
Sepeninggal Juna, keadaan hening seketika. Tidak ada yang berbicara maupun memecah suasana hening yang tercipta. Hingga Lea lah yang berinisiatif memecah keheningan itu.
"Apa saya harus pergi?" tanya Lea.
"Tidak Lea. Kamu tetap disana saja. Pastikan kamu selalu berada di samping Meyrin," jawab Ken.
"Baik, Tuan."
"Apa kamu sudah melihat beritanya?" tanya Meyrin tanpa basa basi.
Meyrin tahu betul siapa dan bagaimana sosok seorang Ken. Dia mengenal Ken luar dan dalam. Berbagai misi dan pertempuran telah mereka lewati berdua.
Hujan peluru, baku hantam dan serangan fisik sudah mereka rasakan. Bahkan goresan bahkan tusukan dari pisau kecil pernah menghiasi tubuh keduanya. Mereka seperti romeo dan juliet di medan pertempuran, saling melindungi dan berkorban.
Ken dan Meyrin seperti Daniel dan Jack. Mereka siap berada di baris terdepan untuk memimpin pasukan. Meyrin seperti Daniel versi cewek, wanita itu tidak mengenal rasa takut.
Bedanya, jika Daniel lebih suka langsung menyerang dan membabat habis musuh-musuhnya. Lain dengan Meyrin yang lebih suka menyerang dengan taktik. Sebelum menyerang, Meyrin akan mengumpulkan pasukan inti untuk menyusun sebuah serangan dan taktiknya.
"Mey! Sweetie!"
"Nona Muda!"
Meyrin tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil oleh Lea dan Ken. Wanita itu seperti orang linglung, menatap Lea dan wajah Ken yang terlihat cemas di layar ponselnya.
"Lea, apa dia sering gagal fokus lagi?" tanya Ken menatap tajam asisten pribadi Meyrin.
"Tidak, Tuan. Nona Meyrin kehilangan fokus saat mendengar nama Rizzo saja," jelas Lea.
"Aku tidak apa-apa. Tadi hanya sedikit melamun tentang Mommy dan Daddy nya Juna saat di medan pertempuran," canda Meyrin.
"Jangan bercanda disaat genting seperti ini!" hardik Ken.
"Tenanglah! Semua baik-baik saja!" Meyrin mencoba mencairkan suasana tegang yang diciptakan oleh Ken.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika aku tidak ada disana?" tanya Ken dan kentara sekali di wajahnya ada rasa khawatir.
"Lea sudah mengatur pertemuanku dengan Paman Aite. Kamu tenanglah, semua akan baik-baik saja."
"Kamu melihatnya juga kan, Mey?" tanya Ken yang dijawab anggukan kepala oleh Meyrin.
"Aku hanya melihat siluetnya. Dia laki-laki dan untuk ciri fisiknya aku tidak tahu," jawab Meyrin saat dirinya teringat siluet orang yang mencurigakan di bandara tadi.
"Aku sudah meretas CCTV di Marco Polo Airport. Dia tetap memakai penyamarannya hingga masuk ke dalam mobil sedan. Aku yakin, dia atau orang yang berada dibelakangnya tahu tentang keahlian khusus ku ini."
__ADS_1
"Lalu, kita harus bagaimana?" kali ini Meyrin yang bertanya.
Suasana hening seketika. Mereka bertiga sedang sibuk dengan pikiran masing-masing untuk mencari jalan keluarnya. Sehingga ketukan di pintu kamar terdengar. Lea segera membuka pintunya.
Terlihat Rama berdiri di depan pintu kamar. Lelaki itu terlibat obrolan dengan Lea yang terkadang hanya mendapatkan respon anggukan kepala. Tidak lama mereka berbicara sebelum akhirnya asisten pribadi William itu pamit.
"Ada apa?" tanya Meyrin saat Lea sudah kembali berdiri di sampingnya.
"Hanya pengaturan jadwal untuk besok dan pantangan menu sarapan dan makan malam untuk Nona." Lea menjelaskan inti dari pembicaraannya dengan Rama.
"Istirahatlah! Aku akan memikirkan caranya dan mencari petunjuk lainnya. Ingat Mey! Tetap waspada pada siapapun. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri." Ken menatap Meyrin serius.
"Iya Ken. Aku tutup dulu yah," pamit Meyrin yang dijawab anggukan kepala oleh lawan bicaranya di seberang sana.
****************
Meyrin melempar ponselnya ke atas kasur, begitu juga dengan tubuhnya. Wajahnya masih terlihat berseri-seri setelah berbicara dengan Juna. Meyrin kembali duduk dan menatap Lea.
"Sudah mendapat kabar dari Paman Aite?" tanya Meyrin.
"Belum, Nona. Baik Tuan Aite maupun sekretarisnya tidak ada yang merespon."
Meyrin menatap jam di dinding. Pukul 7 malam waktu Venesia. Melihat itu membuat Meyrin berdecih. Meyrin lalu mengambil ponselnya dan mencari nama paman Aitenya.
"Sialan! Pasti dia sedang bermain dengan wanita jalangnya," sungut Meyrin kesal.
"Panggilan ketiga, panggilan terakhir. Jika sampai tidak ada jawaban … Lea, bersiap ke club miliknya!" perintah Meyrin kesal.
"Siap, Nona."
Meyrin pun kembali mencoba melakukan panggilan ketiganya. Dering demi dering terdengar hingga di dering keempat panggilan itu tersambung.
"Ada apa, Nonah," suara seorang pria terdengar sedikit melenguh.
"Sialan! Berhenti mengeluarkan suara menjijikkan itu, Paman!" bentak Meyrin.
"Hahaha … pergilah sebentar! Setelah ini kita lanjutkan!" terdengar suara di seberang sana yang menyuruh seseorang untuk pergi.
"Suruh siapa Nona Meyrin berpisah dengan suami, seandainya tidak berpisah bisa tiap hari merasakan surga dunia," canda Aite.
"Sekali lagi paman menyinggungnya, siap-siap mansion di pinggiran kota meledak," ancam Meyrin yang langsung dijawab gelak tawa dari lawan bicaranya.
"Pasti Ken yang memberitahu Nona."
__ADS_1
"Tidak, aku sendiri yang sudah menyelidiki kalian berempat. Bahkan tempat pribadi dan jadwal kalian sudah tercatat sempurna di otakku," jelas Meyrin dengan nadanya yang bossy.
"Benar-benar seorang bossy. Baiklah aku kalah! Ada apa Nona menghubungiku?" tanya Aite akhirnya.
"Satu jam dari sekarang aku akan berkunjung ke club. Jadi, jika Paman masih ada urusan, segera selesaikan sebelum aku tiba."
Setelah itu panggilan berakhir. Meyrin menghembuskan nafas lelahnya. Lea yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa disuruh, Lea mulai menyiapkan keperluan nona mudanya untuk pertemuan sebentar lagi.
Sedangkan Meyrin langsung menuju ke kamar mandi. Akan tetapi, sebelum masuk ke dalam kamar mandi, terdengar pintu kamar di ketuk.
"Ada apa?" tanya Meyrin setelah pintu kamar terbuka.
"Aku ingin mandi … apa kamu juga ingin mandi?" tanya William saat melihat Meyrin yang membawa handuk.
"Iya, tunggulah 30 menit lagi. Setelah itu kamar ini milikmu, bisa?"
"Tak masalah."
Setelahnya William menjauhi pintu kamar dan Meyrin kembali menutupnya. Dia kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
Benar saja, 30 menit kemudian pintu kamar terbuka. William menatap Meyrin dengan memicingkan alisnya. Penampilan Meyrin saat ini seperti … entahlah, lelaki itu tidak bisa mengatakannya.
Tapi bagi William, Meyrin yang seperti ini terlihat liar dan nakal. Bayangkan saja, wanita itu memakai celana kulit hitam, jaket kulit hitam dan sudah dipastikan dipadukan dengan tank top warna hitam juga. Semua serba hitam dan ketat, begitu sempurna membungkus tubuh sintal dan padat Meyrin.
William meneguk ludahnya, sosok Laras dalam otaknya perlahan memudar dan mulai berganti dengan Meyrin. Meyrin yang ditatap begitu intens oleh William merasa sedikit risih. Tapi setelah itu dia masa bodoh dan ….
"Mau kemana?" tanya William spontan membuat Meyrin, Lea dan Rama terkejut.
Senyum miring tersungging di wajah cantik Meyrin yang malam ini menggunakan make up natural. Bibir tipisnya saja yang memakai lipstick warna merah terang. Begitu menggoda dan menantang untuk dimakan. Meyrin menghentikan langkahnya dan menoleh ke sofa di belakangnya.
"Sepertinya aku mau kemana saja itu bukan urusan anda," bisik Meyrin begitu sensual di telinga William.
Apa yang terjadi selanjutnya?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1