OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 139 WEDDING DAY EMILY DAN ALEX (S2)


__ADS_3

"Ih, Kak Laras jangan nangis dong," pinta Emily panik saat Laras masih tetap menangis.


"Kakak maunya gitu, tapi ini nggak mau berhenti loh," jawab Laras sambil tetap menangis.


"Hei, Baby Al, sudah dong berhenti nangisnya. Onty tadi hanya bercanda kok. Mommy-mu adalah yang terbaik buat Onty. Jadi, berhenti membuat Mommy Laras menangis yah, Sayang," ujar Emily sambil mengelus-elus perut buncit Laras yang sudah memasuki usia kandungan jalan delapan bulan.


Sebuah tendangan menjadi jawaban dari permintaan Emily. Emily tersenyum senang saat keponakannya itu seolah mengerti apa yang diucapkan Onty nya. Tak lama kemudian, William masuk ke dalam ruangan sendirian. Emily menatap William dan meminta bantuan untuk menghentikan tangisan sang Kakak.


'Dia kumat lagi, 'kan?' batin William saat melihat Laras yang emosinya memang suka berubah-ubah.


"Mommy, berhentilah menangis. Daddy harus mengantar Emily ke altar," ujar William yang langsung membuat Laras menghentikan tangisannya.


"Mommy tunggu di depan, Dad."


Setelah itu Laras ke luar dari ruangan pengantin, meninggalkan pengantin wanita dengan walinya. Emily menundukkan kepalanya saat bertatapan dengan William. Walaupun beberapa hari yang lalu dirinya sudah meminta maaf pada Kakak iparnya.


Emily sempat menyalahkan William karena memergoki dirinya dan Alex. Tapi, setelah mengetahui bahwa William lah yang mati-matian membela hubungan dirinya dan Alex dari Ken, dia merasa bersalah.


"Emily Arlington, walaupun aku bukan Ayah, tapi izinkan aku untuk menjadi sosok Ayah buatmu. Jangan sungkan padaku dan tetap patuh pada Laras. Kita hanya ingin kamu bahagia bersama dengan Alex. Jadilah istri yang baik untuk Alex. Jaga kehormatannya sebagai seorang suami," ujar William menatap Emily dengan tatapan teduhnya.


"Iya, Kak."


"Jadi, bisa kita ke altar sekarang?" tanya William menyodorkan tangannya seperti mengajak seorang putri kerajaan.


"Gimana kalau aku melakukan kesalahan dan mempermalukan Kakak dan Kakak ipar?" tanya Emily saling gugupnya.


"Anggap saja kamu sedang berjalan di catwalk, Lily. Toh, ada aku yang akan berjalan di sampingmu dan mengantarmu dengan selamat sampai altar," jawab William.


"Tapi, aku benar-benar takut, Kak." Emily cemas sampai tidak sadar bahwa dia mencengkeram lengan Kakak iparnya.


"Mau ke altar aja takut, bagaimana nanti pas malam pertama? Ayo kita keluar sekarang, kasihan Alex menunggu terlalu lama." William mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Adik iparnya itu.


"Ih, pikiranmu itu loh Kak ke sana mulu. Pantas saja Kak Laras cepat buntingnya," sungut Emily kesal.


"Itu tandanya bibit Plowden manjur, sekali tembak langsung goal." William membanggakan dirinya sendiri yang langsung mendapat pukulan di lengannya.

__ADS_1


"Kakak ipar nyebelin," kesal Emily yang langsung keluar dari ruangan.


"Hah~ akhirnya tuh bocah keluar juga. Umur boleh sama kayak Laras, tapi tingkahnya beda jauh," ujar William saat melihat Emily keluar dengan mengangkat wedding dress nya.


Acara pengucapan janji suci serta pesta pernikahan Emily dan Alex berjalan dengan lancar. Emily dan Alex langsung menuju kamar pengantin mereka. Sedangkan William dan Laras masih menemani dan menjamu para kolega keduanya. Ken sendiri ikut bergabung bersama mereka berdua.


Semua tampak aman dan damai. Tidak ada yang namanya pertempuran lagi. Bahkan, saat di pesta tadi Rizzo datang dan mengucapkan selamat pada Emily dan Alex. Pemimpin mafia Giovanni itu juga sempat berbincang dengan Laras dan William.


William yang sudah mengetahui masa lalu hubungan Rizzo dan istrinya itu memberi jarak. Kebanyakan William lah yang menjawab pertanyaan Rizzo. Walaupun itu pertanyaan yang butuh jawaban langsung dari Laras, tapi William mencegahnya.


Rasa protektif pemimpin kerajaan bisnis nomor satu di Lunar City itu sangat besar. William tidak ingin siapa pun melirik istrinya. Apalagi Rizzo jelas-jelas memendam rasa untuk sang istri tercintanya.


"Daddy, Mommy capek," bisik Laras saat dirinya merasakan kram di bagian kaki.


"Biar Daddy antar ke kamar yah. Ken, bisa gantikan aku?" tanya William yang saat itu Ken bergabung dengan mereka juga.


"Pergilah, Will. Laras butuh istirahat, lihatlah kakinya sudah bengkak begitu," ujar Ken.


"Oke."


Setelahnya William menggendong Laras ala bridal style menuju kamar mereka. Memang pesta pernikahan Emily tidak dirayakan di tempat yang mewah karena itu kemauan dari kedua mempelai. Maka dari itu, Laras memilih untuk merayakannya di halaman belakang mansion Arlington yang sangat luas.


Itu adalah rutinitas yang William lakukan saat setelah usia kandungan sang Istri jalan lima bulan. Semakin tua usia kandungan Laras, wanita itu semakin manja pada William. Bahkan, wanita itu akan menangis saat ditinggal kerja oleh suaminya.


Alhasil William mengambil cuti ke kantor dan menyerahkan semuanya pada Rama dan Lea. Sedangkan Ken mulai sibuk dengan perusahaannya sendiri.


"Sekarang tidurlah, Mommy." William membantu Laras merebahkan tubuhnya. Dia juga menarik bed cover hingga sebatas leher istri tercintanya.


"Daddy, temani~" rengek Laras saat mengetahui sang suami akan pergi.


"Baiklah. Daddy harus ganti baju dulu. Mommy tidurlah lebih dulu," ujar William lalu mencium kening Laras.


"Tidak. Mommy maunya tidur sambil dipeluk Daddy," rengek Laras dengan air mata yang mulai menganak sungai di pelupuk matanya.


William menyerah. Dia paling lemah jika sang istri sudah merengek seperti anak bayi begitu. "Baiklah, Daddy buka jas dan kemeja ini dulu yah?"

__ADS_1


"Buka di sini saja dan jangan bergerak seinchi pun," pinta Laras dengan tegas.


"Baiklah, Mommy menang. Daddy yang kalah."


William akhirnya membuka jas dan kemejanya di posisi awalnya hingga topless. Laras menatap William dengan pandangan menggoda.


"Jangan menatap Daddy seperti itu jika tidak ingin di makan," ancam William.


"Mommy ingin makan Daddy. Dada bidang Daddy benar-benar menggoda," ujar Laras sambil menjilat bibir atasnya.


Dan akhirnya sepasang pengantin lama itu kembali melakukan malam panas. Ternyata mereka tidak mau kalah dengan pengantin baru.


****************


Pagi menjelang, kediaman Arlington begitu ramai. Hanya saja, kali ini William tidak mengizinkan Laras untuk memasak. Maka dari itu, dia menyuruh koki Arlington untuk menyiapkan menu sarapan pagi mereka.


Para keempat jendral Arlington sudah berkumpul begitu juga dengan para tangan kanan. Hanya saja, untuk posisi duduk para tangan kanan ada tempatnya sendiri.


"Saya berani bertaruh, Nona Emily tidak akan keluar hingga nanti siang," ujar Aite.


"Jangankan nanti siang, sampai malam mungkin, kejar setoran," timpal Joker.


"Memang mulut para jendralku kalau sudah membahas hal beginian pasti nomor satu," sindir Laras.


"Eh, itu dia pengantin baru kita. Sepertinya ada yang kalah bertaruh," sindir King.


"Sialan!" umpat Aite saat melihat Emily dan Alex berjalan mendekati meja makan.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2