
"Tuan, ini telepon dari Armand." Rama menyerahkan ponselnya.
"Iya?"
"Maaf Tuan William, saya tidak bisa memberikan informasi yang Anda inginkan. Rahasia Nona Liu Meyrin tersimpan dengan rapi pada database Ken Li—"
"Apa karena Ken?" tanya William dengan nada tak sukanya.
"Lebih tepatnya karena kode hacker kami. Jika saya melanggar atau mencoba merusak kodenya, itu akan berakibat fatal pada Tuan Nikolai dan saya sendiri." Armand mencoba menjelaskan sejelas-jelasnya agar William tidak salah paham.
"Berikan ponselmu pada Paman Nikolai!"
"Ada apa, Will? Aku mendengarkannya dari tadi. Armand tidak akan berani berkata seperti itu tanpa adanya perintah langsung dariku," jawab Nikolai.
"Jadi, Paman tidak mau membantuku?"
"Bukan tidak mau, tapi pekerjaan seorang cyber juga punya kodenya, Will. Apalagi Armand dan Ken yang sudah sangat lama bekerja sama di dunia mafia."
"Apa? Jadi Ken seorang mafia? Apa Meyrin tahu hal ini?" tanya William.
Di seberang sana terlihat Armand menggelengkan kepalanya kepada Nikolai. Nikolai hanya menghembuskan napas panjangnya. Bagi Nikolai lebih baik menghabisi musuh-musuhnya daripada harus bertarung dengan para cyber.
"Paman tidak tahu, kamu tanya sendiri saja ke Ken. Bukankah kalian rival memperebutkan Laras?"
"Sekarang giliran aku yang ingin merebut Meyrin dari sisi Ken. Apa benar kalian tidak bisa menerobos pertahanan seorang Ken?"
"Bukan tidak bisa Tuan … hanya saja sesuatu yang besar akan terjadi jika saya melakukannya," kali ini giliran Armand yang menjawab.
"Baiklah."
William langsung melempar ponselnya ke arah Rama yang gelagapan menerima lemparan itu. William menyandarkan punggungnya pada sofa, membuka kacamatanya. Sedikit memberikan pijatan di pangkal hidungnya.
"Istirahatlah, Kak." Setelah mengucapkan itu, William melangkahkan kakinya menuju kamar.
****************
Meyrin tersenyum licik saat melihat video yang diputar oleh Ken. Dia menatap Ken yang masih menggunakan topengnya lalu menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaan di gudang senjata, Paman?" tanya Meyrin menatap Aite.
"Saat ini semuanya sedang memeriksa sekitar gudang. Beberapa orang memeriksa rekaman CCTV. Akan tetapi masih belum ada kabar dari mereka semua. Cih, kenapa aku bisa mempunyai anak buah yang bodoh seperti mereka," jelas Aite.
"Jack!"
__ADS_1
Merasa nama lain bosnya dipanggil, Alex segera menyambungkan laptop milik Ken dengan layar proyektor. Kedua tangan Ken mulai sibuk menari di atas keyboard.
Di layar LCD terlihat rekaman CCTV yang sedang terjadi. Di layar itu ada 8 titik sudut yang bisa terekam CCTV.
"Ini adalah 8 titik kamera CCTV. Apa mereka sudah memastikan tidak ada jejak disana?" tanya Meyrin menatap Aite dan Joker.
"Tidak ada, Nona," jawab Aite dan Joker bersamaan.
"Jika semua sisi kamera CCTV tidak dapat menangkap pergerakan para penyusup, bahkan tidak terdeteksi oleh sniperku. Maka …,"
"Ada mata-mata dalam organisasi kita," sambung Jack saat melihat Aite dan Joker tidak paham arah pembicaraan Meyrin.
"Akh! Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana?" seru Aite.
"Karena terlalu sibuk dengan para wanita murahan sehingga otak Anda mulai tumpul terhadap organisasi," jawab Ken alias Jack.
"Itu kenapa say—"
"Dan Anda yang terlalu sibuk dengan menimbun harta hingga melupakan tugas dari organisasi," timpal Jack yang langsung membuat Aite dan Joker terdiam.
"Apa kalian meragukan kepemimpinanku?" tanya Meyrin menatap dua pilar ayahnya dengan tatapan bengis.
"Ti-tidak Bos. Maafkan kami yang lalai terhadap tugas dari organisasi." Aite dan Joker langsung bersujud hingga mencium lantai di samping kursi Meyrin.
Sengaja, Jack menaikkan volume laptopnya hingga batas maksimal. Terdengar suara erangan wanita dan pria yang sedang memadu kasih. Aite langsung mendongakkan kepalanya, matanya membulat sempurna saat mengenali siapa yang ada di dalam video itu.
Selanjutnya, terdengar seorang pria yang mengabaikan laporan dari bawahannya jika gudang senjata mengalami masalah. Bahkan orang itu lebih memilih menyelesaikan urusannya daripada urusan organisasi. Joker langsung menatap video itu dan reaksinya sama dengan Aite.
"Bos, tolong maafkan kami. Kami salah. Tolong ampuni nyawa kami, Bos," sujud Aite dan Joker lagi.
Meyrin yang melihat itu berdecih kesal. Inilah video yang tadi diperlihatkan oleh Jack di ponselnya. Dia tidak menyangka, dua pilar kesayangan ayahnya yang sudah lama berada di dalam organisasi melakukan hal menggelikan.
"Kalian tahu hukuman apa yang pantas untuk orang yang lalai, bukan?" tanya Meyrin.
"Maafkan kami, Bos."
"Kalian tahu berapa kerugian yang harus aku terima karena kebodohan kalian, hah! Shiit! Brengsek!" bentak Meyrin yang membanting gelas di samping mereka berlutut.
Napas Meyrin tersengal-sengal akibat amarahnya yang memuncak. Sedangkan Jack hanya diam tidak membela ataupun menenangkan Meyrin. Wanita itu butuh pelampiasan dari kekesalannya selama beberapa hari berada di Venesia.
"Ya Tuhan! Kenapa kalian semakin tua semakin bodoh! Aku akan laporkan hal ini pada Ayah. Kalian persiap—"
"Jangan Bos! Saya mohon, ampuni kami. Kami siap mengganti rugi atas hilangnya senjata itu. Tolong ampuni kami, Bos." Aite memohon dan mengusulkan kompensasi.
__ADS_1
Joker yang mendengar itu memalingkan wajahnya ke arah kiri. Mereka berdua saling tatap, keduanya sangat tahu betul berapa kerugian yang diterima Meyrin. Bukan puluhan juta dollar, tapi ratusan juta dollar.
Meyrin yang melihat interaksi dua cecunguk tua itu, mencoba memainkan taktiknya. "Tidak! Aku akan tetap melapor pada Ayah."
"Jangan Bos! Kami akan mengganti rugi! Tolong ampuni kami, Bos!" kali ini Joker yang memohon.
"Baiklah, karena kalian yang memaksa aku bisa apa. Tapi, sebagai kompensasi dari Bos yang kalian remehkan ini—"
"Tidak! Tidak! Kami tidak meremehkan Anda, Bos. Kami bersumpah akan patuh pada semua perintah Bos Meyrin. Tolong ampuni kami, Bos."
Meyrin dan Jack saling berpandangan, mereka menahan tawa melihat tingkah ketakutan dua kesayangan seorang Daniel Arlington. Padahal jika dibanding dengan seorang Daniel Arlington, Liu Meyrin lebih menakutkan dan licik.
"Baiklah, tapi karena aku Bos yang baik, bagaimana jika 80% dari kerugian ini kalian yang tanggung berdua. Sisanya akan menjadi tanggung jawabku."
"Setuju, setuju Bos. Apapun akan kami setujui asal jangan melapor pada Tuan Daniel," pinta Aite.
"Oke, deal. Sekarang tandatangani surat perjanjian itu!" perintah Meyrin setelah Lea dan Alex menyerahkan dua lembar kertas.
Tanpa pikir dua kali, Aite dan Joker menandatangani surat perjanjian itu. Setelahnya Alex dan Lea mengambil masing-masing satu lembar dan dibawa ke Meyrin.
Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir seksi Meyrin. Tak disangkanya kalau memberikan pelajaran pada Aite dan Joker adalah hal yang mudah dan menyenangkan.
"Kalau begitu, bolehkan kita istirahat dulu sebelum jam makan malam?" tanya Meyrin menatap polos pada Aite.
"Ah iya! Tentu saja Bos. Nona Bos bisa menempati kamar seperti biasanya atau mau pindah, bebas. Anggap saja ini mansion Nona Bos sendiri," jawab Aite dengan terburu-buru.
"Baiklah, ayo!" ajak Meyrin pada rombongannya.
Jack berjalan di samping Meyrin, sedangkan Lea dan Alex berada di belakang mereka berdua. Seorang kepala pelayan menyambut mereka lalu mengantarnya ke kamar masing-masing.
"Tunggu dulu! Sepertinya ada yang aneh," tutur Joker setelah Meyrin pergi.
"Ada apa? Apa kamu menemukan sebuah petunjuk?"
Joker kenapa yah?
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga