OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 18 ITALIA


__ADS_3

"Astaga!" pekik Meyrin.


"Ada apa, Nona?" tanya Lea yang menolehkan kepalanya ke kursi belakang, tempat Meyrin duduk.


Dilihatnya Meyrin yang sedang memijat pangkal hidungnya. Kedua mata terpejam dengan kening yang berkerut. Lea yang melihat sikap nona mudanya itu ikut mengerutkan keningnya.


"Baca sendiri! Kepalaku rasanya mau pecah." Meyrin menyerahkan amplop cokelatnya kepada Lea.


"Bukannya ini semakin mempermudah Nona untuk balas dendam?" tanya Meyrin setelah membaca isi amplop itu.


"Kalian tidak tahu bagaimana seorang William. Aaakh! Dijelaskan pun kalian tidak akan mengerti," rintih Meyrin terdengar begitu frustasi.


"Ini hal yang bagus, Nona. Siapa tahu nanti tuan William benar-benar menyukai Anda dan kalian bisa rujuk kembali."


"Nah itu dia masalahnya, Lea. Beberapa hari yang lalu …."


Setelahnya mengalir cerita saat William datang ke kantornya dan peristiwa apa yang terjadi. Meyrin menceritakan semuanya tanpa terkecuali kepada Lea. Wanita kekar itu mendengarkan dengan seksama cerita yang keluar dari bibir seksi nona mudanya.


"Astaga!"


Kali ini giliran Lea yang terpekik. Wanita itu tidak menyangka akan ada peristiwa William yang salah paham dengan sosok Liu Meyrin. Pria itu mengira jika Meyrinlah yang mencelakai Laras, istri dari William.


"Sekarang kamu tahu kan bagaimana situasiku selama dua bulan di Italia dengan hal gila yang sudah diatur oleh ayah?" Meyrin membuka matanya tapi, tangan kanannya masih tetap memijat pangkal hidungnya.


"Apa saya perlu—"


"Kamu ikut aku ke Italia, disana pasti Rama akan ikut serta juga."


"Tapi bagaimana dengan Juna, Nona?" Lea menyampaikan keberatannya untuk ikut serta.


"Ah aku sampai lupa dengan Juna si bocah bawel itu. Biarkan baby sisternya yang mengasuhnya. Aku sudah membayar mahal untuk bocah itu. Walaupun nanti aku akan merindukan Juna, tapi bisa diakali dengan panggilan video call," jelas Meyrin.


"Baiklah, Nona."


****************


Sudah 45 menit Meyrin berada di dalam ruangannya. Semenjak tiba di perusahaan 50 menit yang lalu, pemimpin Arlington Group itu tidak ada tanda-tanda untuk keluar dari ruangannya. Bahkan, Lea pun diusirnya keluar.


"Bagaimana ini, Kak?" tanya sang sekretaris kepada Lea.


Lea menatap sekretaris itu yang terlihat panik. "Ada apa, Cleo?"


"10 menit lagi Nona Meyrin ada rapat dengan dewan direksi. Apa aku undur atau bagaimana?" Cleo kembali mengingatkan jadwal Meyrin kepada Lea.


"Benar juga. Aku hampir lupa, tunggu biar aku yang tanyakan."


Lea beranjak dari kursi ruang tunggu yang sejak tadi menjadi tempatnya bekerja. Dia keluar dari ruang tunggu menuju satu-satunya pintu besar yang ada di lantai 40. Saat Lea hendak mengetuk pintu, pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam.

__ADS_1


Meyrin keluar dengan baju yang berbeda dari saat tiba tadi. Kening Lea berkerut dan dirinya mencoba mengintip ke dalam ruangan sang bos.


"Ada apa?" tanya Meyrin.


"Tidak ada Nona, hanya saja saya heran kenapa anda mengganti baju?" Lea tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Tidak ada. Ayo kita ke ruang rapat!" Meyrin langsung meninggalkan Lea dengan rasa penasaran yang menjadi.


Meyrin menuju ruang rapat diikuti Lea dan Cleo. Semua dewan direksi berdiri dari duduknya dan membungkuk memberi hormat saat Meyrin masuk ke dalam ruang rapat. Wanita itu dengan baju kantornya yang terlihat sedikit terbuka dan seksi menjadi pusat perhatian para pria disana.



"Jika mata kalian masih tetap menatapku seperti pria hidung belang, ajukan surat pengunduran diri saat ini juga!" ucap Meyrin dengan tegas membuat yang menatapnya kembali menundukkan kepalanya.


Setelahnya rapat dimulai. Lea memimpin rapat sesuai dengan arahan Meyrin. Sedangkan wanita cantik itu sibuk dengan ponselnya membaca gosip entertainment. Walaupun pandangan fokus pada ponselnya, tapi indera pendengarannya full fokus kepada rapat yang berlangsung.


"Nona Meyrin, apa ada sanggahan?" tanya Lea.


Meyrin meletakkan ponselnya dan menatap semua dewan direksi termasuk wakil CEOnya. Merasa tatapan sang big bos begitu tajam, semuanya menundukkan kepala. Berharap tidak mendapatkan semburan dari sang atasan.


"Tidak ada. Semuanya sangat sempurna dan saya harap tidak ada kendala dalam pelaksanaan semua proyek. Cleo, mulai besok kamu akan menjadi salah satu sekretaris yang membantu wakil CEO dalam mengelola Arlington Group," jawab Meyrin dengan tersenyum membuat semua yang ada disana menghembuskan nafas lega.


"Baik, Nona." Cleo menjawab dengan lugas.


"Terhitung mulai besok hingga dua bulan kedepan bisa lebih juga bisa kurang, perusahaan ini akan berada di bawah pengawasan seorang Ken Lian. Cleo dan wakil CEO kalian yang bertanggung jawab atas Ken Lian selama saya pergi."


"Rapat selesai, semua bubar!" perintah Meyrin.


Lea dan Cleo masih tetap di dalam ruangan menunggu perintah selanjutnya dari Meyrin. Wanita dengan rambut panjang lurus itu menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.


"Nona, apa perlu saya atur ulang masalah di Italia?" tanya Lea ragu-ragu.


"Tidak perlu. Aku akan menerima semua yang sudah ayah siapkan," jawab Meyrin sembari memejamkan matanya.


"Cleo, hubungi sekretaris WR Entertainment, katakan bahwa aku sudah siap berangkat." Meyrin masih tetap memejamkan matanya.


"Baik Nona."


Cleo langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pribadi Rama. Tidak ada respon tapi, suara deringan itu terdengar sangat jelas dan dekat. Hingga pintu ruangan rapat terbuka, menampilkan pria tampan dengan sejuta pesona bersama Rama.


Cleo langsung mematikan ponselnya, sedangkan Lea sedikit menundukkan tubuhnya di samping Meyrin. Membisikkan sesuatu di telinga sang nona muda. Seolah sudah tahu apa yang terjadi, Meyrin tampak biasa saja dan membuka matanya.


"Ayo kita mulai berangkat! Cleo jangan lupakan tugasmu!" peringat Meyrin.


"Baik, Nona. Hati-hati di jalan." Cleo membungkukkan badannya sampai Meyrin keluar dari ruang rapat.


"Apa kamu tidak ingin menyapaku?" tanya William yang berjalan di samping Meyrin.

__ADS_1


"Bukannya ditelepon tadi sudah jelas. Kita hanya sebatas rekan kerja sama selama di Italia. Perlu digaris bawahi, aku terpaksa menyetujui perjalanan ini karena atasanku sendiri yang memintanya," jawab Meyrin dengan cueknya.


"Nona," panggil Lea sembari menyampirkan long coat warna ungu senada dengan baju yang dipakai Meyrin.


Sesampainya di lobi ada sebuah mobil limosin menanti di depan perusahaan. Seorang sopir membukakan pintu untuk William dan Meyrin. William dengan gentle nya menyuruh Meyrin untuk masuk lebih dulu.


Meyrin memutar bola matanya jengah, dia masuk diikuti oleh Lea. Selanjutnya William dan terakhir Rama. Saat ini Meyrin harus memberikan jarak antara dirinya dan William. Berharap tidak ada rasa berlebihan yang timbul sebelum balas dendamnya berhasil.


Tak lama, mobil limosin itu mulai melaju dengan kecepatan standart. Saat ini mereka akan menuju ke Bandara Fu untuk melakukan penerbangan ke Italia.


Tanpa sepengetahuan Meyrin, Daniel Arlington membuat kerja sama antara Arlington dan Plowden di dunia entertainment. Hari ini hingga dua bulan kedepan, kedua pemimpin akan melakukan perjalanan bisnis ke Italia.


Sebenarnya mereka bisa pergi secara individual, hanya saja Daniel sudah mengatur semuanya. Jangan dikira selama Daniel di London tidak mengetahui perbuatan Meyrin yang melakukan ONS dengan William.


Hanya butuh waktu 15 menit dari Arlington Group untuk sampai ke Bandara Fu. Disana anak buah Daniel Arlington sudah menunggu kehadiran William dan Meyrin. Saat mereka keluar dari mobil, ponsel Meyrin berdering dan tertera nama ayahnya.


Meyrin izin untuk pergi menjauh agar bisa menjawab panggilan dari sang ayah. Hembusan nafas panjang terdengar sebelum wanita itu menjawab panggilan dari Daniel.


"Ada apa, Ayah?" tanya Meyrin dengan nada malas.


"Ayah beri waktu kamu untuk balas dendam dengan William selama dua bulan. Selama itu, pastikan William untuk jatuh cinta padamu dan buat dia menandatangani surat cerai dengan Laras," terdengar suara tegas Daniel di seberang sana.


"Iya, Ayah."


"Setelah kembali ke Lunar City, Ayah akan mengumumkan untuk pengunduran diri. Persiapkan dirimu saat itu tiba, Nak. Ayah sudah lelah dan tidak muda lagi. Kamu jangan takut, sebelum ayah pensiun, semua masalah di dunia mafia akan ayah selesaikan."


"Iya, Ayah."


"Kamu marah sama ayah?"


"Tidak, Ayah. Meyrin tahu ini sudah terbaik buat kita. Ayah sudah bekerja keras selama ini. Meyrin menyayangi ayah lebih dari nyawa Meyrin sendiri."


"Baiklah. Nikmati perjalanan bisnismu di Italia. Disana daerah kekuasaan paman Aite. Jika terjadi sesuatu, hubungi dia dan koordinasikan pasukan kita."


"Baik, Ayah. Meyrin akhiri dulu yah, kita sudah mau take off."


Setelahnya panggilan mereka berakhir. Meyrin kembali bergabung dengan rombongan. William menganggukkan kepalanya dan mereka mulai diarahkan ke lounge VVIP untuk menuju ke jet pribadi keluarga Arlington.


"Siap bersenang-senang, Nona Liu Meyrin?" bisik William begitu lirih saat mereka berjalan berdampingan.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2