
Jika William sudah menemukan tujuannya kembali, berbeda dengan di Lunar City. Meyrin baru saja keluar dari ruang operasi. Wajahnya tampak pucat dan begitu damai dalam tidurnya. Ada Emily dan Daniel di sisinya, menanti sang pemimpin mafia Arlington membuka kedua matanya.
"Dad, kenapa Kakak lama sekali membuka matanya?" tanya Emily yang masih menggenggam tangan Meyrin dengan nada khawatir.
"Mungkin kakakmu ingin istirahat lebih lama lagi. Tunggu saja," ujar Daniel menenangkan putri bungsunya walaupun dia sendiri khawatir akan keadaan Meyrin.
"Dad, apa … apa kalian tidak bisa meninggalkan dunia hitam ini?" tanya Emily sambil menundukkan kepalanya. Dia takut menatap wajah Daddy-nya.
"Apa Emily tidak mau menerima identitas kita lagi?" Daniel balik bertanya.
"Bukannya Emily tidak mau menerimanya lagi. Emily tidak tega melihat kalian bertarung lagi. Setiap kalian bertarung, Emily selalu takut. Ketakutan itu semakin menjadi saat nomor kalian tidak bisa dihubungi. Emily takut jika harus menyambut kalian dengan nama saja, hiks … hiks," pecah sudah tangis yang wanita itu tahan sejak tiba di rumah sakit.
Setelah itu, meluncur dengan deras keluhan yang dirasakan Emily selama ini. Keluhan saat dirinya harus menunggu ketidakpastian dua orang tercintanya saat pergi bertempur.
Daniel hanya bisa mendengarkan saja. Dia tidak membantah ataupun membenarkan pendapatnya. Dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik, karena dirinya sendiri tidak dapat memberikan jawaban yang diinginkan Emily.
"Lily, aku baik-baik saja. Jangan salahkan ataupun membebani Ayah lagi, Sayang," ujar Meyrin dengan nada lirihnya.
Emily yang mendengar suara kakaknya itu langsung mendongakkan kepalanya, menatap wajah pucat Meyrin.
"Kakak." Emily langsung memeluk tubuh Meyrin dan menangis sejadi-jadinya.
Meyrin yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu sedikit meringis. Daniel yang hendak menegur Emily diurungkan karena putri sulungnya menghentikan sang Ayah.
Meyrin menepuk-nepuk punggung adiknya. Adik tiri yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya. Meyrin sangat memanjakan Emily, tapi walaupun begitu Emily tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dia benar-benar menghormati Daniel dan menyayangi Meyrin walaupun mereka bukan dari ibu yang sama.
"Sudah jangan menangis lagi. Kakak sudah ada untuk kamu. Semua sudah selesai, Sayang."
"Yakin?" tanya Emily memastikan.
"Sepertinya begitu," ujar Meyrin sambil tersenyum jahil.
"Kakak!" hardik Emily tak suka dengan cara bercanda Meyrin.
"Untuk masalah Rizzo kayaknya bisa diurus. Ayah bagaimana?" tanya Meyrin menatap Daniel.
"Masalah di New York sudah dibereskan. Setidaknya mereka tidak berani mengganggu kita."
"Kalian tidak bercanda, 'kan? Kita bisa hidup tanpa desingan peluru dan rasa khawatir yang berlebih?"
__ADS_1
"Iya."
Emily kembali memeluk sayang Meyrin. Sungguh, hari seperti ini yang ingin Emily rasakan tiap hari bersama dua anggota keluarganya. Tiba-tiba Lea datang mendekat dan mengkonfirmasi keadaan di Venesia.
"Ada apa, Lea?" tanya Meyrin saat menyadari asisten pribadinya mendekat.
"Semua masalah di Venesia sudah dibereskan oleh Tuan Aite. Mereka hanya kesulitan untuk mencari pemimpin kapak putih, Nona," lapor Lea.
"Apa Ken ada jadwal?" tanya Meyrin.
"Menurut Alex untuk satu bulan ke depan, Tuan Ken akan melakukan promosi album terbarunya sekaligus pertemuan dengan beberapa kliennya," jawab Lea lugas.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada nama Rama di sana. Lea menatap Meyrin yang mendapatkan izin untuk menjawab panggilan itu. Sang asisten lalu menjawab panggilan itu.
"Iya … tidak, Nona baik-baik saja … Baiklah jika itu keputusannya."
Lea kembali memasukkan ponselnya setelah pembicaraan singkat itu selesai. Dia kembali melapor jika William sudah sadar dan akan melanjutkan urusannya di Venesia.
"Tuan William juga menginginkan pihak Arlington untuk mengirimkan orangnya guna menyelesaikan pembuatan video pendek. Pihak WR Entertainment tidak menuntut agar Nona Meyrin turun langsung," jelas Lea.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Meyrin.
"Satu minggu paling cepat, paling lama sebulan karena luka bekas operasinya masih basah. Dokter juga menyarankan untuk pemberian obat penawar pada tubuh Anda secara berkala."
"Tidak! Kakak tidak boleh ke manapun. Biarkan Emily yang terjun ke Venesia untuk menggantikannya. Pokoknya Kakak harus istirahat," cegah Emily.
"Kalau Kakak tidak salah ingat, bukannya kamu dalam satu minggu ke depan ada pembuatan video klip?" sindir Meyrin sekaligus mengingatkan jadwal sang adik.
"Eh, Emily lupa." Emily menepuk jidatnya dan Meyrin tertawa melihat tingkah konyol sang adik, sedangkan Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya.
Semenjak kedatangan Meyrin, Emily sudah lengket banget sama Kakak tirinya itu. Dia tidak manja lagi pada Daniel seperti dulu.
"Tapi tetap saja Kakak tidak boleh pergi! Kalau begitu, Daddy saja yang pergi," usul Emily.
"Mana mungkin Daddy melakukan hal mesra dengan William, otaknya tolong dikondisikan Emi," sungut Daniel dan itu sukses membuat semua orang yang ada di dalam ruangan Meyrin tertawa.
****************
Satu minggu telah berlalu, William sudah diperbolehkan untuk pulang. Rama mengurus semua keperluan untuk William keluar dari rumah sakit. Sedangkan William sendiri duduk santai di sofa ruang rawat inap nya dengan pakaian santai.
__ADS_1
Sesuai yang dilaporkan Rama, pihak dari Arlington Group akan datang hari ini. Mereka juga tidak ingin menghambat project yang sudah ditandatangani. Pihak Arlington meminta untuk tidak menunggu tapi langsung bertemu di tempat pembuatan video.
Rama masuk kembali ke ruangan William. Dia melaporkan bahwa semuanya sudah selesai tinggal berangkat ke tempat pembuatan video.
"Rama, siapa yang dikirim oleh pihak Arlington Group?" tanya William saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Lea tidak memberitahukannya, Tuan. Kemungkinan adalah sekretaris Nona Meyrin atau Nona Emily sendiri yang datang."
"Oh." Jawaban William terdengar begitu tidak puas saat bukan Meyrin yang datang.
Entah sejak tadi hatinya begitu gelisah. Jantungnya berdebar tak menentu, seperti sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang diluar nalarnya dan tak diinginkan.
"Apa ada masalah, Tuan?" tanya Rama saat melihat gelagat William yang tidak seperti biasanya.
"Tidak ada, kalau begitu langsung menuju ke jembatan Rialto."
"Baik, Tuan."
Sesampainya di depan grand kanal, William langsung menaiki gondola yang sudah disiapkan. Rama memberikan informasi kalau beberapa kru sudah berada di jembatan, menanti kehadiran dari kedua belah pihak.
Sampai di jembatan Rialto, William langsung naik ke daratan. Hari ini jembatan itu sudah dipesan hanya untuk khusus pembuatan video oleh Walikota. Para wisatawan hanya boleh berada di samping jembatan.
William berdiri di bibir jembatan, menatap grand kanal di pagi hari. Suasana pagi hari ini di Venesia begitu cerah. Beberapa gondola melewati jembatan Rialto membuat William teringat sesuatu.
William tersenyum saat kenangan itu terlintas. Senyum malu dan ketakutan Meyrin saat menaiki gondola. Hal romantis yang terjadi setelah terjadi Acqua Alta. Setelah adegan berganti saat Laras datang dan meminta untuk menerima Meyrin apa adanya.
"Sebenarnya kamu di mana, Sayang?" lirih William begitu merindukan Laras, istrinya.
"Selamat pagi, Tuan Plowden," sapa seseorang dari belakang William.
William segera berbalik, menatap seseorang yang menyapanya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga