OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 111 HUTANG DI MASA LALU (S2)


__ADS_3

Seseorang bersembunyi di balik tembok saat William menyadari kehadirannya. Orang itu sedikit mengintip ke arah William yang sudah menghilang. Orang itu kembali melanjutkan langkah kakinya.


Ceklek!


"Sudah datang?" sapa Daniel yang saat ini sedang menikmati pemandangan London dari jendela kamarnya.


Pria itu mendekat dan duduk di samping Daniel. Dia menuangkan wine ke gelas kosong yang lainnya, lalu meminta untuk bersulang dengan seorang Daniel Arlington.


"Apa Paman sudah memikirkannya? Secara ini adalah hari pernikahan putri sulungmu," Pria itu menatap pemandangan yang sama.


"Lebih cepat lebih baik, bukannya begitu, Steve Arlington?" Daniel menatap orang di sampingnya.


"Apa Paman ingin membunuhku? Kenapa tidak menyuruh Ken untuk keluar dari tempatnya bersembunyi?" Steve menyeringai saat ada sang tangan kanan sekaligus cyber dari Arlington.


Ken tersentak kaget saat Steve menyadari keberadaannya. Dia menatap Daniel yang memberikan kode untuknya keluar.


"Hallo sepupu mudaku," sapa Steve pada Ken tanpa menatap ke arahnya.


"Hn." Jawaban khas seorang Ken, cuek dan tak peduli.


"Jadi, apa Paman akan membunuhku?" tanya Steve lagi.


"Tidak. Pamanmu ini sudah tua, sudah waktunya pensiun. Paman serahkan Arlington pada Laras dan kalian jaga dia."


"Bagaimana kalau aku menolak? Aku datang ke sini tidak untuk berunding loh, Paman."


Ken mulai mengepalkan tangannya saat mendengar semua ocehan Steve Arlington. Dia tidak menyangka bahwa pemimpin dari gangster kapak putih adalah Steve Arlington, masih dapat dibilang kerabat dekat Laras.


"Sesuai dengan kesepakatan di awal, Steve. Paman ingin kamu menepati janjimu setelah Paman menepati janji juga. Itulah gunanya Ken Lian Arlington berada di sini. Dia yang akan menjadi saksi pelunasan hutang di masa lalu." Daniel menolehkan kepalanya ke samping.


Ken yang menyadarinya berjalan mendekati mereka berdua. Di tangannya terdapat secarik kertas perjanjian antara Daniel dan Steve. Ken menyerahkannya pada Steve untuk dibaca karena sang Paman sudah bertanda tangan. Steve tersenyum lalu menandatangani kertas itu dengan darahnya. 


"Aku tidak akan membantu mafia Arlington jika sepupu cantikku itu tidak minta tolong. Lalu, jika kalian bertindak maka pertempuran tidak bisa dihalangi lagi. So Ken, tugasmu untuk memberikan pengertian pada Laras," ujar Steve.


"Keluarkan senjatamu, Steve!"


Daniel beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke tengah ruangan. Ditatapnya Steve yang sedang mengeluarkan pistolnya dan berjalan menuju Daniel. Mereka berdua saling bertatapan, terlihat Daniel menatap sepupunya dengan sayang.


"Lakukan, Steve!" perintah Daniel begitu tegas.

__ADS_1


Ken memalingkan wajahnya. Air matanya sudah mengalir, tidak berdaya dengan keputusan sang Paman. Kenangan saat dirinya berjuang bersama sang Paman di medan pertempuran, serta kemarahan Daniel berputar di benak sang idol bagai kaset yang rusak.


"Paman, jika nanti bertemu dengan Daddy, tolong sampaikan bahwa aku sudah menyelesaikan balas dendamnya. Bahwa aku telah menerapkan jalan hidup dari Arlington. Apa yang diambil dari Arlington, maka Arlington akan mengambilnya kembali, begitu juga dengan nyawa," ujar Steve menatap Daniel begitu tajam.


"Pasti, Steve. Genggam terus jalan hidup dari seorang Arlington seperti yang Ayahmu ajarkan. Sekarang sudah waktunya pamanmu ini pensiun. Biarkan Paman membayar kesalahan di masa lalu dengan nyawa Paman sendiri. Kalian yang muda, teruslah hidup dengan penuh kedamaian." Daniel tersenyum pada Steve.


"Ken, tolong jaga Emily untuk Paman. Jaga Arlington juga dan buat Laras memahami pilihan pamanmu ini. Kemarilah, Ken!" Daniel menatap pada Ken untuk mendekat.


Steve mengerutkan keningnya saat Daniel memasukkan tangannya di saku celana yang dia kenakan. Saat Daniel hendak mengeluarkan sesuatu dan Ken mendekat, saat itulah Steve menembakkan pelurunya tepat mengenai tangan Daniel.


"Brengsek!" umpat Ken dan mulai mengarahkan pistolnya pada Steve.


"Ken!" bentak Daniel sambil memegang tangannya yang berlubang. Darah segar keluar dari luka tembak itu, menetes ke lantai begitu saja.


"Steve! Paman selalu menepati janji! Jangan bunuh Ken atau bertindak diluar perjanjian! Ken, ambil surat ini dan serahkan pada Laras! Paman sudah menceritakan dan menjelaskan semuanya di dalam amplop itu seandainya kamu tidak bisa menenangkan Laras." Tatapan Daniel benar-benar membuat Steve bergidik ngeri dan mundur satu langkah.


Ken memungut surat itu yang amplopnya sudah berlumuran darah Daniel. Tangan yang bergetar membuat Ken berjongkok setelah menerima surat itu. Dia menangis, kenangan bersama sang Paman sejak kecil hingga detik ini berputar.


"Steve! Setelah membunuh Paman, pastikan kamu kabur melewati jendela seperti arahan Paman." Daniel menatap Steve yang hanya menganggukkan kepalanya.


"Ingat Steve! Satu peluru tidak akan mempan ditubuh pamanmu ini! Lakukan tiga kali kalau perlu lima kali tembakan. Lakukan tugasmu sebagai Arlington! Balasan dendam ayahmu pada Paman, Nak!"


Tiba-tiba Daniel teringat saat dirinya mendapatkan informasi tentang pemimpin gangster kapak putih dari David, tangan kanannya di New York. Saat itulah dia menerima telepon dari Steve Arlington hingga terbentuk sebuah kesepakatan perdamaian.


"Steve!" panggil Daniel saat Steve masih berpikir dan ragu. Daniel terus mendesak dan mulai mengatakan sesuatu hal jahat tentang dirinya dan Ayah Steve.


"Diamlah, Paman!" bentak Steve yang tampa sadar melesakkan dua peluru tepat di jantung Daniel.


Saat itu Daniel langsung ambruk ke lantai. Napasnya mulai terlihat tak beraturan, bahkan dia sesekali terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Ken langsung berlari menuju pamannya.


"Pamaaan!" teriak Ken begitu pilu.


Steve terkejut dan bibirnya bergetar. Dia tidak menyangka bahwa orang pertama yang dia bunuh adalah pamannya sendiri. Steve walaupun seorang pemimpin organisasi gelap, tapi tangannya masih bersih. Dia menyerahkan tugas membunuh pada anak buahnya, sedangkan dia bermain licik menggunakan otaknya.


Dia berjalan mendekati Daniel yang tampak tak berdaya lagi. "Pa-pa-paman," panggil Steve tak percaya.


"Steve, kamu anak ba-baik uhuk … hah …." Daniel batuk darah.


Tampak napas Daniel mulai terlihat satu-satu saat paru-parunya kekurangan oksigen. Ken menangis dalam diam melihat Daniel yang sekarat seperti ini. Sebenarnya Ken bisa langsung memanggil para jendral Arlington, tapi Daniel melarangnya. Daniel sudah memutuskan untuk meninggal di tangan Steve Arlington, anak dari pamannya Daniel Arlington.

__ADS_1


"Pergilah!" usir Ken dengan nada lirih pada Steve yang berada di sampingnya.


"Bagaimana dengan Paman?" tanya Steve yang juga ikut menangis dalam diam walaupun tidak separah Ken.


"Pergilah! Jangan tampakkan wajahmu dihadapanku! Dadaku penuh dengan api kemarahan. Rasa balas dendamku menggebu-gebu. Tolong pergilah STEVE ARLINGTON!" ucap Ken dengan bentakan di akhir kalimatnya.


Steve langsung berlari ke luar jendela, di sana sudah ada sebuah helikopternya, menunggu Steve untuk naik. Ditatapnya lagi sosok sang Paman untuk terakhir kalinya.


"Selamat jalan, Paman. Aku tidak membenci, Paman. Sampai berjumpa dengan Daddyku," gumam Steve lirih lalu naik ke tangga tali yang diturunkan dari helikopter.


Sedangkan di kamar, Ken menangis dalam diamnya. Air mata tidak bisa dia bendung lagi. Perlahan tangan tubuh Daniel mulai melemah dan terasa dingin.


"Ken, berhentilah uhuk … uhuk … mena … menangis, uhuk … uhuk …."


Daniel memaksa untuk berbicara walaupun dirinya selalu terbatuk dan mengeluarkan darah semakin banyak dari mulutnya. Sedangkan dadanya yang berlubang terus saja mengeluarkan darah tanpa henti.


"Berjanjilah padah Paman, Ken."


"Iya, Ken berjanji Paman. Ken berjanji akan menepati semuanya. Ken akan menjaga perdamaian ini. Ken akan menjaga Emily. Ken tidak akan balas dendam. Ken juga akan menjaga Arlington. Ken juga tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Paman," ucap Ken dengan suara seraknya yang masih menangis.


"Terima kasih, Ken."


Saat itulah tangan Daniel langsung melemah dan terkulai tak berdaya. Ken semakin menangis, dia rengkuh tubuh pamannya, tidak peduli jika seluruh tubuhnya bersimbah darah.


"Paman, bangunlah!" ujar Ken berusaha membangunkan Daniel walaupun dirinya sadar itu percuma saja.


"Astaga!"


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2