OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 6 LARAS ATAU MEYRIN?


__ADS_3

Meyrin melompat dari jendela kamar William membuat laki-laki itu berlari menuju ke arah jendela. Dia khawatir, takut terjadi sesuatu pada Meyrin. Sayangnya, saat dia melihat ke arah bawah jendela tidak ada sosok Meyrin disana.


"Fvck! Dia siapa sih?" tanya William sebelum dirinya berjalan kembali menuju kasurnya.


Jam digital yang terpajang di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB. William kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh kehadiran Meyrin dan paranoidnya.


William kembali terduduk saat teringat kata-kata Meyrin yang sempat dia ucapkan kepada Laras.


"Apa Laras dan Meyrin saling berhubungan? Tapi siapa Meyrin bagi Laras?" gumam William.


****************


Meyrin baru saja keluar dari jet pribadinya. Dia langsung berlari saat melihat sosok lelaki yang sangat dirindukannya. Satu minggu tidak bertemu membuatnya harus menahan rasa itu. Ken mulai sibuk untuk konser lagi perdananya.


"Keeen, aku merindukanmu," Meyrin memeluk Ken tanpa peduli keadaan sekitar.


"Hi, Sweetie, bagaimana perjalananmu di Indonesia?"


"Menyenangkan. Bahkan aku bertemu dengan William."


"Kamu tidak mengkhianatiku, kan?" selidik Ken.


"Apa sih, Ken. Toh, aku tidak sebodoh itu walaupun dia sangat tampan. Tapi bagiku, hanya Ken Lian yang paling tampan," kata Meyrin sambil tertawa mengejek.


"Oke ... oke ... si nona muda pewaris tahta kerajaan bisnis Arlington," goda Ken.


"Ken! Kamu yah!" Meyrin memukul dada Ken karena selalu menjadi bahan godaan.


"Mey, kamu di Indonesia baik-baik saja, bukan? Gimana sosok William menurutmu? Apa dia mengenalimu sebagai Liu Meyrin?" Ken menggandeng tangan Meyrin keluar dari landasan. Masker dan topi menjadi alat utama untuk menutupi wajah mereka berdua.


"Tentu saja dia tahu, asisten pribadinya tidak bisa diremehkan. Beruntungnya ayah sudah menyiapkan semuanya," keluh Meyrin.


"Kamu yakin menjalankan rencana gilamu itu?" Ken kembali menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.


"Sangat yakin. Kita akan bahas saat tiba di kantor. Nah, sekarang mana kejutan yang kamu janjikan itu?" tagih Meyrin.


"Ada di rumahmu."


Meyrin dan Ken saling bergandengan tangan. Tanpa mereka sadari, seorang paparazi berhasil mengambil beberapa gambar saat mereka berpelukan dan masih tanpa menggunakan masker.


****************


Ken membukakan pintu mobil sportnya untuk Meyrin. Kali ini, Ken memberikan izinnya untuk Meyrin duduk di kursi depan, tepat di sampingnya. Itupun karena rengekan Meyrin dan bujukan dari Emily. Tingkah dua sepupunya yang bikin kepala Ken sakit.


Ken mulai melajukan mobilnya, bergabung bersama dengan kendaraan yang lainnya. Sedangkan Lea sudah pulang lebih dulu seperti perintah Meyrin. Ken dan Meyrin mulai terlibat pembicaraan yang seru.


Tanpa sengaja, saat Meyrin hendak membenarkan rambut panjangnya, dia melihat sesuatu yang aneh. Dibalikkan badannya ke arah belakang, ada dua mobil sedan yang terlihat mencurigakan. Kening Meyrin berkerut.


"Ken, kaca spion," kode Meyrin, dia mulai mempersiapkan diri.


Ken langsung melihat kaca spion dan terlihat dua mobil sedang mengikuti mobilnya. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam.


"Sialan! Kenapa harus jam segini sih," gerutu Ken.


"Ken, percepat laju mobil dan fokus menyetir saja. Biar aku yang bagian menyerang," ujar Meyrin yang mulai membuka laci dashboard. Disana ada senjata Laras panjang, sebuah senyum muncul dibibir Meyrin.

__ADS_1


"Aku tahu. Pasang sabuk pengamannya!"


"Sudah siap," jawab Meyrin mantap.


Ken menatap Laras lebih tepatnya Meyrin. Setelah dipastikan Meyrin aman, Ken langsung menginjak pedal gas membuat mobil sport itu langsung melaju dengan cepat. Jarum di speedometer mobil terlihat semakin naik.


Melihat mobil Ken mempercepat lajunya, dua mobil itu melakukan hal yang sama. Laras menatap ke belakang dan depan bergantian.


Dor! Dor!


"Sialan!" umpat Ken dan Meyrin bersamaan.


Tubuh mereka berdua terguncang karena badan mobil yang terkena tembak oleh dua mobil di belakang. Ken dan Meyrin saling berpandangan dan menganggukkan kepalanya.


"Ken, kita tidak bisa menyerang disini. Bawa mobil ini ke gang kecil!"


"Dimana lokasinya?"


"Astaga! Aku lupa kalau kamu belum lama tinggal di Lunar. Tingkatkan laju mobil itu terus ke depan. Di depan sana ada pertigaan, kamu belok kanan," Meyrin memberikan arah.


Ken yang mengerti semakin menekan pedal gasnya ke dalam hingga kecepatan mobil itu semakin meningkat. Tubuh keduanya terguncang saat mobil tiba-tiba melewati jalan beraspal yang tidak rata.


"Ken! Belok kanan!" teriak Meyrin saat dilihatnya Ken masih fokus lurus ke depan.


Mendengar teriakan Meyrin, lelaki itu langsung menginjak remnya dan memutar kemudinya ke kanan secepat mungkin. Ban dan aspal saling bergesekan hingga menimbulkan asap putih tebal saat mobil itu berbelok ke kanan dengan tajam.


"Hati-hatilah di depan ada rel kereta api. Buka atap mobil, aku akan menyerang mereka!" perintah dan peringat Meyrin.


Ken menekan sebuah tombol di dashboardnya hingga atap mobil terbuka. Meyrin berdiri dan mulai mengarahkan senjata laras panjangnya. Dalam hitungan menit, dia mulai menembak tanpa henti ke arah dua mobil itu.


"Ken pertigaan di depan, kamu lurus saja, nanti ada persimpangan langsung belok ke kiri," Meyrin kembali memberikan arahannya.


Sayangnya, ketika mereka akan melaju sebuah kereta api dari kiri jalan melaju. Ken langsung menekan remnya sedalam mungkin hingga terdengar bunyi decitan antara ban mobil dengan aspal. Tidak sampai disana, Ken langsung mengambil arah kanan melajukan mobilnya sejajar dengan kereta api. Meyrin yang paham maksud dari sepupunya itu membelalak tak percaya.


"No! No! Jangan lakukan itu! Jangan gila, Ken!" Meyrin menatap Ken yang tampak serius dengan senyum menyebalkan bagi wanita itu.


Ken menampilkan senyum miringnya. Tatapannya begitu tajam menatap ke arah depan. Di tatapnya badan kereta api di sebelah kirinya. Dirinya hampir sampai di depan moncong kereta api.


Ken semakin menancap pedal gas hingga akhirnya mobilnya bisa lebih unggul dari kereta api tersebut. Lalu tangannya memegang transmisi mobil dan mengopernya beberapa kali.


Pedal gas ditekannya lebih dalam hingga jarum pada speedometer turun ke arah kanan artinya kecepatan mobil itu mencapai angka maksimal. Ken langsung membanting setir mobilnya ke arah kiri jalan, beradu dengan laju kereta api.


Ken berencana melewati rel kereta api dari depan, saling beradu dengan moncong kereta api. Moncong kereta api semakin dekat dengan body mobil sport Ken. Sinar lampu kereta menyilaukan mata, suara klakson dari kereta membuat telinga sakit, saking kerasnya, hingga ...


Ckiiiittt…


Braakk!!


Injakan rem yang semakin membuat telinga gatal mendengar bunyi deritan. Meyrin hanya memejamkan matanya dan menahan nafas. Dia belum siap mati bersama sepupunya itu.


"Gotcha!" teriak Ken saat melihat dari kaca spion salah satu mobil yang mengejar mereka hancur tertabrak kereta api.


Mobil musuh dengan kecepatan yang tinggi tidak bisa mengerem tepat waktu hingga tabrakan itu terjadi. Sedangkan satu mobil yang lain masih selamat menunggu kereta.


Ken tersenyum penuh kemenangan sambil tetap melajukan mobilnya. Sedangkan Meyrin menghembuskan nafasnya terengah-engah dan menatap Ken dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Sepupu sialan!" bentak Meyrin yang masih mengatur nafasnya.


"Gimana Liu Meyrin, hebat kan aku?" pamer Ken.


"Kamu kalau mau mati ... hah ... hah ... mati sendiri aja. Fvcking shiit!" bentak Meyrin masih dengan tatapan tajamnya.


"Bersiaplah! Musuh kita sepertinya semakin marah dan serius," Ken menunjuk kaca dashboard dengan dagunya.


Meyrin menatap jengah, dia letakkan Laras panjangnya kembali dan mulai mengeluarkan senjata sang ayah. Pistol eagle dengan ukiran huruf A besar.


"Ken, menukik sesuai aba-abaku," Meyrin mulai menyiapkan pistolnya. "Sekarang!" ujar Meyrin.


Ken memutar setirnya hingga mobil mereka saling berhadapan dengan mobil musuh. Lalu, dia melakukan transmisi pada mobilnya hingga mobil itu bergerak ke belakang. Meyrin membuka sabuk pengamannya dan bersiap menyerang. Setelah dirasa cukup, dia langsung membanting setir ke arah kiri.


Meyrin membuka pintu mobil, tubuhnya sedikit terlentang keluar dengan mengarahkan pistolnya tepat ke ban mobil musuh.


Dor! Dor! Dor! Dor!


Empat peluru dilesakkan oleh Meyrin dan itu tepat sasaran. Dua ban meletus hingga membuat pergerakan dari mobil itu menjadi tidak teratur ditambah dengan kecepatan yang belum sempat diturunkan.


Meyrin segera masuk lagi ke dalam mobil dan menutup pintunya. Ken menekan pedal gasnya lagi, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Menghindari sesuatu yang akan terjadi.


Meyrin menatap ke arah belakang, mobil musuh yang kehilangan arah menabrak dinding dengan dahsyatnya hingga setengah body mobil penyok parah. Meyrin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak lama seseorang menyapa di seberang sana.


"Joker, suruh orangmu membereskan sesuatu disini. Gang sempit di jalan Bima," setelah itu Meyrin mengakhiri panggilannya.


"Wow! Benar-benar seorang Daniel Arlington," goda Ken yang mulai melajukan mobilnya dengan tenang.


"Diamlah! Sekali bicara aku tembak yah!"


Setelah itu terdengar suara tawa dari Ken membuat Meyrin semakin menggembungkan pipinya. Ken semakin dibuat gemas dengan tingkah Meyrin.


"Apa sifat seorang Meyrin seperti ini saat bertemu dengan William?" tanya Ken.


"Tentu saja tidak. Aku akan menjadi Meyrin di depannya. Toh, sepertinya dia sedang jual mahal sama aku. Walau dari pancaran matanya terlihat jelas kalau dia suka sama aku cuma masih ragu karena Laras," jelas Meyrin.


"Ah, bicara soal Laras. Apa kabarnya wanita itu yah," Ken kembali menggoda Meyrin.


"Ken, berhenti menggodaku, sialan."


Setelahnya tidak ada yang berbicara di antara mereka. Masih ada sekitar lima menit lagi untuk tiba di rumah Meyrin. Ken menghidupkan music player agar suasana diantara mereka tidak begitu canggung. Ken bernyanyi mengikuti musik yang sedang dimainkan sedangkan Meyrin sibuk dengan ponselnya.


Meyrin terkejut saat membuka akun gosip. Ada nama sepupunya. Ken Lian sedang trending topik, tapi kali ini bukan karena prestasinya.


"Bagaimana bisa begini?" ujar Meyrin sambil menatap layar ponselnya.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2