
Berto yang menyadari lokasinya mulai terlacak oleh Ken, segera memanipulasi letak posisinya dengan meng-hack ponsel sang tangan kanan mafia Arlington.
Brak!
Dua orang baru saja menerobos masuk. Mereka adalah pasukan dari pihak Meyrin. Melihat kehadiran pihak musuh, anggota sniper mulai menembak tanpa henti hingga dua orang itu tewas dalam hitungan detik.
Tanpa pihak Rizzo sadari, salah satu dari mereka berhasil menekan tombol on pada ponselnya sebelum nyawanya melayang.
Rizzo tersenyum miring saat waktu 30 menit telah terlewati. Rizzo mendekati William yang posisinya masih sama seperti pertama tiba di pulau Poveglia. Terikat di kursi kayu dengan darah di kening sebelah kanannya yang sudah mengering. Mulutnya sudah di lakban agar tidak memberikan petunjuk keberadaan dirinya kepada Meyrin.
****************
Dor! Dor!
Dua tembakan terdengar dari sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat Meyrin dan pasukan berada.
"Mey! Terlacak! Seluruh pasukan bergerak ke lantai dua bangunan rumah sakit!" seru Ken melalui earpiece-nya.
"Jack, apa jaraknya sudah dekat?" tanya Meyrin memastikan.
"Dua ruangan di depanmu. Rizzo, Berto dan William ada di sana. Di dalam aku tidak bisa memastikan tapi sudah pasti orang-orang terbaik yang dimiliki oleh Rizzo."
Meyrin langsung berjalan perlahan menuju tempat yang dimaksud oleh Ken. Gerakan yang begitu lembut agar musuh tidak curiga bahwa keberadaannya telah diketahui. Meyrin, Lea dan Aite berjalan mendekati sisi pintu, sedangkan pasukan yang lainnya menjauh.
Meyrin menatap Aite yang berada di sisi kanannya. Meyrin menggunakan bahasa isyarat untuk menyerbu ke dalam. Paham dengan yang dimaksud bos kecilnya itu, Aite menganggukkan kepalanya.
Bersama dengan pistol di tangan kanannya, tangan kiri Meyrin mulai menghitung. Hitungan ketiga, dia dan Aite menendang pintu itu lalu melemparkan sebuah bom kecil. Semua pasukan mulai tiarap.
Duuaar!
Ledakan dalam skala kecil tapi mampu membuat semua yang ada di ruangan hancur. Pasukan Meyrin dalam posisi siap tempur dengan segala jenis senjata. Saat kepulan asap dari ledakan itu mulai menghilang, Meyrin, Aite dan Lea menerobos masuk begitu juga dengan pasukan yang tersisa.
"Sialan! Ken mereka sudah kabur. Lacak lagi!" kesal Meyrin.
Wanita itu menatap ke sekeliling ruangan. Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi yang hancur gara-gara bom tadi. Terlihat jelas bahwa mereka baru saja kabur.
__ADS_1
"Semua berpencar! Cari Rizzo dan bawahannya sampai dapat. Mereka tidak jauh dari lantai ini dan tetap hati-hati terhadap serangan dadakan!" ucap Meyrin dengan lantangnya yang langsung disambut teriakan semangat dari pasukan.
Dor!
Brak!
Semua terkejut saat mendengar suara gaduh dan tembakan yang tidak jauh dari mereka. Meyrin dan pasukan langsung menuju sumber suara dengan senjata masing-masing. Meyrin menghentikan langkah kakinya saat mereka tiba di pertigaan koridor.
"Brengsek!" teriak seseorang.
Saat itu juga, Meyrin mengambil arah ke kanan, melangkah lebih jauh menuju lorong gelap itu. Kegaduhan itu semakin terdengar jelas saat Meyrin tiba di depan sebuah ruangan yang cukup besar. Tanpa banyak bicara, dia menendang pintu tersebut.
Kedua matanya membulat sempurna saat melihat keadaan di dalam ruangan tersebut. Amarah Meyrin langsung memuncak saat melihat Rizzo sedang menggoreskan sebuah pisau di lengan William. Sedangkan William sendiri, mulutnya sedang tertutup oleh lakban.
"Brengsek! Apa yang kamu lakukan pada William?" teriak Meyrin dengan penuh kebencian pada Rizzo.
"Kamu telat selama delapan menit, itu artinya delapan goresan sudah aku lukis di tubuh William. Aah, ini menit kesembilan itu artinya …."
Crash!
"Lihatlah Will, ini dia sosok kekasihmu yang sesungguhnya. Dia adalah pemimpin dari organisasi mafia. Wanita yang kamu cintai tidak jauh berbeda dengan diriku. Banyak orang tak bersalah meninggal karena perintahnya. Tangan dia sudah kotor dengan lumuran darah. Apa kamu masih menerima dirinya yang seperti itu?" Rizzo menatap William dan Meyrin yang hanya diam saja.
Meyrin menurunkan senjatanya dan menundukkan kepala. Padahal tanpa Rizzo mengungkapkan faktanya, wanita itu sadar diri. Meyrin sangat sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk dicintai kedua kalinya oleh William. Meyrin ingin menulikan indera pendengarannya, tapi dia juga penasaran akan jawaban William.
"AWAS MEYRIN!"
Mendengar teriakan dari William, Meyrin segera mendongakkan kepalanya. Sayangnya, itu sudah terlambat. Sebuah tendangan menyamping diberikan Rizzo dan itu tepat sasaran. Tubuh Meyrin sampai harus mundur beberapa langkah, beruntungnya ada Lea dan Aite yang menahan dari belakang.
Meyrin sedikit meringis saat merasakan luka akibat operasi itu berdenyut. Sepertinya luka itu kembali terbuka. Napas Meyrin tersengal-sengal akibat tendangan yang diterimanya. Melihat bosnya terkena serangan para pasukan mulai maju menyerang begitu juga Aite.
Seluruh pasukan Rizzo juga menyerang dengan pisau bahkan ada yang hanya tangan kosong. Pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Di tengah pertempuran itu, ada sepasang mata yang menatap Meyrin dengan pandangan yang sulit diartikan.
Lea menyerahkan sebuah pil kepada Meyrin yang langsung ditelan sekaligus oleh nona mudanya. Meyrin mencoba mengatur napasnya dan mengabaikan tatapan William. Dia sudah menyiapkan mental jauh-jauh hari jika fakta itu terkuak di depan William. Dia tidak akan mundur dan menyesal, semua sudah ditakdirkan untuk tidak bersama.
Fokus Meyrin saat ini hanya mengalahkan Rizzo dan menyelamatkan William. Saat rasa sakit itu sudah menghilang karena efek dari obat yang ditelannya, Meyrin bersiap maju ke depan. Lea berada di sampingnya, membuka jalan bagi nona mudanya.
__ADS_1
Rizzo mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas saat melihat pinggang Meyrin. Seperti yang dikatakan Berto, tangan kanannya, Meyrin terluka pada pinggang dan itu akan menjadi sasaran empuk Rizzo.
Meyrin yang menyadari tatapan Rizzo sudah tahu kemana arah serangan selanjutnya. Rizzo secepat kilat mengeluarkan pistolnya dan menembakkannya ke arah Meyrin. Wanita itu langsung menyadarinya dan menghindar dengan mengelaknya.
Saat Lea menghadapi dua orang sekaligus, saat itu seseorang menyerang Meyrin dari belakang. Secepat kilat Meyrin membalikkan badannya dan menembakkan dua peluru yang sukses mengenai jantung si penyerang.
"Hahaha … lihat William! Dialah sosok Meyrin yang sesungguhnya. Dia bukan wanita baik-baik seperti mantan istrimu. Apa kamu masih mencintai wanita pembunuh itu? Dia membunuh tanpa peduli siapa yang menunggu orang itu." tanya Rizzo dengan nada menghasut.
Meyrin menarik pelatuk pistolnya dan berbalik. Tanpa peringatan apapun, Meyrin menembakkan pelurunya ke arah Rizzo. Dia sudah bertekad untuk menulikan semua ocehan Rizzo dan mengabaikan jawaban apapun dari William.
Desingan dua peluru yang saling berbenturan antara milik Meyrin maupun Rizzo terdengar. Bahkan, beberapa peluru terkena pada bawahan keduanya. Peluru salah sasaranpun tak jarang terjadi. Meyrin dan Rizzo saling menghindar dari tembakan lawan.
Hingga Ken datang dari arah samping bersama Alex. Tim bantuan datang dan ikut dalam pertempuran. Tak lama setelah itu tim klan Naga Langit juga datang.
"Paman Nikolai, majulah ke depan dan selamatkan William. Setelah itu, bawa dia ke helikopter untuk mendapatkan pertolongan pertama. Salah satu di tim kami punya seorang dokter jika Paman lupa membawanya."
"Kamu bagaimana?"
"Aku akan di sini bersama Jack membereskan Rizzo. Terlepas masalah Rizzo, biar mafia Arlington yang mengurusnya. Klan Naga Langit bisa kembali lebih dulu ke Venesia," ujar Meyrin melalui earpiece-nya yang tersambung dengan Nikolai.
"Baiklah. Jaga diri baik-baik. Pulanglah dengan selamat."
Setelah mengucapkan itu, Nikolai beserta pasukannya maju ke depan untuk menyelamatkan William. Sedangkan Meyrin membantu Nikolai untuk menerobos maju ke depan.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1