OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 47 MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

"Apa kamu ada masalah dengan Rama, Will?" tanya Meyrin.


"Entahlah, dia semenjak kamu tidak ada di hotel ini berubah. Sikapnya beda dari biasanya, suka membangkang perintahku," jawab William.


Meyrin yang mendengar itu malah menahan ketawa. Dia tahu yang dimaksud William bukan Rama, melainkan dirinya sendiri.


"Kalau begitu, aku tutup dulu yah. Jam 1 siang aku ada rapat. Nanti setelah rapat, aku telepon lagi. Apa tidak apa-apa?" pamit Meyrin.


"Tidak apa-apa. Aku juga sibuk di sini, jaga kesehatan jangan sakit lagi. Kamu yang sakit, membuat aku khawatir setengah mati."


"Terima kasih atas perhatiannya, Tuan William."


Setelah itu, Meyrin mengakhiri panggilannya saat melihat Lea dan Ken yang sudah menjadi Jack keluar dari kamar. Meyrin melambaikan tangannya dan berjalan menuju keduanya.


Sesampainya di ruang rapat, Aite dan Joker sudah siap di tempat. Bahkan layar LCD sudah disiapkan oleh anak buah Aite. Meyrin, Jack, Lea dan Alex menempati kursinya masing-masing. Wajah Meyrin yang tegas menandakan bahwa rapat kali ini sangat penting.


"Kita langsung saja," Jack menyalakan laptopnya yang menampilkan semua rekaman CCTV gudang.


"Kalian sudah tahu jika rekaman ini tidak ada yang menangkap para penyusup itu, 'kan?"


"Itu artinya mereka lewat udara, tapi …," jawab Aite menggantung.


"Mata-mata mereka lah yang memberitahu kepada pimpinan dari penyusup ini. Artinya, dia adalah orang yang sangat dekat dengan kita dan mengetahui setiap detail keadaan gudang," sambung Joker.


"Tepat sekali! Ternyata kalian harus kehilangan puluhan juta dolar dulu baru bisa kembali cerdas," sindir Meyrin membuat Aite dan Joker menundukkan kepalanya, merasa bersalah.


"Lalu, bagaimana kita mengetahui identitas dari mata-mata itu?" giliran Jack yang bertanya karena Meyrin masih menyembunyikan identitas si mata-mata.


"Tinggal menghubunginya," jawab Meyrin dengan entengnya.


Mendengar jawaban dari nona mudanya, Lea sedikit maju ke depan dan menyerahkan ponsel Meyrin. Sang Bos mencari sebuah nama di list kontaknya lalu menghidupkan loudspeaker.


"Keadaan di gudang senjata aman setelah penyusupan itu, Bos," lapor seseorang di seberang sana.


Semua yang ada di ruangan rapat membulatkan kedua matanya saat mengenali pemilik suara itu. Mereka kompak menatap Meyrin yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka tidak perlu bertanya melalui lisan lagi karena anggukan kepala nona mudanya sudah mewakili sebuah jawaban.


"Bagus Buz, tetap awasi semuanya!"


Setelah memberikan perintah, Meyrin langsung mengakhiri panggilannya. Dia menatap semua yang ada di sana, meyakinkan kalau Buz adalah mata-mata musuh.

__ADS_1


"Bagaimana Anda bisa tahu kalau Buz adalah mata-mata musuh?" tanya Jack mencondongkan wajah bertopengnya ke wajah Meyrin.


Lea kembali maju ke depan, dia memberikan sebuah kota berbentuk persegi. Kotak itu tidak terlalu besar, ukurannya sekitar 10cm x 10cm begitu minimalis. Meyrin membuka kotak itu dan ada tiga butir baterai jam tangan.


"Baterai jam tangan? Tapi, Buz tidak memakai jam tangan," sanggah Aite.


"Bukan, ini adalah alat penyadap yang dikembangkan para mafia Italia. Beberapa hari yang lalu, aku meletakkan alat ini di ponsel Buz. Jack, apa kamu ingat saat aku menyuruh membuat program untuk alat sadap dengan kode cybermu?" Meyrin menatap Ken dengan senyuman liciknya.


"Tentu saja. Aku menghabiskan 2 x 24 jam untuk membuat program sialan itu," seru Ken akhirnya teringat saat Meyrin menyuruhnya lembur membuat sebuah program.


"Kalian tenang saja, program itu akan bereaksi jika sistem mendeteksi adanya pengkhianatan," jelas Meyrin saat melihat Aite dan Joker memeriksa ponselnya.


"Ah satu lagi, semua yang berada di bawah kepemimpinan seorang Arlington, ponsel mereka sudah berada dalam jangkauan sistem."


"Apa yang terjadi jika mereka tiba-tiba mengganti ponsel atau mengganti kartunya?" tanya Joker dengan sekali tarikan napas.


"Aaaa … soal itu tentu saja bisa terjadi. Sistem akan memberikan peringatan terlebih dahulu. Pemilik ponsel bisa menentukan pilihannya, tetap dengan ponselnya …," Meyrin beranjak berdiri dari kursinya.


Wanita itu berjalan memutari kursi tempat Ken duduk, lalu Aite, dan terakhir Joker. Meyrin berdiri di tengah antara Aite dan Joker.


"Atau …," Meyrin mencondongkan wajahnya ke depan. Aite dan Joker melirik pada Meyrin dan menahan napas.


Aite dan Joker membuang napas dengan buru-buru membuat napas keduanya tersengal-sengal. Meyrin yang melihat itu tersenyum puas. Sungguh, niat Aite dan Joker begitu terbaca jelas di wajah keduanya.


"Nona Meyrin, darimana Anda mendapatkan alat ini?" tanya Ken yang curiga.


"Tentu saja dari mafia tertampan di Akasia. Paman Nikolai Stevano." Meyrin menyesap wine yang tersaji di atas meja.


"Lalu selanjutnya apa?" tanya Jack.


"Tentu saja mengambil senjata yang dicuri."


"APA?" ujar Aite dan Joker penuh tanda tanya.


"Kenapa kalian membentakku, hah! Apa kalian tidak setuju dengan rencanaku untuk merebut kembali persenjataan kita?" Meyrin balik membentak. Aite dan Joker menundukkan kepalanya ketakutan.


Brak!


"JAWAB!" Meyrin meninggikan suaranya dan menggebrak meja.

__ADS_1


Aite dan Joker hanya bisa menggelengkan kepalanya yang tertunduk. Mereka berdua enggan menatap wajah garang sang Bos.


"Paman-pamanku tersayang, tolong jangan menguji kesabaranku. Aku tidak sebaik Ayah Daniel dalam memimpin. Temperamentalku sangat buruk dan kalian sudah tahu itu. Jadi, bisakah kita bekerja sama untuk waktu jangka panjang?" Meyrin menatap Aite dan Joker dengan tatapan tajamnya, jangan lupakan pisau kecil kesayangan Meyrin yang sejak tadi berada di tangannya.


"Ba-baik Bos," jawab Aite dan Joker bersamaan.


"Kalau begitu, berapa anggota yang kita punya di Italia, Paman?" tanya Meyrin yang mulai menurunkan nada bicaranya.


"Seperti yang saya bilang waktu sarapan tadi, 200 orang dan 50 dari mereka adalah orang-orang terpilih," jawab Aite.


"Saya punya 30 orang dan 10 orang dengan kemampuan spesialnya. Total 40 orang, Bos," jawab Joker.


"Kalau begitu, kita bawa 50 orang terpilih milik paman Aite dan 10 orang dengan kemampuan spesial milik paman Joker. Lea, kapan pesta topeng di mulai?" keputusan sudah Meyrin buat.


"Dua hari dari sekarang, Nona. Acara itu akan dimulai dari pagi hingga malam di St. Mark's Square dan beberapa tempat lainnya," jawab Lea.


"Bagus. Kalau begitu, nanti malam kita akan membuat Buz membuka mulutnya dengan cara kita." Meyrin menatap arah depan dengan senyum miringnya.


"Kedua pamanku, aku ingin kalianlah yang membawa Buz ke tempat kita. Ingat! Aku tidak ingin adanya kegagalan," perintah Meyrin.


"Apa kita bisa melakukan apapun, Bos?" tanya Joker.


"Tidak! Kalian cukup culik Buz dan bawa ke markas. Sebisa mungkin kalian tidak membuat keributan. Buat dia membuka mulutnya dalam 10 jam. Aku menunggu laporan dari kalian."


Meyrin langsung beranjak dari kursinya. Semua yang ada di dalam ruangan tanpa terkecuali menunduk hormat pada sang Bos. Setelahnya, Lea mengikuti Meyrin dari belakang sebelum nona mudanya menghentikan langkahnya.


Meyrin berbalik ke belakang, menatap orang-orangnya dan menganggukkan kepala. Sebuah ide muncul di dalam otaknya yang memiliki IQ di atas rata-rata.


"Aku punya sebuah ide!" seru Meyrin.


Ide apa nih? Ada yang tahu ngak?


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2