
Laras masih menatap William dengan tatapan tajamnya. Sedangkan yang ditatap cuek bebek, tidak mau tahu. Akhirnya Laras duduk di samping William dan tidak mau menggantinya lagi. Wanita itu suka gaun kelima ini.
"Jadi, bagaimana?" tanya Molly.
"Pilih ini!" jawab Laras.
"Ganti!" jawab William.
Dua jawaban yang berbeda terlontar secara bersamaan, membuat Molly bingung. Wanita pemilik rumah mode ini menatap Rama, sang asisten yang hanya mengangkat bahunya tak mau tahu.
"Ganti, Laras. Aku tidak suka gaun itu," pinta William.
"Tidak mau! Aku suka ini," tolak Laras yang masih enggan beranjak dari posisi duduknya.
"Itu tidak cocok dengan tema outdoor kita."
"Bodoh amat."
William menghembuskan napasnya. Dia beranjak dari duduknya dan menarik Laras agar ikut berdiri bersama dengannya. Lelaki itu membawa Laras menghadap padanya.
"Gaun satu hingga sekarang itu bagus. Sangaaaat bagus apalagi kalau kamu yang memakainya, Sayang. Rasanya aku ingin membelikan semua gaun itu untukmu. Hanya saja aku tidak suka, kelima gaun itu memperlihatkan lekukan tubuhmu. Contoh gaun ini saja sudah memperlihatkan belahan dadamu, aku tidak suka. So, ganti yah?" William menjelaskan alasan yang sebenarnya dia menolak kelima gaun itu.
"...." Laras terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih kesal sama William.
"Atau begini saja, kamu pilih dari gaun keenam hingga sepuluh sesuai seleramu. Tapi aku mohon, pertimbangkan juga syarat yang aku mau. Oke?" William mencoba memberikan pilihan pada Laras.
Laras tampak berpikir, lalu menatap tiga orang yang masih berdiri dengan membawa masing-masing dua gaun di tangan mereka. Senyumnya merekah saat pandangannya tertuju pada sebuah gaun pengantin yang menurutnya cocok dengan syarat dari William. Dia juga suka dengan desainnya.
"Oke."
Laras kemudian berjalan melangkahkan kakinya dengan mengangkat rok dari gaun yang dikenakannya. Dia menunjuk gaun yang ingin dipakainya, William pasrah, semoga saja istrinya itu paham dengan yang dia mau.
Cukup lama Laras berada di dalam ruangan fitting. William menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Rasa lelah mulai menyerang lelaki itu dan sekarang dia paham selelah apa Laras yang harus bergonta-ganti gaun.
Tak lama Laras keluar dari ruangan dengan semua atribut yang akan dia kenakan saat pengucapan sumpah pernikahan. William menatap takjub pada istrinya yang juga tersenyum manis. Ya, William menyukai gaun pengantin kali ini. Walaupun pundak sang istri terbuka tapi tidak separah gaun sebelumnya.
"Kita ambil itu. Sekalian kemas dengan kemejaku juga, Molly. Oya, apa kamu menyiapkan makan malam?" tanya William.
__ADS_1
"Tentu saja, Will. Ruangan seperti biasa, nanti aku menyusul dengan Nyonya Plowden," ujar Molly yang dijawab anggukan kepala oleh William.
Lea menunggu hingga Laras selesai mengganti bajunya. Baru setelahnya dia dan Laras mengikuti Molly menuju ruang makan malam mereka.
"Terima kasih, Molly," ucap Laras yang langsung masuk ke ruangan. Dia tidak mau berdekatan dengan Molly yang punya kelainan itu.
William menyambutnya. Suasana makan malam yang penuh dengan kekeluargaan. Mereka berempat tanpa banyak bicara mulai menikmati menu masing-masing.
****************
Mobil yang ditumpangi Laras baru saja memasuki sebuah halaman rumah bergaya kerajaan. Dua orang pengawal berjalan mendekati mobil dan membukakan pintunya.
Laras, William, Rama dan Lea keluar dari dalam mobil. Laras yang sudah tahu kamar pribadinya, langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah. William mengikuti wanitanya dari belakang. Sedangkan Rama bersama Lea pergi ke arah yang berlawanan.
"Apa kita akan tidur bersama?" tanya William di samping Laras.
"Tentu saja."
William menganggukkan kepalanya saat beberapa maid menyapa mereka dengan membungkukkan badannya, memberi hormat. Sedangkan Laras tidak perduli, begitulah yang sering dia lakukan selama ini.
"Tentu saja. Hanya para jendral-jendralku yang aku hormati juga," jawab Laras yang membuka pintu sebuah kamar.
Terlihat bangunan persegi yang begitu luas dengan kasur queen size-nya. Laras langsung membuka mantel dan high heelsnya begitu saja lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tas sudah dia lempar ke arah sofa. Senyum merekah saat dirinya bisa merasakan kenikmatan kasur.
William menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memungut mantel Laras dan meletakkan di gantungan dinding beserta miliknya. Setelahnya lelaki itu mengambil baju di dalam kopernya. Setelah selesai dengan ritual sebelum tidurnya, William berjalan ke arah kasur.
Pria itu tersenyum saat melihat Laras sudah terlelap dalam tidur. William mendekati istrinya dan mencium bibir Laras sekilas. Lalu kening dan kemudian kedua matanya. Dia berjalan memutari ranjang dan ikut merebahkan tubuhnya di sisi lainnya yang kosong.
****************
Pagi menjelang, Laras sudah duduk di meja riasnya. Dia sedang menyisir rambutnya dan sebagai sentuhan terakhir dari make up nya adalah lipstik warna merah muda. Entahlah, hari ini dia ingin bangun pagi dan bersolek.
Laras berdiri dan bercermin. Pantulan wajah cantiknya dengan dress warna merah muda dan rambutnya dia bikin keriting diujungnya saja. Laras tersenyum saat melihat penampilannya. Dia merasa menjadi wanita tercantik di dunia ini.
"Sedang apa istriku ini?" ujar William di belakang tubuh sang istri.
Posisinya saat ini adalah William memeluk Laras dari belakang. William meletakkan dagunya di pundak Laras, menghirup aroma jasmine yang sekarang bisa dia hidup kapan saja dan di manapun.
__ADS_1
"Apa aku terlihat cantik, Sayang?" tanya Laras menggenggam tangan William yang ada di depan perutnya.
"Kamu adalah malaikat tanpa sayap milik William. Jika sudah seperti itu, maka kamu adalah wanita tercantik di dunia ini." William menatap pantulan dirinya dan Laras yang saat ini sedang bermesraan.
Wajah Laras merona merah karena malu. Sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela kamar tidak dapat menyamarkan wajahnya yang memerah. William mencuri cium pipi Laras, di mana besok wanita itu akan menjadi istri sahnya.
"Will, berita kita yang akan menikah besok sudah menyebar. Beberapa rekan kerja sama Arlington dan Plowden sudah banyak yang datang," ujar Laras.
"Biarkan saja. Aku malah ingin semua orang di dunia ini tahu kalau kamu hanya milik William Anderson Plowden."
"Apa akan banyak wartawan yang datang? Secara aku dan Ken pernah menyatakan hubungan."
"Tentu saja awak media diperbolehkan masuk dengan pengamanan ketat dari Arlington. Tapi itu hanya untuk pengucapan sumpah pernikahan dan untuk pesta aku hanya memperbolehkan tamu undangan saja yang dapat masuk."
"Oke, tak masalah. Mungkin hari ini aku akan melakukan konferensi pers dengan Ken soal hubungan kita. Apa kamu akan marah?" tanya Laras khawatir.
"Aku tidak peduli karena besok kamu akan menjadi istriku."
"Tolong jangan marah hingga besok. Kendalikan paranoidmu itu," pinta Laras.
"Aku bisa mengendalikan paranoidmu, Sayang."
"Tapi Will, mm … kenapa baumu jadi ngak enak begini sih," ujar Laras membuat William mengerutkan keningnya.
William melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Laras. Dia menciumi tubuhnya, tidak sebau yang Laras kira. Daripada kena protes lagi dari sang istri, akhirnya William memutuskan untuk mandi dan berendam.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1