OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 34 BOLEHKAH?


__ADS_3

"Lea, ada apa dengan Meyrin?" tanya Ken lagi.


"Sebenar—"


"Tidak terjadi apapun," jawab William yang langsung merampas ponsel ditangan Meyrin.


"Apa yang kamu lakukan?" tatapan Meyrin begitu tajam.


William tidak menjawab tapi langsung mengakhiri panggilan antara Meyrin dan Ken. Tatapan tajam Meyrin dibalas dengan tatapan tajam juga.


"Persetan dengan ikatan," kesal William yang langsung menggendong Meyrin ala bridal style.


Rama yang melihat itu memutar bola matanya bosan. Sudah dipastikan paranoid tuan mudanya sedang kambuh. Sedangkan Lea yang melihat itu menatap tak percaya.


Melihat William dan Meyrin berjalan keluar dari rumah sakit, para pengawal mengikuti dari belakang. Selanjutnya Rama dan Lea yang sedikit berlari mengejar dua pewaris kerajaan bisnis terbesar di Lunar City.


"Lepas! Kamu mau apa?" berontak Meyrin dengan tenaganya yang masih lemah.


William tidak menjawab, lelaki itu langsung mendudukkan Meyrin di kursi depan mobil dan memasangkan seatbelt-nya. Setelah memastikan wanita itu aman, dia berjalan ke sisi kemudi lalu menancap gas mobil.


"Kamu bawa aku kemana? Ini namanya penculikan, Tuan!" ujar Meyrin menatap William yang tetap fokus menyetir.


William mengambil earphone dan menghubungi seseorang. Dering kedua panggilan itu langsung tersambung.


"Rama! Batalkan semua jadwalku dan Meyrin untuk beberapa hari ke depan!"


Setelah mengatakan itu, William langsung mengakhiri panggilan tapi earphone masih terpasang. Melihat itu membuat Meyrin kesal sendiri. Suaminya itu masih seperti dulu, sikap arogan dan mendominasinya lebih parah.


****************


30 menit perjalanan, William dan Meyrin tiba di Hotel Danieli. William segera menggendong Meyrin untuk menuju ke kamar mereka berdua. Pengawal yang bertugas di sana membantu William membuka pintu kamar.


"Uuh~" ringis Meyrin saat William memperlakukan dirinya begitu lembut.


Walaupun sikap lelaki itu terlihat kasar dan buru-buru tapi, William masih mengingat bahwa Meyrin sedang terluka. William mengunci kamarnya membuat Meyrin menatap tak percaya.


"Tidurlah disini dan jangan kemana-mana!" perintah William sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Meyrin melongo tak percaya dengan  pengendalian emosi seorang William. Dia sangat tahu betul bagaimana lelaki itu jika paranoid-nya sedang kambuh. Wanita itu bahkan tahu sejak di dalam mobil, William menahan emosinya.


"Apa paranoid-nya sudah sembuh?" tanya Meyrin pada dirinya sendiri.


Tanpa Meyrin ketahui, William di dalam kamar mandi sedang meluapkan emosinya. Awalnya hanya memukuli diri sendiri atau dinding kamar mandi, menjambak rambutnya dan hingga akhirnya ….


Brak!

__ADS_1


Prang!


Meyrin yang sedang berbaring dengan santainya terkejut saat mendengar suara-suara di kamar mandi. Wanita itu segera beranjak dari posisinya, sedikit meringis saat jahitannya mendapatkan tekanan dari tangannya.


"William!" panggil Meyrin sembari menggedor pintu kamar mandi.


"Aku tidak apa-apa," jawab William dari dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa-napa. Buka pintunya sekarang!" perintah Meyrin mulai khawatir.


"Istirahatlah, aku—"


"Aku mau pinjam ponselmu untuk menghubungi Ken, ap—"


"Fvck!"


Setelah mengumpat, William membuka pintu kamar mandinya dan memanggul Meyrin. Lelaki itu membawa Meyrin seperti membawa sekarung beras di bahunya, begitu mudah dan ringan. Sedangkan sang wanita memberontak membuat William semakin terbakar.


William membaringkan Meyrin di atas kasurnya lalu menindihnya. Dapat Meyrin lihat, penampilan William begitu … dengan rambut acak-acakan, sedikit memar di beberapa bagian tubuh atasnya. Namun, hal itu tidak mengurangi pesona seorang William. Bahkan, dengan penampilannya itu membuat William terlihat semakin seksi di mata Meyrin.


"Aku tidak suka nama orang lain disebut saat hanya ada kita berdua," desis William.


"Kalau begitu, berhenti menyakiti diri sendiri," jawab Meyrin.


"Kamu sudah tahu tentang paranoidku?"


"Sayangnya paranoid bukanlah kelemahanku, Nona."


Meyrin menatap William yang berada di atasnya. Wanita itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari William. Begitupun dengan sang lelaki, tatapannya begitu tajam menatap wajah Meyrin.


Hanya dengan tatapan, darah Meyrin berdesir. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Apalagi tatapan tajam William yang sekarang berubah menjadi tatapan memuja dan lapar sekaligus.


Meyrin mengangkat tangannya, membelai pipi William. Lelaki itu memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan jemari Meyrin pada pipinya. Gelenyar aneh menghantam William, membuatnya lepas kendali.


William menghentikan tangan Meyrin yang berada di tepi bibirnya dan bertanya, "Bolehkah?"


Meyrin menatap manik hitam William. Dia hanya diam dan tersenyum. Selanjutnya, kedua tangan Meyrin melingkar di leher William. Perlahan, mendorongnya sedikit demi sedikit, membuat jarak wajah mereka mulai terkikis. Senti demi senti terlewati begitu saja hingga jarak kedua bibir mereka tinggal satu senti lagi untuk bertemu.


William menahan dorongan Meyrin pada tengkuk lehernya. Ditatapnya sekali lagi wajah cantik wanita yang sudah mencuri hatinya. Lalu ….


"Jangan menyesal setelah ini," desis William tepat di depan wajah Meyrin.


Napas panas William menerpa wajah wanita berambut panjang itu, menghantarkan aliran listrik bervoltase tinggi. Meyrin memejamkan kedua matanya, meresapi getaran yang menerpanya. Wanita itu menanti hal selanjutnya yang akan dilakukan William, suaminya.


Saat tak mendapatkan apa yang ada di benaknya, Meyrin membuka matanya dan mulutnya hendak protes, hingga ….

__ADS_1


"Hmph," Meyrin tak bisa mengeluarkan protesannya.


William mencium Meyrin begitu lembut tapi menuntut. Ciuman itu panas tapi memabukkan, menggetarkan jiwa keduanya. Tidak puas hanya dengan ciuman, William memasukkan lingualnya ke dalam mulut Meyrin. Mengabsen sesuatu yang ada di dalamnya.


Masih belum puas dengan permainan dua lingual, tangan William mulai menjelajahi tubuh wanitanya. Hal itu membuat sengatan listrik yang tadi hampir padam, sekarang berkali-kali lipat menyengat tubuh Meyrin dengan tegangan tinggi.


Suara yang sejak tadi ditahan oleh Meyrin lepas sudah. Suara itu bagaikan simfoni di rungu William. Semakin luas daerah penjelajahan tangan William, semakin keras suara yang dikeluarkan Meyrin. Bahkan, beberapa titik merah sudah menghiasi leher jenjang seorang Meyrin.


William menghentikan kegiatannya, "Aku tidak bisa berhenti setelah ini," ujarnya dengan napas yang memburu. Pria itu telah terbakar sepenuhnya.


Meyrin menatap wajah William, tatapan mata mereka saling bertemu. Tatapan William begitu tajam seperti singa kelaparan. Tatapan itu juga begitu panas hingga dapat membakar seluruh tubuh Meyrin.


"Kalau begitu, jangan berhenti."


"Kamu tidak akan menyesalinya?" desis William.


"Selama itu denganmu, tidak masalah," jawab Meyrin dengan nada begitu rendah.


"Kalau begitu, buktikan!" pinta William.


Detik selanjutnya, Meyrin lah yang memulai pertarungan benda kenyal di dalam mulut keduanya. William tersenyum di sela pertarungan itu. Tangannya semakin aktif menjelajah dan berhenti di beberapa titik.


****************


Rama dan Lea baru saja turun dari mobil. Mereka langsung menuju ke lantai tempat kedua majikannya berada. Sebuah laporan sudah mereka terima untuk kejadian yang menimpa Meyrin.


Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Lea. Wanita kekar itu menghentikan langkahnya dan membaca sebuah email yang baru saja masuk. Kerutan menghiasi dahinya, membuat Rama menatapnya heran.


"Ada masalah?" tanya Rama.


"Tidak ada. Ayo!" Lea kembali berjalan.


Saat mereka keluar dari pintu lift, beberapa pengawal memberi hormat. Lea menanyakan keberadaan William dan Meyrin, salah satu dari mereka menganggukkan kepalanya.


Rama dan Lea saling berpandangan dan menganggukkan kepala, sebuah keputusan diambil tanpa bicara.


Nungguin WilMey enak-enak dalam keadaan sadar yah?


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2