OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 75 BERPERANG DENGAN WAKTU


__ADS_3

Meyrin yang baru saja tiba di rumah sakit, tiba-tiba kondisinya kritis. Brankar Meyrin langsung didorong menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD) untuk ditangani secara intensif.


Lea mulai panik, begitu juga dengan Ken. Pikiran Ken sudah tidak bisa tenang lagi, dia tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini. Tak berapa lama, seorang suster sedikit mengintip di balik pintu ruang UGD.


"Tuan, Nona ini sedang terkena racun. Dokter sedang berusaha menetralisir racunnya. Akan tetapi, Nona sedang mengalami pendarahan. Jika ada dari pihak keluarga memiliki golongan darah emas, bisa melakukan transfusi. Kami kehabisan stok jenis golongan darah emas ini." Suster itu menjelaskan keadaan Meyrin yang begitu darurat.


Lea yang melihat Ken tidak bisa mencerna apapun, wanita itu berinisiatif untuk menghubungi Daniel Arlington. Dia menjelaskan secara singkat keadaan nona mudanya.


"Kirim alamatnya, Lea. Aku akan terbang sekarang juga menggunakan jet pribadiku."


Setelah itu panggilan berakhir. Lea mengirim alamat rumah sakit tempat Meyrin dilakukan perawatan. Satu jam, dua jam dokter masih belum keluar dari ruang UGD. Ken berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.


Beruntungnya Daniel saat ini berada di London. Penerbangan dari London menuju Venesia hanya memerlukan waktu kurang lebih sekitar dua jam. Terlihat Daniel baru saja tiba di rumah sakit.


Bertepatan saat itu seorang suster kembali menanyakan pendonor darah karena keadaan Meyrin di dalam sangat kritis. Daniel segera menghampiri suster itu dan mengatakan untuk mengambil sebanyak apapun darahnya.


Suster itu membawa Daniel masuk ke dalam ruangan UGD. Pria yang usianya sudah memasuki kepala lima itu dapat melihat putri sulungnya terbaring di atas brankar. Meyrin begitu teduh dalam tidurnya membuat Daniel tidak tega melihatnya. Apalagi, tubuh sang anak saat ini sedang menjadi fokus dari beberapa dokter yang mengenakan seragam operasi.


Suster itu meminta Daniel untuk berbaring dan mulai memasang selang untuk proses transfusi darah langsung. Tidak ada waktu untuk Meyrin menunggu.


Setelah proses transfusi darah berlangsung, para suster mulai menyiapkan peralatan untuk operasi. Setidaknya racun itu harus dikeluarkan dari dalam tubuh Meyrin jika tidak ingin menyebar. Memang racunnya tidak terlalu berbahaya, tapi tetap saja namanya racun bisa mempunyai efek samping lainnya.


Tadi sembari melakukan pertolongan pertama, pisau yang menjadi objek penusukan pada pinggang Meyrin dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi jenis racunnya dan menemukan obat penawar yang cocok.


Daniel yang diambil darahnya di kedua tangan mulai memejamkan matanya. Dia tidak bisa melihat keadaan anaknya yang kritis itu. Kalau dulu ada Bella dan Meyrin yang menenangkannya, tidak untuk sekarang.


Daniel membuka matanya kembali saat mendengar sebuah alarm. Sebuah bunyi tanda peringatan dari monitor terdengar. Semua tim medis menatap pada layar monitor yang terus berbunyi.


"Dokter, tekanan darahnya menurun," ucap sang suster.


Dokter bedah yang bertugas langsung melakukan tindakan medis lainnya guna menaikkan tekanan darah Meyrin. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh. Daniel berdo'a dalam hati agar sang putri baik-baik saja. Dia berharap Indah dan Bella dapat membantu Meyrin kembali ke dunia.


Putri sulungnya itu masih terlalu belia untuk meninggalkan dunia ini. Dia belum bisa menjadi ayah yang baik untuk Meyrin. Terlalu banyak beban yang Daniel berikan pada Meyrin, hingga fokus Meyrin hanya pada kebahagiaan sang ayah dan keamanan keluarga Arlington.

__ADS_1


Dokter masih terus berusaha. Berbagai obat untuk menaikkan tekanan darah sudah diberikan tapi tidak ada perubahan. Bunyi seperti alarm pada monitor masih terus terdengar.


Bukannya membaik, kondisi Meyrin justru semakin kritis. Garis yang awalnya seperti bukit naik dan turun sekarang berubah menjadi lurus. Garis datar itu terlihat sangat jelas di layar monitor dengan suara mendengung tanpa nada sama sekali.


Daniel menolehkan kepalanya ke samping. Dia tidak percaya ini. Sang ayah tidak percaya dengan garis itu. Daniel tidak ingin melihat garis itu lagi untuk kedua kali dalam hidupnya. Garis itu menandakan bahwa kondisi jantung Meyrin berhenti untuk berdetak.


"Meyrin! Jangan bercanda dengan Ayah, Nak!" teriak Daniel.


"Tuan, tenanglah! Dokter akan melakukan yang terbaik untuk putri Anda." Suster yang menjaga jalannya transfusi itu menenangkan Daniel.


Dokter langsung meminta defibrillator pada suster. Defibrillator sendiri merupakan alat kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung yang abnormal menjadi normal lagi.


Dokter saling menggosokkan dua permukaan dari alat tersebut dan meletakkannya pada dada Meyrin. Tubuh putri sulung keluarga Arlington itu terlonjak ke atas lalu kemudian kembali berbaring di brankarnya. Tindakan itu dilakukan berkali-kali hingga detak jantung Meyrin kembali normal.


Akhirnya setelah empat kali melakukan kejut pada jantung Meyrin, suara dengungan pada layar monitor tidak terdengar lagi. Para dokter menatap satu-satunya layar yang ada di ruangan itu. Helaan napas panjang terdengar saat semua data di layar itu menunjukkan angka normal.


Para dokter kembali melanjutkan operasi mengeluarkan racun itu dan setelahnya memberikan obat penawarnya.


Ketika Meyrin sedang berjuang di antara hidup dan matinya, berbeda dengan William yang sedang bermanja ria pada sang istri.


"Sayang, kamu ingin meminta apa?" tanya William lagi saat tadi tidak mendapatkan jawaban dari sang istri.


"Lupakan aku, Sayang."


"Tidak! Aku tidak akan pernah melupakanmu hingga ajal menjemputku," bantah William tanpa perlu berpikir.


Laras terdiam saat mendengar jawaban William yang begitu tegas tanpa keraguan sama sekali. Wanita itu menatap pantulannya di cermin yang saat ini sedang duduk di pangkuan sang suami. Mereka terlihat begitu serasi dan romantis.


Laras menepis tangan William yang mulai nakal. Tangan suaminya yang awalnya berada di atas paha sang istri, perlahan namun pasti mulai masuk ke dalam dress. Dress putih yang tersingkap membuat tangan William begitu mudah masuk tanpa hambatan.


"William, aku serius nih," ujar Laras sembari menggembungkan pipinya kesal.


"Hahaha … kamu menggemaskan, Sayang." William langsung mencuri cium pada bibir sang istri yang selalu menjadi candunya.

__ADS_1


"Sayang, aku hanya memintamu untuk melupakanku dan terima cinta Meyrin. Terima semua kekurangannya di masa lalu seperti dia menerima paranoid-mu," pinta Laras.


"Aku akan berusaha menerima Meyrin, tapi aku tidak janji untuk melupakanmu, Sayang. Oya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." William menjawab permintaan sang istri sambil mencium pipi gemas Laras, bahkan sesekali pria itu menggigit pipi gembul istri tercintanya.


"Ada apa?" tanya Laras.


William mulai menampilkan wajah seriusnya. "Aku minta maaf untuk tiga tahun yang lalu saat di kantor. Aku tidak bermaksud untuk mencelakai keluargamu. Itu semua hanya omong kosong belaka, ak—"


"Tidak perlu dilanjut lagi. Aku sudah tahu kebenarannya kok. Maka dari itu, aku memintamu untuk menerima Meyrin dan melupakanku."


"Jawabanku tetap sama dan tidak akan berubah."


"I love you, Sayang," bisik Laras di telinga William.


"I love you too, my wife." William mencium dahi Laras dengan penuh cinta.


Setelahnya William membawa tubuh mungil sang istri ke dalam pelukan hangatnya. Mereka berdua saling merengkuh, berpelukan, menikmati debaran jantung masing-masing. Debaran itu masih tetap sama seperti tiga tahun yang lalu.


William adalah orang yang sama seperti di masa lalu, begitu juga dengan sosok Laras. Akan tetapi, mereka berdua hidup tidak untuk masa lalu, melainkan untuk masa depan yang lebih baik lagi. William memejamkan kedua matanya, mencium aroma jasmine yang selalu dia rindukan.


"Tuan? Tuan William!" hardik Rama.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2