
Ken yang sejak tadi menahan amarahnya meledak sudah. Dia tahu, Armand telah membobol hal pribadi diantara mereka berdua. Seandainya Armand ada di depannya, sudah pasti Ken langsung menonjok wajah pria Asia itu.
"Maaf," ucap Armand akhirnya setelah beberapa detik terdiam.
"Apa kamu mengatakan yang sebenarnya tentang Meyrin?"
"Tidak. Akan tetapi, aku membenarkan semua asumsinya yang memang benar adanya." Armand menjawab dengan jujur.
"Maaf menyela, tapi jika yang dimaksud Rama mengetahui identitas Nona Meyrin, jangan khawatirkan itu. Saya sudah berbicara dengan Rama dan dia menerima perintah khusus dari Nona untuk merahasiakan identitasnya." Lea menjelaskan apa yang menjadi kekhawatiran seorang Ken.
"Aish, kenapa kalian tidak membiarkanku tenang! Ya sudah, kirimi aku salinan rekaman CCTV di gedung Opera La Fenice sekarang!"
Ken langsung mengakhiri panggilannya dan membanting ponselnya. Hal itu membuat Alex tersentak kaget di meja kerjanya. Lelaki itu butuh pelampiasan saat ini juga. Dia teringat ada sesuatu yang belum dituntaskan dengan Alex.
"Alex!" panggil Ken dengan nada sedikit meninggi.
Alex segera beranjak dari meja kerjanya menuju sofa. Sedikit berlari karena melihat aura Ken yang sudah suram dan tidak enak dipandang mata.
"Duduklah!" pinta Ken setelah Alex tiba di depannya.
"Iya Tuan? Anda menyuruh saya?" tanya Alex dengan polosnya.
"Tentu saja, bodoh. Memang disini ada siapa lagi?" Ken menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
Terkadang Alex bisa diandalkan, tetapi juga terkadang seperti saat ini, begitu bodoh. Jika Alex sudah dalam mode bodohnya, Ken harus ekstra sabar. Alex segera duduk di kursi yang kosong, menunggu perintah selanjutnya dari bosnya itu.
Ken menatap tajam Alex, aura yang menguar dari sang Big Bos sangat menakutkan. Alex menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah seorang Ken.
"Apa kau ingat aturanku?" tanya Ken.
"I-ingat, Tuan," gugup Alex.
"Bagus. Apa kau ingat jika aku bertanya maka …," Ken menggantung kalimatnya, memberi sinyal tersirat pada Alex.
"Saya harus menjawabnya dengan jujur," jawab Alex dengan sekali tarikan napas. Ken tersenyum mendengar jawaban asistennya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Emily?" tanya Ken langsung pada intinya.
"...."
Alex terdiam membisu, tidak berani mengatakan apapun. Bahkan untuk menatap wajah bosnya saja dia enggan. Lelaki itu begitu sulit menelan salivanya sendiri saking takutnya.
"Alex Gerard?" tanya dan panggil Ken.
__ADS_1
"Ti-tidak ada, Tuan."
"Yakin?"
"Tentu, Tuan. Saya tidak berani memiliki rasa pada Nona Emily," dusta Alex.
Alex menjawab semua pertanyaan Ken dengan menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin kebohongannya terbaca jelas oleh bosnya. Dia takut dihukum jika ketahuan berbohong tentang perasaannya. Dalam hati, Alex meminta maaf kepada Emily karena belum berani jujur pada keluarga Arlington.
"Baguslah. Kamu boleh kembali ke meja kerja. Tolong periksa dokumen-dokumen itu," perintah Ken sambil menunjuk tumpukan dokumen di meja kerjanya.
"Baik, Tuan."
"Lea, aku sudah mengirim video rekaman CCTV ke email Meyrin. Kamu bisa mengeceknya sendiri. Aku yakin, mereka tidak akan keluar hingga besok siang."
"Baik Tuan, terima kasih."
Setelah itu Ken menutup panggilannya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lelaki dengan rambut yang dicat pirang menjadikan lengan kanannya sebagai penutup mata. Dia ingin istirahat sebelum melanjutkan jadwalnya lagi.
****************
"Tidak bisakah aku saja yang menjadi ayahnya Juna?" tanya William.
Meyrin terdiam saat mendapat pertanyaan tak terduga dari William. Dia mendongakkan kepalanya, menatap wajah William, mencari sebuah jawaban disana.
"Maksudmu … Laras?"
"Tentu saja. Bukannya surat cerai kalian berdua belum ditandatangani?"
"Jadi, aku harus apa jika ingin menjadi ayahnya Juna?"
"Tandatangani surat cerai dengan Nyonya Plowden, maka setelah itu aku akan mempertimbangkannya." Meyrin mengajukan persyaratan yang cukup sulit untuk William.
"Tidurlah!" William mencium pucuk kepala Meyrin dan beranjak dari posisi berbaringnya.
Meyrin tersenyum kecut saat melihat William keluar dari kamar. Dia dapat melihat pancaran di kedua mata William yang sangat terluka. Lelaki itu begitu mencintai Laras, membuat Meyrin antara senang dan tidak senang.
"Will, kapan kamu akan melupakan Laras?" gumam Meyrin begitu lirih.
Wanita itu merubah posisinya menjadi terlentang. Ditatapnya langit-langit kamar. Bayangan saat pertemuan pertamanya dengan William waktu SMP terlintas. Senyuman kerinduan tersungging di wajah cantik Meyrin.
"Hah~ rasanya aku ingin seperti wanita pada umumnya. Entah sejak kapan, hidupku terasa berat. Aku hanya ingin kamu melupakan Laras, Will. Laras sudah tidak ada di dunia ini. Dia sudah menjadi wanita yang diincar banyak orang, tangannya sudah kotor oleh darah," ratap Meyrin yang tanpa disadarinya, air mata mengalir membasahi pipinya.
"Hiks … hiks … Larasmu sampai kapanpun tidak akan kembali, Will. Dia tidak pantas bersanding denganmu lagi. Jika dulu dia memilih pergi karena kamu membahayakan keluarganya … hiks," isak tangis sesenggukan terdengar di dalam kamar, beruntungnya kamar itu kedap suara.
__ADS_1
"Tapi … kali ini, biarkan dia kembali pergi. Laras sudah tidak pantas bersanding denganmu yang bersih. Kali ini, dia pergi karena tidak ingin kamu berada dalam bahaya juga, hiks … hiks …," Meyrin mengatupkan kedua tangan di wajahnya.
Jika Meyrin sedang menangis di dalam kamar, beda halnya dengan William. Setelah keluar dari kamar, William keluar dari ruangannya dengan Meyrin. Dia memilih salah satu kamar yang ada di lantai yang sama.
Brak!
Prang!
Bruk!
William langsung membanting apa pun yang ada di depannya. Seluruh tubuhnya panas, terbakar sesuatu yang tak dia ketahui. Setelah memporak-porandakan ruang tamu, dia melangkahkan kakinya semakin dalam, masuk menuju kamar.
"Bagaimana bisa aku melupakan Laras? Apa kata dia? Menandatangani surat ceraiku dengan Laras? What a biitch!" maki William, meluapkan amarah yang tertahan saat Meyrin menyinggung surat cerainya dengan Laras.
William membanting tubuhnya di atas kasur, terlentang memandang langit-langit kamar. Ponselnya bergetar, ada nama Rama di sana. William melemparkan ponselnya ke tengah kasur. Dipejamkannya kedua mata, mencoba mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Laras, istri tercintanya.
Tanpa terasa, air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Air mata itu semakin deras saat kepingan memori pertemuan pertama dengan Meyrin. Semua rasa itu tidak berubah, William tidak berbohong saat mengatakan jika bersama Meyrin, seperti bersama dengan Laras.
Napas yang memburu dan beberapa memar menghiasi anggota tubuh William. Telapak tangannya meneteskan darah saat tadi lelaki itu membanting gelas. Bahkan, masih ada pecahan kaca yang menancap di telapak tangannya.
Deg!
Tiba-tiba asumsi Rama yang mengatakan karena sesuatu hal Laras harus melakukan operasi plastik mengusiknya. Setelah dipikir-pikir hal itu sangat mungkin. Apalagi saat dirinya bersama Meyrin, rasa itu tidak asing saat dirinya bersama Laras.
William beranjak dari posisi terlentangnya lalu mengambil ponselnya. Sedikit meringis saat tangan yang terluka mendapatkan tekanan. Pria itu mengabaikan ponselnya, telapak tangannya butuh perhatian khusus.
William menuju dapur, mencabut pecahan gelas yang masih tertancap di telapak tangannya. Darah segar langsung keluar ketika pecahan kaca itu berhasil dicabut. Bersyukur pecahannya kecil dan tidak terlalu dalam. Di bawah pancuran air kran, William menekan luka itu untuk menghentikan pendarahannya.
Kemudian dia berjalan menuju kotak P3K dan membawanya ke dalam kamar. William melakukan pertolongan pertama pada luka di telapak tangannya. Setelahnya dia menghubungi Rama untuk segera datang menemuinya.
"Mungkinkah Liu Meyrin adalah Laras?" batin William.
Gimana? Gimana?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1