
"Paman Aite, Paman Joker, nomor rekening kita masih tetap sama kok, siap menerima transferan uang nih," sindir Laras yang langsung dijawab anggukan kepala oleh semua yang ada di sana kecuali yang bersangkutan.
"Sialan!" umpat Aite dan Joker yang bersiap dengan ponsel mereka.
Sontak semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Emily dan Alex yang baru tiba menyapa semuanya. Obrolan santai dan godaan saling dilemparkan saat melihat wajah Emily dan Alex yang memerah.
"Argh!" ringis Laras tiba-tiba sambil memegangi perutnya.
"Mommy kenapa?" tanya William saat melihat sang istri meringkuk.
"Astaga! Ada darah Kakak Ipar!" teriak Emily saat menatap ke arah kaki Laras.
"Uuh~" Laras mencengkeram baju hamilnya saat rasa sakit itu semakin sering datangnya. Peluh seketika membanjiri wajah wanita itu. Napasnya terengah-engah.
"Kakak Ipar, Kakak mau melahirkan!" teriak Emily lagi dengan hebohnya yang langsung membuat semua yang ada di sana panik.
"Tuan, kita segera bawa Nyonya ke rumah sakit!" ujar Rama yang langsung dijawab anggukan kepala oleh William.
William langsung menggendong Laras ala bridal style. Sedikit berlari agar mereka segera sampai di mobil. Rama dan Lea sudah menunggu mereka dengan sebuah mobil.
Laras semakin mencengkeram lengan William saat merasakan kontraksi itu datangnya lebih sering. William dan Lea bergantian mengelap keringat yang keluar dari kening Laras.
"Nyonya, tarik napas dari mulut dan keluarkan dari mulut juga. Lakukan itu agar tidak terlalu menguras energi Anda." Lea yang sudah berpengalaman memberikan arahan pada Laras.
Tak berapa lama, mereka tiba di rumah sakit milik Arlington. Pemilik rumah sakit dan beberapa dokter terbaik sudah menunggu kehadiran pemegang saham terbesar. Sebuah brankar sudah disiapkan.
William segera membaringkan tubuh Laras di brankar dan beberapa perawat langsung mendorongnya menuju ruang bersalin. Mereka sedikit berlari saat melihat kondisi pasien akan melahirkan. Seorang Dokter anestesi bersiap untuk melakukan pembiusan tapi segera ditahan oleh Laras.
William yang melihat itu segera mendekati Laras. Dia mendekatkan telinga di bibir istri tercintanya. Laras membisikkan sesuatu di sela-sela rasa sakit karena kontraksi.
"Kamu mau melahirkan secara normal?" tanya William memastikan lagi.
"...." Laras tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan William.
__ADS_1
Ada rasa khawatir saat sang istri ingin melahirkan secara normal. Padahal William sudah menyiapkan dokter terbaik untuk proses operasi sesar sang istri. Laras kembali mencengkeram lengan William saat gelombang cinta dari Baby Al datang.
Kali ini, gelombang cinta dari sang Baby Al lebih sering dialami oleh Laras. Wanita itu semakin susah untuk mengambil napasnya. Dia mencoba untuk sadar dan mengingat semua ucapan dan arahan Lea sebelum lahiran.
William semakin bingung untuk membuat keputusan. Sang istri ingin melahirkan secara normal, tapi melihat wajah kesakitan dan menderita Laras membuat William tidak tega. Dia kembali teringat janjinya kepada Daniel agar membuat Laras hidup bahagia.
"Dok, apa istri saya bisa melahirkan normal?" tanya William kepada dokter pribadi Laras saat hamil.
Dokter itu memeriksanya lalu tersenyum. "Nyonya bisa melakukan lahiran normal, Tuan. Sekarang sudah pembukaan 10," jawab sang Dokter.
Mendengar jawaban Dokter, para perawat segera menyiapkan keperluan untuk melahirkan secara normal. Dokter itu meminta William untuk membantunya dengan memberikan support pada Laras.
Dokter mulai memberikan arahan pada Laras yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Laras. "Nyonya, ketika kontraksi datang, Anda harus mengejan sekuat tenaga. Anda boleh berteriak atau melakukan apapun untuk mengeluarkan seluruh tenaga Anda. Ingat, mengejan dengan menekan bagian perut Anda."
"Aaaakkhh!" teriak Laras saat gelombang cinta dari Baby Al datang.
Laras benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia bahkan mencengkeram lengan William guna menyalurkan rasa sakit tiada tara yang menderanya. Peluh mulai membasahi wajah Laras. Seorang perawat membantu wanita itu untuk mengelapnya.
Begitulah yang terus Laras lakukan saat gelombang cinta itu datang. Hingga akhirnya terdengar suara tangis bayi begitu kerasnya, memecah keheningan ruangan. Seketika air mata luruh begitu saja tanpa diperintah pada orang tua baru itu.
"Terima kasih, Mommy. Terima kasih," ujar William sembari menciumi kening sang istri. Dia juga menghapus air mata yang mengalir di pipi istri tercintanya.
Seorang perawat mendekat dan menunjukkan bayi laki-laki yang masih merah. Bayi yang masih tetap menangis itu, diletakkan di dada Laras yang polos. Perawat akan mengajari Laras untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini atau biasa disebut dengan IMD.
IMD dilakukan dengan cara meletakkan bayi secara tengkurap di dada Laras yang polos. Sehingga kulit bayi dapat bersentuhan secara langsung dengan kulit Laras. Hal itu dilakukan sekurang-kurangnya satu jam segera setelah lahir.
Laras membelai punggung Bab Al yang saat ini sudah berhenti menangis. Mulut Baby Al seperti mencari sesuatu untuk diminum. Perawat tadi mengarahkan kedua orang tua baru itu untuk membantu mengarahkan puncak gunung agar dapat diminum ASInya.
Benar saja, saat Baby Al menemukan sumber kehidupannya, dia begitu rakus menghisapnya. Laras tersenyum begitu juga dengan William. Memang masih terasa bau amis bekas darah yang masih melingkupi tubuh Baby Al.
Eh, Laras terkejut saat Baby Al mulai diambil kembali oleh perawat itu. "Saya akan memandikan bayi nya dulu. Setelah itu Anda bisa kembali melihatnya nanti setelah bayi ini bersih. Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanyanya.
"Biarkan Daddy nya saja yang memberikan nama," ujar Laras dan menatap William.
__ADS_1
William tampak berpikir nama yang cocok dengan sang anak. Dilihatnya lagi wajah Baby Al. Laras ingin anaknya memiliki nama Alvaro.
"Madava Alvaro Plowden, bagaimana?" tanya William meminta persetujuan dari sang istri.
Laras tersenyum bangga. "Mommy suka nama itu. Pakai nama barusan saja yah." Laras menatap perawat itu.
"Baik, Nyonya. Saya akan merawat Baby Al dulu."
Sepeninggal perawat dan Baby Al, kali ini Dokter mengatakan akan menjahit luka robek pada organ intim Laras. Wanita itu tersenyum dan mengizinkannya. Tiba-tiba dia ingin tidur pasca melahirkan. Otomatis hal itu tidak diperbolehkan oleh Dokter dan meminta William untuk menemani Laras agar tidak tidur.
30 menit lamanya proses menjahit dan membersihkan sisa dari melahirkan. Setelah selesai semua, Laras dipindahkan ke kamar VVIP. Saat pintu ruangan terbuka, semua tampak menunggu dengan raut wajah khawatir.
William mengacungkan jempolnya, mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Emily berada di sisi kiri Laras dan terus menangis bahagia juga sedih. Wanita itu benar-benar takut jika harus kehilangan anggota keluarga lagi.
Ketika brankar Laras memasuki sebuah kamar rawat inap, hanya William yang diperbolehkan masuk untuk saat ini. Laras terkejut saat mendengar suara tangis Baby Al. Benar saja, box bayi berada di samping kasur Laras.
"Nyonya, apa yang Anda rasakan saat ini?" tanya Dokter pribadi Laras.
"Mengantuk sekaligus bahagia, Dok," jawab Laras jujur.
"Perawat ini akan mengajari Anda untuk menyusui bayi dan melakukan sk…in to skin dengan Tuan Plowden. Tugas saya selesai, saya permisi dulu," jelas sang Dokter sekaligus berpamitan.
"Terima kasih, Dokter," ucap William dan Laras bersamaan.
Seperti kata Dokter tadi, perawat itu mengajari Laras cara menyusui dengan benar. Dia membiarkan Baby Al menyusu sepuasnya hingga tertidur. William yang melihat itu tersenyum penuh haru. Dia tidak menyangka akan menjadi seorang Daddy di usianya yang ke 29 tahun.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga