
"Nggak mau," tolak Laras.
"Ini bakso spesial buatan suamimu, Sayang. Bakso di mana kamu lah orang pertama yang mencicipinya. Bagaimana, mau 'kan?" tanya William dengan nada cemas.
"Baiklah."
Akhirnya Laras setuju dengan saran William. Dia menyuruh Rama mencari bahan yang diperlukan untuk membuat kuah baksonya. Tidak lupa, lelaki itu meminta asistennya untuk membeli kubis.
Sesampainya di mansion, Pengacara Arlington sudah menunggu kehadiran Laras dan William. Laras menyambutnya dengan ramah begitu juga dengan William. Lea berjalan menuju dapur saat tidak mendapati cemilan di atas meja. Itu artinya sang Pengacara baru saja tiba.
"Nyonya, sekali lagi saya ucapkan selamat atas pernikahan Anda," ucap sang Pengacara berbasa-basi.
"Terima kasih, Pak. Apa Bapak membawakan surat yang diminta oleh asisten saya?" tanya Laras.
"Sudah, Nyonya." Pengacara itu mengeluarkan sebuah map kepada Laras.
Laras menerimanya dan membaca setiap kata yang tertulis di atas kertas itu. Kening Laras mengernyit saat ada kata yang tidak dia sukai.
"Pak, bukannya saja meminta seluruh aset pribadi?" tanya Laras saat di sana tidak tertulis.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya yang salah karena tidak yakin, jadi sengaja tidak mencantumkannya. Tapi, saya sudah membuat dokumen yang lain untuk berjaga-jaga."
Laras mengurungkan niatnya yang akan marah. Dia mengambil dokumen yang baru saja diserahkan oleh sang Pengacara. Wanita itu mulai fokus membaca lagi. Sebuah senyum tersungging di wajah cantiknya.
"Saya suka yang ini. Sayang, coba kamu baca dulu." Laras menyerahkan dokumen itu pada suaminya.
Tak lama, Lea beserta dua pelayan datang dengan membawa beberapa cemilan. Dia menyuruh dua pelayan itu untuk menyajikan cemilan beserta minumannya di atas meja. Setelah selesai, dua pelayan itu pamit undur diri. Sedangkan Lea berdiri di pojok ruangan, tetap menjaga Laras.
"Ini serius?" tanya William tak percaya setelah membaca surat pengalihan aset.
William menatap Laras, seolah mata mereka saling berbicara. Pria itu menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan surat yang ada di tangannya itu. Sayangnya Laras hanya menjawab dengan senyuman termanisnya. William sangat tahu arti senyum itu dan mau tidak mau, dia menandatangani surat pengalihan aset sang istri.
Setelahnya William menyerahkan lembaran itu kepada istri tercintanya. Laras tersenyum manis saat tanda tangan dan sebuah cap atas nama suaminya tertera di atas kertas. Lea mendekat dan menyerahkan pena serta cap atas nama Laras.
"Silakan dinikmati, Pak." William mempersilakan Pengacara Arlington untuk mencicipi hidangan yang sudah disiapkan.
"Terima kasih, Tuan." Sang Pengacara menyeruput minumannya sebagai tanda menghormati tawaran William.
"Ini, Pak. Segera diproses lalu kirim ke kantorku yah."
__ADS_1
Setelah membubuhkan tanda tangan serta capnya, Laras menyerahkan selembar dokumen itu pada pengacaranya. Pengacara itu kembali membaca, memastikan tidak ada yang salah.
"Baik, Nyonya."
Pengacara itu lalu memasukkan kembali lembaran itu ke dalam map dan menyimpannya di dalam tas. William, Laras dan sang Pengacara mulai terlibat percakapan santai. Hingga akhirnya Pengacara Arlington pamit untuk kembali ke kantor.
"Hati-hati di jalan, Pak." William dan Laras menyalami Pengacara tersebut.
Tak lama setelah itu, muncul Rama yang membawa pesanan William. "Tuan, saya sudah mendapatkan semuanya," ujarnya.
"Bawa ke dapur dulu. Nah, Sayang mau ikut ke dapur atau ke kamar?" tanya William.
"Ikut ke dapur saja," jawab Laras santai. William dan Laras berjalan beriringan menuju dapur.
"Duduklah di sini!" William menyuruh Laras untuk duduk di meja makan.
"Aku duduk di pantry aja yah? Aku ingin melihat suamiku masak," tawar Laras.
"Baiklah, kamu selalu memang, istri tercintaku. Tapi, berikan aku ciuman penyemangat dulu." William memajukan wajahnya ke arah sang istri.
"Kamu menang juga, Sayang."
Laras mencium bibir William dan sedikit mengajak bermain lidah sang suami. Laras benar-benar selalu membuat William takluk dengan pesonanya. Begitu juga dengan Laras yang selalu saja takluk dengan pesona suaminya.
"Sebenarnya kalian mau masak atau bermesraan?" sindir Ken yang tanpa sengaja ke dapur untuk mengambil soda di kulkas.
Laras melepaskan ciumannya dan memalingkan wajah yang memerah. Sedangkan William langsung memakai celemeknya. Dia mencari resep bikin kuah bakso yang paling mudah.
Langkah demi langkah William lakukan sesuai dengan tutorial yang ditayangkan di ponselnya. Hingga Laras mulai mencium aroma bakso yang selalu dia rindukan. Makanan favoritnya saat berada di Indonesia. Apalagi aroma khas sayur kubisnya bikin wanita hamil itu ingin segera mencicipinya.
"Hmm, aku suka aromanya, Sayang. Boleh aku coba sekarang?" tanya Laras sudah tidak sabaran.
"Masih belum sempurna, Sayang."
"Aku dan anak kita maunya sekarang. Berikan dua porsi untuk kita, Daddy William." Laras mulai merajuk.
"Daddy William?" ulang William sambil menatap Laras tak percaya.
"Yes, Daddy William dan Mommy Laras. Aku mau anak kita memanggilnya seperti itu. Daddy punya pendapat lain?" Laras menatap William sembari memangku tangannya.
__ADS_1
"Nothing. Daddy suka panggilan yang Mommy berikan," ujar William sembari tersenyum nakal pada Laras.
Laras yang mengerti kode dari suaminya itu memutar bola matanya jengah. "Tidak ada, Daddy. Tunggu dua bulan lagi yah, ikuti saran dokter. Mommy nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita."
"Terlalu lama, Mommy. Satu bulan aja deh," tawar William.
"No!" tolak Laras mantap.
"Kalian bahas apa? Oya Ras, aku harus kembali ke Lunar City. Kalian kapan kembali ke sana?" tanya Ken tiba-tiba.
"Ken, mau bakso juga?" tawar William, dia mencoba berdamai dengan Ken saat ini. Secara, Ken akan menjadi gurunya dalam bertempur ala mafia nantinya.
"Tidak, terima kasih, Will. Jadi, kapan kalian akan kembali ke Lunar City?" tanya Ken lagi saat pertanyaan tadi tidak mendapatkan jawaban.
Laras menatap William, menyerahkan keputusan penuh kepada suaminya. William meletakkan dua mangkuk bakso di hadapan Laras lalu segelas air dan susu hamil. Ken yang melihat itu menelan salivanya, bukan karena tergiur tapi lebih ke ingin muntah.
Pasalnya dua porsi bakso ditambah susu itu sudah melebihi batas makan orang normal. Ken menatap Laras dengan pandangan tak percayanya. Wanita itu begitu lahap memakan baksonya dengan wajah sumringahnya. Bahkan, satu porsi sudah tandas tak bersisa.
William tersenyum saat sang istri memakan baksonya dengan lahap. Tidak ada koreksi rasa dari sang istri, membuat William bangga dengan hasil masakannya. Rasanya William ingin belajar masak dari sang istri. Dia ingin Laras selalu memakan sesuatu yang dibuatnya.
"Emm … Laras, apa kamu tidak kenyang?" tanya Ken saat melihat porsi kedua tinggal kuah dari baksonya saja.
"Aku malah ingin tambah dengan nasi. Boleh yah Daddy?" tanya Laras kepada William.
"Boleh, Mommy."
William langsung mengambilkan semangkuk nasi untuk sang istri. Dia juga mengambilkan seporsi bakso lagi Laras. Ken mendekati William dan menghentikan suami dari Laras.
"Will, apa ini hal yang wajar? Laras biasanya tidak terlalu banyak makan karena dia selalu menjaga proporsional bentuk tubuhnya," bisik Ken.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga