke arah wanita yang melahirkannya. Dan berpamitan sesuai perintah Danzel. Kaki mungilnya pun mengayun menuju bangunan tempatnya menggemban ilmu.


Gwen memandangi putrinya yang kian menjauh. Tak terasa bibirnya mengulas senyum. “Bahkan anakku terlihat lebih ceria dari biasanya,” gumamnya begitu lirih.


__ADS_2