
"Ini, Tuan."
Sopir itu menyerahkan sebungkus roti dan sebotol minuman untuk William. William mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggrisnya yang fasih. William langsung membuka bungkus roti itu dan memakannya. Lalu, sebotol air diminum hingga semua isinya tandas tak bersisa. Lumayan bisa membuat mengganjal perut William yang sedang kelaparan.
William sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada sang sopir. Tanpa William sadari, sopir tersebut menyunggingkan senyum liciknya. Wajah sang sopir tampak begitu misterius, seperti menyimpan sebuah rencana jahat yang sudah tersusun rapi.
Sang sopir menunggu sesuatu terjadi pada penumpangnya itu. Benar saja, William mulai memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Pandangannya perlahan mulai kabur dan akhirnya sebuah kegelapan menghampiri suami Meyrin itu. William jatuh pingsan di dalam mobil.
Saat itu juga sang sopir menepikan mobilnya di gang sempit. Dia mengambil sebuah plat di dalam dashboard mobilnya beserta obeng. Pria itu lalu keluar dari mobil dan mulai mengganti nomor platnya. Setelah selesai dengan tugasnya, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Deringan pertama langsung tersambung. Sang sopir melaporkan hasil kerjanya dan keadaan William saat ini.
"Bagus, sekarang pergilah ke pinggiran kanal. Di sana aku sudah menyiapkan sebuah yacht," orang di seberang sana memberikan perintah selanjutnya.
"Bagaimana dengan CCTV nya, Tuan?" tanya sang sopir.
"Berto sudah mengurusnya. Selama Jack belum beraksi, semua aman."
"Baik, Tuan."
Setelah itu panggilan berakhir. Sang sopir kembali masuk ke mobil dan meletakkan plat nomor pemerintahan itu di dalam dashboard. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap William yang terkulai lemas akibat obat tidur. Obat itu telah dimasukkan ke dalam botol dan bercampur dengan air hingga William tidak menyadarinya.
Mobil itu keluar dari gang sempit dan mulai melaju seperti yang diarahkan oleh Berto melalui earphone mini. Berto mencarikan jalan yang aman untuk sampai ke yacht yang dimaksud oleh bosnya itu. Beberapa CCTV harus Berto hack agar tidak merekam mobil yang membawa William.
Benar saja, di pinggiran jalan ada sebuah yacht warna putih yang berukuran kecil. Berto menyuruh sang sopir langsung naik bersama mobilnya. Setelah memastikan semua aman, yacht itu menyala dan mulai mengarungi laut lepas. Cuaca saat itu mendung dan angin berhembus begitu kencangnya.
Beberapa orang berjalan mendekati mobil yang baru saja naik ke atas yacht. Sang sopir keluar dari mobil, mereka terlibat percakapan sebentar. Setelah itu, sang sopir membuka pintu mobil belakang. Terlihat William yang masih terpengaruh oleh obat tidur.
Beberapa orang itu saling berpandangan, berbicara melalui tatapan mata. Kemudian menganggukkan kepala mereka setuju. Setelah berada di tengah laut, beberapa orang itu mengeluarkan William dari mobil dan membawanya masuk ke dalam yacht.
"Bos, kita sudah mengikat orang ini. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya orang dengan tubuh besar dan kekar.
"Awasi saja dia. Dia akan tertidur selama lima jam."
"Baik, Bos."
****************
__ADS_1
"Sialan!" umpat Armand yang membuat Nikolai terkejut begitu juga dengan Rama.
"Ada apa?" tanya Nikolai.
"Aku tidak bisa melakukannya. Ini keahliannya seorang Ken. Kemungkinan jika kita membicarakan hal ini pada Ken masih bisa menemukan petunjuk. Walaupun, semua sudah terlambat." Armand menjelaskan kesulitannya dan memberikan solusi.
"Tapi, Tuan Ken sedang menjaga Nona Meyrin," Rama mengatakan keadaan Ken di rumah sakit.
"Serahkan padaku, Rama. Kamu urus saja perusahaan. Sepertinya ini masalah yang sedikit rumit," jawab Nikolai.
"Apa ini ada hubungannya dengan mafia, Tuan?" tanya Rama.
"Iya. Kamu cukup menghandel seperti biasanya saja."
"Baik, Tuan."
Nikolai lalu mengakhiri panggilan video itu. Dia dan Armand mulai bersiap untuk mengunjungi Meyrin di rumah sakit.
****************
Ken baru saja mengantar Daniel ke Bandara. Pamannya itu harus kembali ke London untuk menemani Emily dalam show terakhirnya. Saat ini Ken dan Alex sedang berada di mobil yang sama, di mana sang asisten pribadinya yang mengemudi.
"Tuan, ada panggilan masuk dari Tuan Armand." Alex memecahkan lamunan Ken.
"Yo, Armand. Ada apa?" sapa Ken.
"Kamu di mana?" Ken mengernyitkan keningnya karena baru kali ini Armand tidak protes dengan dirinya yang langsung to the point.
"Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ada apa?" tanya Ken sedikit ketus karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.
"Bagus. Kita bicarakan di rumah sakit. Tuan Nikolai juga ikut. Sesuatu terjadi pada Tuan William."
"Apa hub—"
"Rizzo Giovanni berulah." Armand langsung menimpali ucapan Ken.
"Shiit! Jangan bicara apapun tentang Rizzo. Aku akan segera tiba di rumah sakit. Alex, percepat laju mobilnya!" perintah Ken yang langsung mengakhiri panggilannya.
Ken menghembuskan napas kasarnya, "Astaga aku bisa gila!" seru Ken pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ken langsung membayangkan bagaimana rasanya menjadi Meyrin. Seorang wanita lemah lembut, polos harus berubah 180° dan menyikapi semua permasalahan yang ada. Entah permasalahan di perusahaan maupun di dunia hitam seperti saat ini.
Mungkin jika masalah seperti biasanya Meyrin bisa melakukannya. Akan tetapi, jika sudah melibatkan Rizzo itu sama halnya membuka luka lama buat sang pemimpin mafia Arlington. Ken kembali melamun dan teringat peristiwa di mana seorang Laras yang begitu rapuh.
Ken yang asyik dengan lamunannya tidak menyadari jika mereka sudah sampai di basement rumah sakit. Alex dengan rasa takut mencoba untuk memanggil nama tuannya. Berharap tidak mendapat semburan amarah dari seorang Ken Lian. Alex benar-benar menciut jika Ken sudah marah.
"Tuan, kita sudah sampai di rumah sakit," ujar Alex membuat Ken tersentak dengan panggilannya.
Tanpa banyak bicara, Ken langsung keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju kamar rawat inap Meyrin. Benar saja, di ujung lorong, depan pintu ruangan terlihat Nikolai dan Armand. Bertepatan dengan itu, Lea membuka pintu kamar.
"Mau ke mana?" tanya Ken pada Lea saat wanita itu berada di hadapannya.
"Nona Meyrin sudah sadar, Tuan. Saya ingin memanggil dokter." Lea menjawab dengan lugas.
Mendengar itu Ken tidak bertanya lagi dan membiarkan Lea melewatinya. Sedangkan ia semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan Meyrin.
"Ken—" ucapan Nikolai terpotong oleh perkataan Ken.
"Masuklah dulu! Meyrin sudah sadar!" ucap Ken.
Nikolai dan Armand tak bertanya lagi. Mereka berdua masuk ke dalam kamar di mana Meyrin sedang menjalani perawatan intensif dari tim medis.
Saat mereka masuk, terlihat Meyrin sedang menerima telepon dari seseorang. Posisinya saat ini sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Raut wajahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Ken, Nikolai dan Armand berjalan mendekati Meyrin. Kening Meyrin mengernyit saat melihat kehadiran ketiganya. Meyrin lalu membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Fvcking shiit!" umpat Meyrin.
Meyrin menutup ponselnya dan menatap Ken penuh selidik. Terutama Nikolai dan Armand, kedatangan mereka bukan hanya menjenguk dirinya.
"Apa William diculik?" tanya Meyrin tiba-tiba saat ketiganya sudah berada di samping ranjangnya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga