OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 10 BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

"Laras, mereka siapa?" tanya Yuki berbisik.


"Masuk dan duduklah dulu," Meyrin memberikan kode untuk Lea.


Paham akan kode yang dimaksud, Lea langsung masuk ke dalam penthouse. Laras mempersilahkan mereka masuk, bergabung dengan Daniel dan Emily.


Rico dan Dewi duduk bersebelahan. Sedangkan Yuki dan Soga duduk di sofa di sebelah kanan mereka berdua. Meyrin menyerahkan baby boy kepada Yuki.


"Kalian berbincanglah, sebentar lagi Lea akan membawakan cemilan. Aku mau ke kamar dulu," pamit Meyrin.


Sepeninggal Meyrin, suasana menjadi canggung. Rico menatap sekeliling dan meneguk ludahnya saat melihat betapa ketatnya keamanan disini. Ada sekitar lima orang bertubuh kekar dan berkacamata yang berdiri di sudut ruang tamu itu. Dua orang berdiri di depan lift saat mereka tiba.


"Hai, kalian para sahabat kakakku, yah?" Emily membuka obrolannya.


"Hah?" Rico, Dewi, dan Yuki kompak kaget membuat Emily tertawa renyah.


"Lily, hargai kakakmu! Jaga sopan santunnya," kata pria dengan brewok tebal dan bulu di tangannya yang tumbuh lebat.


"Iya Daddy, maaf," sesal Emily sembari menundukkan kepalanya.


"Anda Satoshi Soga pemilik Narita Hospital, rumah sakit ternama di Tokyo?" Daniel menatap Soga.


"Benar. Salam kenal tuan Arlington," salam Soga membuat para sahabat Laras terkejut.


Bukannya mereka tidak tahu ayah dari sahabatnya, hanya saja mereka tidak percaya secepat ini bertemu dengan orang tua tunggal dari Laras atau Meyrin. Mereka serentak menatap Daniel, mengagumi betapa perkasanya pria itu walaupun sudah berumur kepala lima.


Emily tertawa saat melihat ekspresi para sahabat kakak-kakaknya. Daniel hanya diam saja, selalu bersikap tenang dan aura dingin. Tapi, bagi siapa saja yang tidak mengenal seorang Daniel Arlington, pasti akan ketakutan, mengira pria itu menatap dengan tatapan membunuh.


Itulah yang dirasakan oleh semua orang yang ada di sana kecuali Emily dan Daniel sendiri. Hingga Meyrin masuk ke ruang tamu. Beberapa pengawal yang berdiri disana membungkuk hormat saat Meyrin berjalan melewati mereka.


Bersamaan dengan itu, Lea masuk ke ruang tamu dengan dua pelayan dan kepala koki. Masing-masing pelayan mendorong troli yang diatasnya tersaji berbagai macam jenis cemilan.


Meyrin menganggukkan kepalanya kepada Lea. Lea lalu menyuruh pelayan itu untuk menyajikan cemilan di atas meja. Setelah selesai, dua pelayan itu memberi hormat dan mendorong trolinya ke luar ruangan. Sedangkan kepala koki berdiri di ujung dekat pintu masuk.


"Kepala koki bisa kembali ke dapur, terima kasih," ujar Meyrin.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi dulu." Kepala koki itu membungkukkan badannya kepada Meyrin, Daniel dan Emily lalu keluar dari ruang tamu.


Meyrin berjalan mendekati mereka yang sudah menunggu disana. Dia duduk di satu-satunya kursi yang tersisa dan itu memang khusus untuk dirinya. Sedangkan Lea berdiri di belakang kursi Meyrin, seperti biasanya.

__ADS_1


"Makanlah! Aku mengundang kalian bertiga kesini bukan untuk menjadi patung," perintah Meyrin menatap ketiga sahabatnya.


Dewi, Rico, Yuki dan Soga mulai mencicipi cemilan yang disajikan. Sedangkan Emily seperti biasa, makaron strawberry khusus langsung dihidangkan di depannya. Meyrin tersenyum gemas saat melihat betapa lahapnya Lily menyantap makaron nya.


"Sebelumnya perkenalkan dia Lea, asisten pribadiku sekaligus bodyguardku. Aku bukan Laras yang dulu begitu bebas keluar sana sini bersama kalian lagi. Itulah kenapa ada Lea selalu berada di sampingku. Jadi, tolong jangan risih dengan kehadiran dia. Dia sudah aku anggap sebagai ibu, bunda dan kakakku juga," jelas Meyrin.


Meyrin menatap sang asisten pribadinya, menganggukkan kepala. Lea yang mendapatkan izinnya segera berjalan mundur ke belakang setelah memberi hormat. Wanita itu kembali ke posisi seperti semula, berdiri di depan belakang pintu.


"Kenapa kamu butuh bodyguard? Emang nyawamu terancam seperti di film-film laga?" tanya Dewi seperti biasa tanpa filter.


"Nyawaku selalu terancam kapanpun dan dimanapun. Apalagi jika tahu kalau aku adalah Laras."


"Me—"


"Nyawa Laras selalu terancam gara-gara saya," timpal Daniel.


"Ayah jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Tidak ada yang salah diantara kita," Meyrin menatap sendu pada ayahnya.


"Kak Meyrin benar, Dad. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Kita semua ikhlas dan menatap masa depan. Kita ada untuk Daddy, kita akan menjadi pengganti Mommy dan Ibu Indah." Emily menggenggam tangan Daniel, memberikan kekuatan kepada Daddy nya.


Mendengar percakapan itu, membuat keempat orang disana bungkam. Mereka sudah bisa mengira apa yang sebenarnya terjadi. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat kemudian.


Hingga Yuki memulai lebih dulu, dia beranjak sebelumnya menyerahkan sang anak kepada Soga. Baby boy yang bernama Ren itu sedang tertidur lelap. Yuki berdiri di samping Meyrin lalu, "Jangan bercerita jika hatimu belum siap. Tidak mudah untuk membuka luka lama, kami semua paham itu."


Suara tangisan terdengar. Ya, untuk pertama kalinya setelah dua tahun seorang Meyrin tidak menangis. Daniel, Emily dan Lea menatap Meyrin begitu sendu. Wanita itu begitu kuat menahan beban berat di pundaknya seorang diri. Menyimpan kesedihan dan perasaan terluka hanya untuknya seorang.


Disini, mereka yang selalu bersama dengan Meyrin menjadi saksi betapa rapuhnya wanita itu. Semua hal yang menyakitkan selama ini tumpah dalam tangis di pelukan sahabatnya. Dewi dan Rico beranjak dari posisinya. Mereka juga merangkul Laras yang sekarang karena apa harus merubah nama bahkan wajahnya.


"Hei, look at me, Meyrin!" Rico duduk berjongkok menatap Meyrin yang matanya sudah sembab.


"Ingusmu jijik tau," ujar Dewi seperti biasanya.


Seperti biasanya juga, Meyrin langsung menghapus ingusnya dan mengelap di baju Rico tanpa aba-aba. Rico terhentak kaget dan melotot tak percaya pada wanita di depannya ini 


"Astaga Ras! Ngak Laras, ngak Meyrin, kenapa loe suka ngelap di baju gue sih," sungut Rico kesal.


Dewi dan Yuki yang melihat itu tertawa.


"Percuma yah dia operasi plastik, sifatnya sama saja seperti dulu." Yuki masih tetap tertawa.

__ADS_1


"Bahkan, si Nona Konglomerat ini suka langsung menghapus ingusnya dan mengelap di baju Rico." Dewi ikutan menggoda Meyrin dan Rico.


Suasana yang tadinya penuh kesedihan sekarang berubah menjadi ceria. Meyrin mengulum senyumnya dengan mata yang masih sembab dan wajahnya yang sudah berantakan. Dewi yang kalau bicara tanpa filter terus saja mengoceh tanpa peduli lagi dengan strata sosial di antara mereka.


"Loe masih saja kayak dulu. Mulut ngak ada saringannya," ujar Meyrin dan langsung mengundang tawa semua yang ada disana.


Tiba-tiba Lea berjalan mendekati Meyrin. Wanita itu sedikit menundukkan kepalanya, berbisik di telinga sang majikan. Meyrin mendengarnya dengan seksama lalu menganggukkan kepalanya.


"Bicaranya kita lanjut nanti saja. Sekarang waktunya menikmati makan malam." Meyrin beranjak dari posisi duduknya, memimpin mereka semua menuju ruang makan.


****************


Lea sudah menunggu di tengah-tengah pintu ruang makan. Dia sedikit menundukkan kepalanya saat tamu dan majikannya masuk ke dalam ruang makan. Disana ada tiga orang koki, terlihat dari pakaiannya.


Lea berjalan masuk sehingga pintu tadi tertutup secara otomatis. Dia menyuruh para koki untuk menjelaskan setiap menu yang dimasaknya. Satu persatu para koki mempresentasikan menu yang dimasaknya.


Di atas meja banyak sekali menu lengkap atau biasa disebut full course meal. Pertama adalah appetizer, hidangan pembuka dengan tiga jenis menu, yaitu salad buah, koktail, dan risoles mayo. Selanjutnya adalah main course, hidangan utama dengan dua jenis menu, yaitu steak daging sapi dengan salad sayur dan aneka makanan seafood. Terakhir adalah dessert, hidangan penutup dengan empat jenis menu, yaitu puding, panna cotta, es krim dan apple pie.


Semua menu begitu menggugah selera. Setelah menyelesaikan tugasnya, para koki keluar dari ruang makan begitu juga dengan Lea. Sayangnya, sebelum keluar dari pintu, Lea dipanggil oleh Meyrin.


"Lea, bergabunglah dengan kami," ujar Meyrin.


"Tapi—"


"Ini perintah bukan ajakan," final Meyrin tanpa mau didebat.


Mendengar itu, Lea langsung berjalan mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Jika sudah berhubungan dengan perintah, Lea akan menjelma menjadi manusia yang patuh dan tunduk pada perintah tersebut.


Mereka menikmati menu makan malam mewah dengan keheningan. Tidak ada yang bersuara kecuali suara dentingan alat makan dengan piring. Daniel menatap semuanya diam-diam dan tatapannya berhenti pada Meyrin. Ada rasa bangga dan khawatir secara bersamaan melingkupi dada Daniel.


Bruk!


Seseorang jatuh terjerembab di atas lantai saat pintu ruang makan terbuka secara otomatis.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2