
Ken baru saja menyelesaikan rapatnya, wajahnya terlihat kusut. Rapat kali ini tidak berjalan lancar. Banyak permasalahan dan kendala sehingga membuatnya harus memikirkan jalan keluar.
Alex datang menghampiri Ken sembari menyerahkan ponsel big bosnya. Ken menatap ponsel dan asisten pribadinya bergantian. Tidak ada yang mencurigakan.
"Tuan, Nona Emily menghubungi Anda. Lalu, beberapa menit yang lalu Lea juga menghubungi Anda."
"Masuk ke ruanganku!" perintah Ken.
Ken melempar tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan. Alex mendekat dan membawa secangkir cokelat panas kesukaan Ken Lian. Ken tak bergeming, tapi Alex tetap berdiri di sana, menunggu perintah dari big bosnya.
"Jadwalku apa selanjutnya?" tanya Ken masih memejamkan kedua matanya. Tangannya memijat pangkal hidung.
"Jam 2 akan ada rapat dengan produser new album, lalu jam 3 ada pemotretan dengan brand ternama. Jam 5 ada—"
"Batalkan semuanya. Aku mau pergi memeriksa keadaan club." Ken menyela laporan asistennya.
"Baik, Tuan."
"Lalu telepon dari Nona Lily ba—"
"Nona Lily?" Ken membuka matanya dan menatap Alex dengan pandangan penuh curiga.
"Mak-maksud saya, Nona Emily, Tuan," Alex segera mengoreksi kesalahannya.
"Berikan ponsel itu dan ingat! Jangan ada hubungan apapun dengan Emily. Kamu paham kan?"
"Pa-paham, Tuan."
Alex segera menyerahkan ponsel pribadi milik Ken. Setelahnya dia kembali ke meja kerjanya yang menjadi satu dengan ruangan Ken.
Ken mengubah posisinya menjadi duduk, memandang malas pada ponselnya. Dia tahu, jika Emily menghubunginya, maka itu pasti ada hubungannya dengan Alex. Tapi, jika Lea yang menghubunginya, pasti Meyrin dalam masalah.
"Kenapa dua sepupuku ini tidak bisa menyembunyikan identitasnya sih," sungut Ken kesal.
Pertama, Ken menghubungi Emily yang tentu saja masalahnya akan simpel. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Ken mencoba lagi di panggilan kedua dan langsung tersambung.
"Kak Ken!" seru Emily di seberang sana.
"Langsung bicara ke intinya Lily. Aku terlalu sibuk untuk mengurusi masalah sepelemu."
"Kalau begitu, kakak kirim saja Alex buat mengurusi masalahku," jawab Emily dengan santainya.
"Lily, Alex itu asisten pribadi dan managernya kakak. Kalau kamu ingin ganti manager, nanti kakak akan bilang ke Mey—"
"Tidak perlu! Aku tetap dengan manager yang ini saja. Sudah cukup pengawasan dari kak Meyrin, aku tidak mau menambah bebannya lagi," timpal Emily dengan nada kecewa.
"Baiklah, aku akan tutup teleponnya."
Tanpa menunggu jawaban dari Emily, Ken langsung mengakhiri panggilannya. Dia dapat melihat selama menelepon dengan Emily, Alex sedikit mencuri pandang ke arahnya. Dia mencoba masa bodoh dengan sikap asistennya itu.
__ADS_1
Selanjutnya, Ken mencari nama Lea di list kontak dan menekan tombol hijau di layar ponselnya. Dering pertama langsung tersambung.
"Tuan Ken, akhirnya Anda menghubungi saya."
Terdengar suara kekhawatiran dan kelegaan pada nada bicara Lea. Ken mengernyitkan keningnya, pasti sesuatu sedang terjadi pada Meyrin. Ken memberikan kode kepada Alex untuk membawakan laptopnya.
Alex yang menyadari kode dari big bosnya, langsung beranjak dari meja kerjanya. Melangkah pasti menuju satu-satunya meja besar yang berada di tengah ruangan. Diambilnya laptop sang Bos dan membawanya ke sofa tempat Ken berada.
"Ada masalah apa, Lea?" tanya Ken setelah laptopnya sudah siap dioperasikan.
"Begini, Tuan …." Setelahnya mengalir cerita penyerangan terhadap Walikota yang terjadi di La Fenice oleh Lea.
Ken mengapit ponselnya di antara pundak dan telinga. Fokusnya kali ini terbagi menjadi dua, mendengarkan cerita asisten pribadi Meyrin sembari kedua tangannya mulai melacak lokasi kejadian.
Ken mulai memasukkan kode-kodenya untuk menghack sistem keamanan di gedung Opera La Fenice. Tentu saja dia harus melakukan dengan sangat hati-hati dan cermat agar tidak ketahuan. Kerutan kebingungan menghiasi dahinya saat tidak menemukan apapun.
"Lea, kapan kejadian itu terjadi?"
"Tanggal 5 Januari 2025 pukul 11 waktu Venesia, Tuan."
"Oke, lanjutkan!"
Lea kembali melanjutkan ceritanya yang sempat terputus tadi. Kali ini, dia bercerita saat nona mudanya dibawa ke rumah sakit dan kambuhnya trauma Meyrin.
"Apa paranoid William juga kambuh?" tanya Ken masih fokus menatap layar laptopnya.
"Hingga detik ini?"
"Iya, Tuan."
"Astaga! Mereka berdua benar-benar gila. Semoga saja Meyrin dan William bisa kembali bersama."
"Maaf, lalu bagaimana dengan Tuan Ken?" tanya Lea yang merasakan nada kesedihan pada suara Ken.
"Hei, kamu tuh yah sama seperti Meyrin dulu. Aku itu Ken Lian, sangat mudah untuk mendapatkan wanita, semudah menjentikkan jari," sombong Ken.
"Terserah Anda. Jadi, apakah Anda menemukan sesuatu?"
"Aku sedang meretas sistem keamanan gedung Opera La Fenice. Ini baru saja selesai, tinggal mencari rekaman tanggal … kenapa bisa begitu?"
"Ada apa, Tuan?" tanya Meyrin.
"Tunggu sebentar. Alex, tolong ambilkan ponsel di laci meja!" perintah Ken pada asistennya.
Alex langsung bergegas, dia tahu ponsel mana yang dimaksud oleh bosnya itu. Sebuah ponsel berwarna hitam di mana layar pada ponsel itu sedikit retak. Alex segera menyerahkannya pada Ken yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Lea, tunggu sebentar, aku ingin menghubungi seseorang," pamit Ken tapi tidak mengakhiri panggilannya dengan Lea.
Ponsel yang dibawa Alex hanya ada beberapa list kontak yang berhubungan dengan jati dirinya sebagai Jack. Dia mencari nama Armand, tangan kanan seorang Nikolai Stevano.
__ADS_1
"Yo! Ken," sapa Armand.
"Apa kamu ingin menjelaskan sesuatu, Armand?" pancing Ken.
"Seperti biasa, kamu tidak suka berbelit-belit. Paling tidak sapa lawan bicaramu dulu," jawab Armand.
"Armand, aku tidak sesantai kamu yang sekarang menikmati liburan," sindir Ken.
"Sialan! Ini permintaan Tuan Nikolai untuk menetap disini," jawab Armand.
"Iya, iya dan Tuan Nikolai berhasil menjadikan pulau Akasia sebagai wilayahnya. Sampaikan salamku padanya."
"Tuan Nikolai mendengarnya. Aku menghidupkan loudspeaker."
"Sialan!" umpat Ken.
"Ada masalah, Ken?" tanya Nikolai merasa tidak senang dengan umpatan Ken.
"Ada. Apa yang kalian lakukan pada rekaman CCTV di gedung Opera La Fenice?" tanya Ken yang mulai serius.
"Tentu saja meretasnya. William sudah aku anggap sebagai keponakan sendiri. Tentu saja aku akan membantunya dari belakang. Jadi sebelum dia bertanya, aku akan menyiapkan informasi yang dibutuhkannya lebih dulu. Apa itu masalahmu?" jelas dan tanya Nikolai.
"Tuan Ken, apa ada masalah?" kali ini giliran Lea yang bertanya.
Ken juga menggunakan mode loudspeaker pada ponsel yang terhubung dengan Lea. Ken terdiam, tidak menjawab. Nikolai, Armand dan Lea juga terdiam, menunggu jawaban dari Ken. Sedangkan Ken memejamkan kedua matanya sembari memijat keningnya yang terasa berdenyut.
"Tuan Nikolai, bisa kirim rekaman video itu?" tanya Ken akhirnya.
"Katakan dulu ada apa! Kita seorang pebisnis, harus ada sesuatu yang aku terima, bukan?" Nikolai di seberang sana terlihat begitu santai.
"Aku mencurigai musuh Tuan Nikolai. Tapi itu hanya kecurigaan saja," jawab Ken.
"Armand, kamu berikan apa yang bocah itu mau. Aku mau menjenguk Ariana."
Setelah itu terdengar bunyi pintu terbuka lalu tertutup lagi.
"Sialan! Brengsek! Fvck you! Apa kamu melakukan sesuatu di belakangku?" bentak Ken akhirnya. Amarah yang ditahannya dari tadi lepas sudah.
Nah kan, Ken marah juga.
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1